
“Pak, kenapa lama banget sih macet nya?” tanya Jingga kepada supir taxi.
“Itu Non, ada kecelakaan di depan,” jawab pak supir sedikit menengok ke belakang.
Deg!
Jingga merasa seperti jantung nya kembali berdetak dengan semakin kencang. Ia tidak tahu mengapa namun ia merasa sangat ingin turun dan melihat ada apa di depan sana.
“Pak, saya turun disini aja. Udah kelamaan di tunggu sama temen soalnya,” kata Jingga lalu ia segera turun dan berjalan ke depan di antara begitu banyak mobil yang sedang menunggu kemacetan.
Dengan langkah bingung dan ragu, ia terus berjalan di tengah tengah jalan, sambil melihat keadaan sekeliling. Dimana orang orang berdecak bahkan tak jarang ia mendengar sebuah umpatan karena sedang terburu buru.
__ADS_1
“Om Langit,” gumam Jingga mengerutkan dahi nya ketika melihat sosok yang ia kenali.
Jingga bisa melihat dengan jelas, bagaimana Langit menangis ketika membantu beberapa petugas untuk memasukkan korban ke dalam ambulan. Jingga merasa bahwa itu adalah orang yang Langit kenal, akhirnya Jingga berlari dan menghampiri Langit yang sudah berlumuran darah.
“Om!” pekik Jingga ketika berada tak jauh dari posisi Langit saat itu.
Langit tidak menggubris Jingga, ia hanya menoleh sebentar. Menghapus air matanya, dan ia segera kembali masuk ke dalam mobil nya. Sementara Jingga yang melihat Langit mengabaikan nya pun, ia segera berlari dan mengejar Langit ikut masuk ke dalam mobil.
“Om, Jingga tahu kalau OM sedang sedih. Walaupun Jingga gak tau itu siapa yang kecelakaan, tapi dari pandangan Jingga, orang itu pasti sangat berkesan untuk om kan. Jadi, biarin Jingga nemenin Om ya, Jingga gak mau ada apa apa sama Om Langit.” Ucap Jingga tulus.
Hati Langit yang semula terasa sesak, kini akhirnya kembali lega lagi ketika tangan nya di sentuh oleh Jingga. Gadis bar bar yang selalu membuat tensi nya naik, namun gadis itu juga yang bisa menenangkan nya di saat kondisi seperti ini.
__ADS_1
“Om, Jingga yakin orang itu pasti akan baik baik saja. Jingga bantuin doa ya, semoga luka yang di alami gak serius dan segera sembuh,” tutur Jingga dengan tulus.
“Terimakasih,” jawab Langit dengan suara serak nya, ia pun menarik nafas dalam lalu segera menarik tuas pedal nya dan melaju menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan , Jingga tak henti hentinya menyemangati Langit agar sabar dan ikhlas dengan apa yang akan terjadi.
Bukan Jingga bermaksud buruk, hanya saja, melihat dari beberapa mobil yang sudah ringsek di pinggir jalan tadi. Jingga merasa sedikit ragu untuk mengatakan mereka baik baik saja.
Ya, mereka. Karena kecelakaan itu adalah kecelakaan beruntun. Dimana beberapa mobil pribadi yang di terjang habis oleh sebuah truk kontainer, sehingga membuat beberapa mobil ringsek parah bahkan yang Jingga sempat dengar tadi, pasien terakhir yang di bawah ke rumah sakit, yakni yang di bantu oleh Langit tadi. Mobil nya sudah tak terbentuk.
Kemacetan parah karena evakuasi korban yang cukup sulit, jadi bagaimana bisa Jingga memberikan harapan palsu kepada Langit. Dengan mengatakan mereka akan baik baik saja, sementara keadaan mobil mereka sudah sangat tidak baik baik saja.
“Tapi Jingga akan terus berdoa, semoga para korban selamat semua.” Ucap Jingga dengan setulus hati, Langit semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada Jingga, dengan tangan satu lagi fokus menyetir.
__ADS_1
Entah mengapa, ia merasa sangat tenang berada di samping Jingga dan mendengarkan ocehan nya. Padahal beberapa jam sebelumnya, mereka terjadi perdebatan hebat, namun entah mengapa secepat ini berubah. Langit pun tidak tahu.