
5 TAHUN KEMUDIAN
*****
"Waahh... Chikaaa... selamat ya..." Ujar Mala yang bergegas memeluk Chika setelah ijab kobul.
"Congrats, ya Chik-Chik." Ucap Jingga sambil memeluk dan menepuk pundaknya.
"Akhirnya setelah sekian purnama, seorang Chika melepas status jomblo juga. Hahaha..." Sahut Nabila.
"Teruss aja ledek. Gue aduin sama suami gue nanti." Ujarnya sambil mencibik.
"Yee... belagu. Mentang-mentang udah punya suami, ngaduaann..." Ledek Jingga.
"Huuaa... jahaatt..." Ujarnya sambil menepuk pundak Jingga.
"Mal, Daffa gak ikut?" Tanya Chika.
"Ikut kok. Para Bapak mah kan ngumpulnya di luar sama laki lo. Hahaha..." Ucap Mala meledek.
Intermezzo
Mala saat ini sudah menikah dengan Daffa. Awalnya ia memang dekat dengan Tariq. Namun, karena Tariq melanjutkan kuliah di luar Negeri, mereka pun hilang kontak. Tariq yang kembali ke Indonesia, ketika datang ke acara reunian akbar SMA Merah Putih, sudah menggandeng seorang istri.
Lalu, penantian Mala sia-sia?
Tidak !!
Mala tidak menanti Tariq dan begitu sebaliknya. Meski Mala punya kisah dan pernah menaruh hati kepada Tariq.
Yang saat itu, masuklah Daffa dalam hidup Mala. Kakak kelas yang dulu sempat di gosipkan dekat dengan Chika, namun nyatanya, begini.
Daffa yang sudah mengenal Mala sejak SMA, tau betul karakter Mala. Tanpa basa-basi ia langsung meminta Mala untuk menjadi partner hidupnya.
Mala meng-iyakan, karena buatnya, Daffa itu sosok yang mempunyai aura ke bapak'an. Karena Ayah Mala pergi meninggalkannya dan ibunya sejak Mala kecil.
Ini salah satu alasan Mala kenapa ia begitu sulit mempercayai seorang laki-laki. Saat Daffa mendekatinya, entah mengapa, Mala begitu mudah mempercayainya.
Daffa tidak ingin berpacaran. Karena menurutnya sudah bukan umur mereka untuk berpacaran. So, se-gentle Daffa, ia langsung bertandang ke rumah Mala bersama kedua orangtuanya untuk melamar Mala menjadi istrinya.
Kejadiannya cukup cepat. Akad nikah yang berlangsung sakral. Keluarga yang datang saat acara akad dan resepsi.
Masuk penghujung resepsi, Mala merasa letih. Karena tamu yang datang cukup banyak. Daffa yang mengerti sekali kondisi Mala hanya mengelus lembut punggung Mala.
Tak heran banyak sanak keluarga datang karena keluarga Daffa adalah salah satu keluarga yang cukup berpengaruh untuk perkembangan bisnis di Indonesia.
Hingga saat ini, mereka sudah di karuniai dua orang anak kembar laki-laki. Yang usianya sudah memasuki SD.
Intermezzo close
Acara resepsi pernikahan Chika dan Bimo begitu meriah. Kalau ingat kembali perjuangan mereka untuk bersatu. Pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran yang membuat mereka harus berjarak selama bertahun-tahun. Hingga Allah berkata, bersatu, maka di manapun tempat dan waktunya mereka akan bersatu.
"Mas, ini tamu yang di undangan sama aslinya kok beda ya?" Tanya Chika yang sudah pegal karena duduk dan berdiri sejak tadi.
"Beda maksudnya?" Tanya Bimo bingung.
"Yang di undang cuma kepala keluarga sama istrinya. Tapi datengnya bareng sama anak buah." Ujar Chika yang membuat Bimo tertawa geli.
"Yeee... malah ketawa." Ucap Chika kembali sambil mencibikkan bibirnya.
"Aku lelah... huft.." Ujar Chika yang memijit keningnya karena merasa pening.
"Perut aku sakit, pinggang panas, Ya Allah..." Ucap Chika yang meremas tangan Bimo.
"Kamu haid hari keberapa, dek?" Tanya Bimo.
"Ke tiga. Lagi mengalir deras luar biasa ini, Mas." Jawab Chika sambil berdiri karena ada tamu yang datang untuk bersalaman.
"Nanti pas ganti baju, istirahat dulu aja." Ujar Bimo yang sambil memijat pinggang Chika.
"Iya. Tidur aja sampe besok boleh kali." Ucapnya yang mengundang Bimo mencubit pipi Chika.
Bimo itu orangnya paling irit ngomong. Sedangkan Chika paling boros ngomongnya. Tuhan itu adil. 😁
Acara resepsi Chika dan Bimo berlangsung meriah. Riuh ramai diwarnai oleh canda tawa teman-temannya.
*****
2 MINGGU SETELAH RESEPSI
Setelah Bimo pulang dari perjalanan bisnisnya, ia dan Chika langsung terbang ke Lombok untuk honeymoonnya.
Di dalam pesawat, Chika langsung bersandar pada sang suami. Bimo yang berada di sebelahnya mengelus lembut pipi Chika.
Chika yang mendongakkan kepalanya dan melihat Bimo membuat Bimo bertanya-tanya.
"Kenapa, sayang?" Tanya Bimo bingung karena tatapan Chika.
"Dipanggil sayang... melayang deh aku. Hahaha..." Ucap Chika sambil tertawa.
"Hahaha... kamu tuh. Bisaaa... aja." Ujar Bimo yang mencubit hidung Chika.
__ADS_1
"Aku masih gak percaya, yang ada di hadapanku itu kamu, Mas." Ucap Chika sambil menopangkan dagunya pada tangannya dan menghadap ke Bimo.
Bimo langsung mengecup bibir Chika tanpa permisi. Membuat yang empunya bibir terkejut bukan kepalang.
"Mas, Ya Allah. Kamu tuh, masih aja seneng bikin aku jantungan ya?!" Ujar Chika yang mengelap bibirnya dengan telapak tangan.
"Kok di lap?" Ucap Bimo yang kemudian mencium kembali bibir Chika cukup dalam dan lama. Hingga Chika menepuk-nepuk pundak Bimo.
"Mas, Bimo ! Ini di pesawat !" Ujar Chika yang langsung menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya.
"Gak ada yang bilang ini di andong, dek." Ucapnya yang puas sekali meledek sang istri.
"Ya, Allah... punya suamiku mesum sekaleehh..." Ujar Chika yang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kan cintanya sama kamu aja." Ucapnya yang seketika membuat rona pipi Chika bersemu merah muda.
******
"Damaaarrr... iihh... nyebelin banget sih !!" Ujar Elok. Si Mbaknya Damar.
"Bodo, wleee" Ucap Damar yang menjulurkan lidahnya kepada Elok.
"Kembaliin dong... itu kan punya Mbak Elok. Kamu belum minta izin sama aku." Ujar Elok yang gemas sekali dengan Damar sang adik.
"Tapi kan kata Ayah sama Ibuk kita boleh main sama-sama. Spidolnya pakai sama-sama dong. Jangan Mbak aja yang pakai." Ucap Damar yang masih memegang sang spidol.
Jingga dan Langit yang melihat kedua anaknya bertengkar hanya melihat saja. Belum ada yang bilang minta tolong, kan? Begitu pikirnya.
"Damar, kita bisa pakai spidolnya sama-sama. Yang penting kamu izin dulu. Kan kamu belum izin sama Mbak." Jelas Elok.
"Nih, aku kasih dua warna aja." Beri Damar yang warna hijau dan biru.
"Iisshh !! Nyebelin banget, sih !!" Ucap Elok yang langsung masuk kamar dan menutup pintunya.
"Wleee..." Ujar Damar yang kembali meledek sang Kakak.
"Damar" Panggil Langit yang melambaikan tangannya kepada Damar.
"Apa, Yah?" Tanya Damar yang berjalan menghampiri Langit.
"Temenin Ayah mancing." Ujarnya yang sudah menyiapkan alat pancing.
"Oh, ok." Jawab Damar.
Langit dan Damar sedang berada di kolam ikan belakang rumahnya sambil duduk bersantai.
"Ayah, kok ambil ikan tangkapannya Damar? Ayah belum izin kan?" Tanya Damar yang sedang melihat Ayahnya memindahkan ikan hasil tangkapannya ke dalam keranjangnya Langit.
"Lho, gak apa kan? Berbagi sama Ayah." Ujar Langit.
"Bagaimana rasanya saat Ayah belum minta izin ke Damar dan langsung ambil ikannya Damar?" Tanya sang Ayah.
"Ya gak suka lah, Yah." Ucap Damar.
"Kesal dan marah, ya?" Tanya Langit kepada sang anak laki-lakinya.
"Iyalah, Yah." Jawab Damar agak kesal.
"Mungkin itu yang di rasakan sama Mbak Elok." Jawab Langit.
Damar yang mendengarnya langsung diam seketika. Jingga, sang Ibu hanya melihat dari jauh, ke akraban anak dan Ayahnya tersebut.
"Ayah, ikannya mau di masak apa nih?" Tanya Jingga yang menerima seember ikan lele dari sang suami.
"Di goreng sampai kering, Bu. Bagiin ke tetangga juga. Jangan lupa." Ujar Langit dengan seulas senyum dan masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih karena seharian memancing.
Jingga hanya menuruti apa yang diminta Langit saja. Damar, menuju ke kamar Elok yang hanya bersebrangan dengan kamarnya.
"Mbak Elok..." Panggilnya pelan. Takut si Mbak masih marah sama dia.
"Kenapa?" Jawab Elok yang membuka pintu sambil menekuk wajahnya.
"Maaf, ya. Tadi Damar gak minta izin ambil spidolnya. Ini, Damar kembalikan." Ucapnya kepada Elok.
"Lain kali izin, ya dek. Bukannya Mbak gak boleh kamu pinjam barang-barang Mbak Elok. Tapi kamunya harus izin dulu. Kan Mbak juga bingung kalau sewaktu-waktu butuh." Terang Elok kepada Damar.
"Iya, maaf..." Jawab Damar.
Langit dan Jingga yang memperhatikan dari jauh hanya tersenyum. Jingga memeluk Langit dan Langit mencium pelipis Jingga.
"Mereka kok udah gede ya, Mas?" Tanya Jingga yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit.
"Bukan mereka yang sudah besar. Tapi kita yang semakin tua." Ucapan Langit membuat Jingga tersadar bahwa mereka tak muda lagi.
"Umur semakin dikit ya, Mas." Ujarnya dengan seulas senyum.
"Tapi cinta kita semakin bertambah." Ucap Langit yang mendapat ciuman hangat di pipinya dari sang istri.
"Butuh honeymoon lagi, dek, kita." Ujar Langit yang mengundang tawa Jingga.
"Terus anak-anak gimana? Mau siapa yang jagain? Kamu tuh ada-ada saja, Mas..." Ucap Jingga yang mencubit gemas hidung Langit.
__ADS_1
"Kita titip ke Oma sama Opanya aja." Jawab Langit yang membuat Jingga terbelalak.
"Mas Langit, itu jauh. New York itu bukan Jakarta-Bali. Beda benua itu, Mas..." Ujar Jingga yang menangkupkan tangannya di pipi Langit.
"Gak apa dong, dek. Sekali-sekali. Lagipula sudah 2 tahun ini mereka liburan sekolah gak jenguk Oma sama Opanya." Jelas Langit.
"Hhmm... yasudah. Tapi minggu depan aja ya, Mas berangkatnya. Anak-anak baru mulai liburnya kan minggu depan." Terang Jingga.
"Iya, deh. Kamu yang paham, aku ngikut aja. Ntar aku kabarin Mami sama Papi di New York." Ujarnya sembari memeluk erat sang istri.
"Terus, honeymoonnya kita kemana?" Tanya Langit kembali.
"Hahaha... kamu masih mikirin honeymoon, Mas? Yaampun..." Jawab Jingga dengan tertawa geli.
"Iyalah... orang anak jauh-jauh kita boyong ke NY buat honeymoon, masa gak jadi." Ujarnya sambil mencibikkan bibir.
"Hahaha... iya, iya. Nanti ya, sayang... kita urusin anak-anak dulu." Ucapny sambil mencium pipi suaminya.
"Ke kamar ajalah kita, dek." Ujar Langit dengan senyum sumringah. Namun...
"Ibuuukk... Ayah..." Panggil Elok yang keluar dari kamar.
"Gagal??" Ucap Langit yang dengan tegar memperlihatkan senyumnya kepada sang anak gadis. Jingga yang melihat hanya tertawa geli.
"Iya, Mbak. Kenapa? Kok teriak-teriak gitu?" Tanya Jingga kepada sang putri.
"Buk, masa Elok lupa. Besok Chintya ulang tahun. Elok belum beli kado... gimana dongg??" Ujarnya dengan wajah panik.
"Terus maunya Elok gimana?" Tanya Jingga kembali.
"Elok izin mau cari kado ya." Ucapnya.
"Sendirian?" Tanya Langit.
"Paling aku ajak Damar." Ujar Elok.
"Mau naik apa?" Tanya Langit kembali.
"Minta tolong Pak Tariman anterin ke Mall. Boleh, Yah?" Tanya Elok kepada Ayahnya.
"Tapi beneran bisa kamu aja sama Damar? Udah tanya Damar?" Tanya Jingga kepada Elok.
"Hehe... belum tanya sih..." Jawab Elok dengan cengiran kudanya.
"Coba tanya dulu sama Damar." Ujar Jingga kepada Elok.
"Yah... Damarnya gak bisa, Buk." Jawab Elok dengan wajah sedih.
"Emang Damar mau kemana?" Tanya Jingga.
"Udah janji sama temen-temen kompleknya mau main basket sore ini. Katanya gitu." Terang Elok.
"Terus gimana?" Tanya Langit.
"Yaudah deh, Elok cari sendiri aja." Ujarnya sambil berdiri dari duduknya.
"Yakin? Gak mau di temenin sama Ibuk sama Ayah?" Tanya Jingga kemudian.
"Enggak deh, Buk. Elok cari sendiri aja. Nanti pesen kendaraan online aja." Jawab Elok.
"Oh, yasudah kalau begitu." Jawab Jingga.
Akhirnya siang itu Elok tidak jadi pergi sendiri. Ia pergi bersama dengan sahabatnya, Lina. Mereka memesan kendaraan online.
Damar juga berpamitan kepada Ayah Langit dan Ibu Jingga untuk pergi bermain basket ke tetangga komplek sebelah. Sekaligus mau bermain ke rumah Amran.
Jadilah rumah Jingga dan Langit sepi. Biasanya dipenuhi celoteh anak gadis dan perjakanya. Tapi, sekarang, begitu sunyi.
"Dek," Panggil Langit kepada Jingga.
"Iya, Mas." Jawab Jingga yang menghampiri Langit duduk di sofa besar kamar tidur.
"Kalau anak-anak kita sudah dewasa, sudah mempunyai kehidupannya masing-masing, Mas mau kita tinggal berdua saja." Terang Langit.
"Sekarang juga mereka sudah punya kehidupan masing-masing, Mas." Ucap Jingga dengan senyumnya.
"Maksud Mas Langit, kalau Elok sudah menikah dan Damar juga sudah menikah, aku ingin rumah ini untuk Damar. Elok kan sudah pasti tinggal bersama suaminya. Biar Damar yang di rumah ini bersama istrinya." Jelas Langit.
"Mas Langit, ternyata kamu sudah memikirkan sampai sana? Jingga saja membayangkannya tidak ingin. Belum rela rasanya, melihat mereka tumbuh dewasa." Ujar Jingga.
"Lho... gak bisa gitu dong, sayang... suka tidak suka. Mau tidak mau, kita harus terima bahwa anak kita pasti akan tumbuh dewasa. Waktu itu cepat sekali berlalu, dek." Ucap Langit kepada Jingga.
"Huft... aku jadi sedih dengarnya. Tapi, apa yang Mas katakan itu benar. Ngomong-ngomong, Mas ajak kita buat tinggal berdua aja. Emang Mas Langit mau tinggal di mana?" Tanya Jingga.
"Di sebuah pedesaan dengan rerumputan hijau, rumah yang asri dengan di kelilingi kolam ikan yang bisa buat mancing atau di dekat sungai. Pokoknya, aku ingin menghabiskan masa tua ku sama kamu, dek." Ucapnya yang membuat Jingga berlinang air mata.
"Kok kamu nangis?" Tanya Langit bingung.
"Kenapa sayang? Mm?" Tanya Langit kembali.
"Terharu, Mas. I Love You, Langitku..." Ujarnya sambil mengecup ringan bibir Langit.
__ADS_1
"I Love You more than anything, sweetheart. You always be my love. Always and never change." Ucap Langit dengan membalas ciuman mesranya di bibir Jingga.
*****