
Setelah selesai meeting, Langit pun berniat untuk mencari dimana keberadaan Jingga. Sejak tadi hatinya begitu resah dengan rasa bersalah nya. Hingga membuatnya tidak bisa konsen dalam bekerja. Sebenarnya, ia masih bingung apakah dirinya benar sudah jatuh hati pada Jingga, atau hanya karena rasa kasihan bila gadis itu marah padanya.
Langit kembali teringat kembali dengan kata kata Jingga, yang mengatakan bahwa di dunia ini Jingga hanya memiliki nya. Maka dari itu, ia berusaha sebisa mungkin untuk membuat Jingga selalu nyaman dan bahagia di dekat nya.
Berulang kali Langit mencoba menghubungi ponsel Jingga, namun tidak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya, matanya tanpa sengaja menatap pada dua sosok yang tengah bercanda di salah satu restauran dengan begitu asik.
Tanpa pikir panjang, Langit pun segera mempercepat langkah nya dan menghampiri keduanya, “Jingga! Nathan ... “
Sontak beberapa pasang mata itu langsung menatap ke arah nya. Bukan hanya Nathan dan Jingga, namun beberapa pasang mata juga ikut menatap ke arah nya. Namun Langit tidak perduli, ia segera menghampiri Jingga ke meja nya.
“Hay Lang!” sapa Nathan tersenyum dan mengulurkan tangan agar bisa berjabatan, namun Langit hanya memasang wajah datar nya tanpa berniat membalas jabatan tangan Nathan.
Sementara itu, Nathan yang merasa di abaikan segera menarik tangan nya lagi dengan di sertai senyum getir di wajah nya.
__ADS_1
“Baiklah Jingga, sepertinya aku harus pamit. Kamu hati hati, dan kalau ada apa apa, kamu bisa segera hubungi Om,” ucap Nathan memberi senyum pada Jingga.
“Dia tidak akan membutuhkan mu!” jawab Langit datar lagi.
“Oh ya?” Nathan semakin tersenyum sinis dengan sedikit mengerutkan dahi menatap Langit, “Jangan terlalu sombong, di atas nama Langit masih ada Langit. Kita tidak akan tahu dengan apa yang terjadi ke depan nya, siapa tahu—“
“Tidak akan ada, siapa tahu! Cepat pergilah!” saut Langit dengan cepat, yang semakin membuat Nathan tersenyum kecut.
“Aku duluan Jingga,” pamit nya lagi kepada Jingga, dan langsung di balas senyuman serta anggukan dari Jingga.
“Mas kenapa sih, kaya gitu?” tanya Jingga menghela nafas nya berat.
“Kamu makan berdua sama dia? Ckck sangat romantis,” cibir Langit berdecak.
__ADS_1
“Dih apaan sih, orang om Nathan cuman ngopi doang,” kata Jingga sedikit memanyunkan bibir nya kesal.
Langit pun ikut menghela nafas nya dengan berat, lalu ia ikut mendudukkan diri di samping Jingga.
Langit tidak menjawab pertanyaan Jingga, ia langsung melonggarkan dasi nya dan melingkis sedikit kemeja panjang nya, lalu segera menyantap makanan di meja begitu saja. Sejujurnya sejak tadi perut nya sudah sangat lapar, namun ia merasa masih memiliki tanggung jawab untuk mencari keberadaan Jingga. Dan siapa sangka bahwa di balik rasa kelaparan nya karena khawatir, ternyata Jingga malah asik makan berdua dengan laki laki lain.
“Kamu kelaperan Mas?” tanya Jingga sedikit menunduk menatap Langit makan.
Uhuukk hukkk uhukk!
Mendengar pertanyaan Jingga, seketika langsung membuat Langit tersedak. Jingga segera memberikan minuman nya untuk Langit, tak lupa ia juga meraih tisu untuk membersihkan mulut Langit, hingga tanpa sengaja mata kedua nya saling menatap.
Deg!
__ADS_1
Lagi dan lagi, jantung keduanya berpacu dengan begitu cepat. Seolah seperti sedang berlomba lari maraton, begitu cepat. Terlebih ketika tangan Langit menyentuh tangan Jingga yang berada di mulut nya, membuat hati Jingga semakin tak menentu.
“Langit!”