
...~Happy Reading~...
"Jingga, makan ya?" ujar Raihan untuk kesekian kali nya berusaha untuk membujuk Jingga agar mau membuka mulut.
Jangankan untuk makan, sekedar minum saja Jingga tidak mau. Hingga kini bibir wanita itu terlihat sangat kering. Dua hari sudah Jingga di rumah sakit, ia sama sekali tidak mau membuka mulut. Mulut nya seolah terkunci rapat, bahkan ia juga tidak mau bertemu dengan Langit.
"Jingga, kalau kamu gak mau makan, kamu akan seterusnya berada disini. Kamu betah ya disini?" kata Raihan lagi seraya menghela napas berat.
"Jingga, kamu tau gak. Dulu, mama ku juga pernah hamil dan keguguran. Bahkan tidak hanya satu kali, dua kali Jingga. Kehamilan pertama dan ketiga. Jadi, aku seharusnya memiliki dua saudara, tapi ternyata dua saudara ku itu gugur sebelum terbentuk." ujar Raihan membuat Jingga langsung menatap laki laki remaja tersebut.
"Kamu lihat aku sekarang. Setelah orang tuaku kehilangan, tidak lama mama ku kembali hamil dan lahirlah aku. Anak yang paling ganteng, pinter dan ber prestasi," imbuh nya menyombongkan diri.
__ADS_1
Tanpa sadar, perlakuan Raihan mampu membuat Jingga sedikit menyunggingkan senyum. Namun senyum itu sangat tipis sampai tidak ada yang menyadari nya.
"Jingga, meskipun aku tidak menyukai suami kamu. Tapi aku juga kasihan melihat nya, dia juga sama terpuruk nya dengan mu. Kasihani dia ya, dia sampai sekarang belum mau pulang, makan pun tidak mau. Dia masih setia menjadi palang pintu di sana," ucap Raihan lagi seraya menunjuk ke arah pintu ruangan Jingga.
Kali ini Jingga merespon ucapan Raihan. Ia ikut mengalihkan pandangan nya ke arah yang di tunjuk oleh Raihan. Sejujurnya, Jingga juga sangat merindukan Langit, namun entah mengapa dirinya begitu sulit untuk menerima semua kenyataan nya.
Azzara, satu nama yang terus membuat pikiran Jingga melayang. Wajah nya sangat mirip dengan Biru, sangat tidak mungkin bila nanti suami nya akan kembali mencintai wanita itu. Meskipun keduanya berbeda, Azzara bukan Azzura atau Biru, namun tetap saja wajah keduanya sangat mirip. Hanya saja, yang membedakan Azzara menggunakan kerudung, sementara Azzura tidak.
"Hiks hiks hiks, " Jingga langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia kembali terisak, namun kali ini ia sudah tidak histeris, ia sudah bisa menahan emosi nya. Ia tahu bahwa bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah.
"Jingga, jangan begini. Nanti suami mu masuk lalu menghajar ku bagaimana? aku yang takut kalau di sangka nyakitin kamu, udah dong." kata Raihan sedikit panik ketika melihat Jingga menangis.
__ADS_1
"Aku takut Rai hiks hiks aku takut." ucap Jingga sedikit lirih, namun membuat Raihan tersenyum lega karena akhirnya ia mau berbicara.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Raihan mencoba mendengarkan keluhan Jingga.
"Azzara," satu nama yang membuat Raihan terdiam. Dirinya ikut bingung bagaimana harus menanggapi nya.
"Aku takut mas Langit akan kembali berpaling. Hiks hiks aku takut hiks hiks," isak tangis Jingga semakin menjadi, hingga membuat Raihan semakin panik.
Cklek!
Mendengar suara pintu di buka, seketika membuat Raihan semakin membulatkan mata nya dengan sempurna.
__ADS_1
"Bukan aku Om! beneran bukan aku!" seru nya langsung mengangkat kedua tangan nya ke atas ketika melihat sosok yang membuka pintu dengan memberikan tatapan tajam pada nya.