
...~Happy Reading~...
Tiga tahun kemudian ....
Di sebuah taman yang begitu luas dengan hamparan rumput hijau yang di hiasi mawar putih, membuat pemandangan kian bertambah indah. Semilir angin di bawah pohon yang cukup rindang. Seorang wanita cantik yang begitu anggun tengah bersenda gurau dengan seorang anak perempuan yang begitu cantik dan menggemaskan.
“Bunda, mengapa bunda menyukai mawar putih?” tanya gadis itu sembari menatap wajah sang bunda.
“Karena putih itu bersih, entahlah, Bunda sangat menyukainya. Apakah kamu tidak suka?” tanya nya seraya mengusap wajah putrinya.
“Suka, aku sangat menyukainya,” jawab nya dengan cepat dan tersenyum senang, “Aku akan bermain lagi,” imbuh nya lalu ia gadis itu kembali berlari untuk bermain.
...🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Di sebuah ruangan yang cukup luas berada di lantai teratas gedung, seorang laki laki dewasa yang masih terlihat tampan dan berwibawa walau umur nya sudah hampir memasuki kepala empat, tengah fokus dengan beberapa berkas di meja nya.
Tiga tahun ini, Langit hanya menyibukkan diri di kantor nya. Bahkan, laki laki itu sangat jarang sekali untuk pulang ke rumah. Bisa di hitung paling dua sampai tiga kali dirinya akan pulang. Selebihnya, ia memilih untuk tidur di kantor nya.
“Gak pulang lagi?” tanya Maxim yang sudah entah sejak kapan berada di ruangan Langit.
Sejak dua tahun terakhir, Maxim sudah berpisah dengan Langit. Ia sudah tidak lagi menjadi asisten pribadi Langit. Namun Langit sudah mengembalikan perusahaan nya agar di kelola oleh Maxim lagi. Sementara Langit, ia fokus mengurus perusahaan mertuanya, yang tak lain ayah dari Jingga.
Langit meregangkan otot otot nya yang terasa cukup pegal setelah seharian bekerja. Ia pun langsung menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi dan menghela napas berat.
“Kerjaan ku masih banyak,” jawab Langit seraya melirik setumpuk berkas yang berada di meja kerja nya, “Ada apa kemari?”
“Siska bilang kalau kamu sering lembur di kantor. Kamu gak pernah pulang dan kamu—“
__ADS_1
“Ckckck, dasar pengadu,” cetus Langit mendengus tak suka.
Siska adalah adik ipar dari Maxim, ia memang bekerja sebagai sekretaris untuk Langit agar bisa membantu meng-handle semua pekerjaan selagi tidak ada Maxim di kantor itu.
“Bukan pengadu, tapi karena aku yang bertanya. Dia jujur kok,” bela Maxim membuat wajah Langit semakin berdecak, “Lang, sudah tiga tahun loh. Apa kamu—“
“Apa?” tantang Langit langsung menatap tajam pada sahabat nya, “Jangan kamu dengarkan ucapan istri mu. Aku dan Jingga masih suami istri, aku belum bercerai dengan nya. Dan dia akan kembali padaku, jadi kamu peringatkan sama istri mu, jangan macem- macem!” imbuh nya dengan nada tak suka.
Ya, istri Maxim yang bernama Hani, sering menggoda Langit agar menikah lagi. Itulah mengapa Langit sangat tidak menyukai istri sahabat nya. Setiap kali mereka mengadakan acara, maka Langit akan memilih untuk menghindar dan berkumpul dengan teman yang lain. Langit tahu maksud dari ucapan Hani, dan andai saja dirinya tidak membutuhkan sekertaris dan tidak menghargai Maxim sebagai sahabat nya, maka sudah di pastikan Langit akan memecat Siska atau memindahkan nya ke posisi lain.
“Lang, maksud dia baik. Umur kamu sudah tidak muda lagi. Dan juga—“
“Sudahlah Max, pergilah sebelum aku marah padamu. Jangan sampai persahabatan kita hancur gara gara ini!” ancam Langit, dan ia pun segera memutar kursi nya dan membelakangi Maxim. Sementara itu, Maxim hanya bisa menghela nafas nya dengan cukup berat dan segera pergi dari ruangan Langit.
__ADS_1