Langit Jingga

Langit Jingga
Sebentar saja


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Sayang, tolong handuk aku dong," teriak Langit dari dalam kamar mandi. Sementara itu Jingga yang baru saja menidurkan baby Sky langsung menatap horor ke arah kamar mandi nya.


Ia begitu kesal lantaran suami nya yang selalu berteriak. Padahal jarak kamar mandi dan walk in closed sangat dekat. Mengapa harus berteriak, mengapa ketika hendak mandi tidak sekalian membawa handuk, pikir Jingga begitu kesal.


"Sky itu baru tidur Mas! Bisa gak sih, kalau gak teriak teriak begitu!" seru Jingga seraya memberengut.


"Maaf Sayang, mas sengaja." kata Langit terkekeh tanpa dosa, "Mana handuk ku?" tanya nya dari dalam kamar mandi dengan tangan yang ia keluarkan sebagian.


"Ini!" Jingga memberikan handuk secara kasar kepada suami nya, hingga membuat Langit tak bisa menahan rasa gemas pada istrinya.


Langit pun segera menarik tangan Jingga yang masih mengulurkan handuk padanya.


"Maaasss!" pekik Jingga terkejut ketika tubuh nya di tarik masuk ke dalam kamar mandi.


"Anak anak udah tidur kan? gantian ya sekarang," bisik Langit memeluk Jingga dari belakang.


"Emmmthhh, ga—gantian apaan sih. Lepas Mas!" desis Jingga menggigit bibir bawah nya dan sesekali menahan nafas ketika tangan Langit tengah berjelajah.

__ADS_1


"Sejak kamu hamil delapan bulan, sampai sekarang loh, Sayang. Kamu gak kasihan sama dia hem? dia juga mau di tidurin sama kamu," bisik Langit lagi hingga membuat tubuh Jingga semakin meremang tidak karuan.


"Nanti anak anak bangun, Mas," kata Jingga berusaha untuk menghindar.


Bukan tidak mau melayani suami nya. Hanya saja, saat ini waktunya belum pas bagi Jingga. Ia takut bila nanti kedua bayi nya terbangun dan menangis ketika perjalanan menuju puncak baru setengah. Akan sangat nanggung dan membuat pening bila tidak tuntas, bukan. Begitulah pikir Jingga.


Terlebih, ketika ia bermain maka dirinya akan sangat berisik yang membuat nya semakin takut bila kedua bayi nya terbangun.


"Makanya disini saja, sebentar aja ya," bujuk Langit dan akhirnya Jingga menganggukkan kepala nya.


Anggap ini sebagai pemanasan dan uji coba di tempat dan situasi darurat, pikir nya.


Ahhhh


"Pelan pelan Mas, sakitt banget!" ringis Jingga semakin mendesis ketika Langit hendak menuntun adik nya untuk memasuki rumah yang beberapa bulan terakhir tidak ia masuki.


Tentu saja kini rumah itu terasa sangat sempit, lantaran Jingga yang baru saja melahirkan satu bulanan lebih ini.


"Maaf, Sayang. Aku coba lagi," kata Langit ikut mendesis dan memejamkan mata ketika merasakan sensasi seperti saat pertama kali dirinya mengajak Jingga bermain bola beberapa tahun silam.

__ADS_1


"Auwhhh! sakit Mas," rengek Jingga membuang nafas nya kasar dengan mata yang membola sempurna ketika Langit berhasil mendobrak pintu masuk itu kembali.


"Rasanya seperti saat pertama kita bermain dulu," bisik Langit tepat di telinga Jingga dengan suara yang begitu serak dan merdu.


"Sakit banget!" gumam Jingga begitu lirih, namun ia juga menikmati permainan yang di pimpin oleh sang suami.


Suara suara Jingga yang semula berupa rintihan kesakitan, lambat laut suara itu berubah menjadi suara nyanyian yang begitu merdu yang membuat candu siapapun yang mendengar nya. Membuat Langit semakin gencar maraton mencapai puncak kebahagiaan yang tak ia rasakan setelah beberapa bulan terakhir.


.......


.......


.......


.......


.......


...Bubar bubar bubar. Udah jangan ngintip lagi. Tapi sebelum bubar, tinggalin jejak, biar Mommy catat siapa yang yang ngintipin mas Lang sama Jingga 🙈🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2