Langit Jingga

Langit Jingga
Skors


__ADS_3

“Pak, kami minta maaf. Jangan pecat kami Pak!” Tiba tiba saja Farah langsung terduduk di lantai menghadap Langit, begitupun dengan Wina dan Hani.


Tidak hanya rekaman suara dari Jingga yang menjadi bukti bahwa Farah lah yang bersalah, namun Maxim juga menyuruh karyawan nya untuk memberikan salinan CCTV di depan lift, agar mengetahui siapa yang memulai lebih dulu. Dan benar saja, seperti dugaan bahwa Farah lah yang memulai lebih dulu.


“Udah kaya gini aja mohon mohon, cih, kemana perginya nyali tadi!” sindir Jingga mendengus, sesekali ia memejamkan matanya ketika merasa kepala nya berdenyut nyeri.


Farah tidak berani menjawab di depan Langit, ia hanya menatap Jingga dengan tatapan penuh kebencian. Ia bersumpah bahwa bila nanti dirinya sampai di pecat, ia akan membuat perhitungan dengan gadis itu.


“Max!” Langit memilih menyerahkan semuanya kepada Maxim, karena dialah yang lebih mengenal para karyawan nya, ia juga tidak mau karena masalah pribadi di campur adukkan dengan pekerjaan.


“Haiss, selalu saja aku!” gumam Maxim dalam hati.


“Baiklah, jadi kalian maunya bagaimana? Masih mau bekerja disini atau tidak?” tanya Maxim datar.

__ADS_1


“Mau Pak, saya benar benar minta maaf, saya gak bermaksud menjelekkan nama ak Langit, hanya—“


“Saya tidak akan mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Tapi disini kesalahan kamu karena sudah membuat keributan hingga membuat orang lain terluka!” kata Maxim dengan cepat memotong ucapan Farah, “Jadi konsekuensi nya, gaji kamu akan di potong 50%.”


“Dan untuk kamu, Jingga!” Maxim menatap ke arah Jingga dengan senyum tipis nya, “Kamu di skors, jangan datang kesini untuk ke depan nya!”


“Dih, udah kaya anak sekolah aja kena skors!” cetus Jingga tak setuju.


“Kamu memang masih anak sekolah!” geram Gerry menghela nafas nya berat.


“Sudahlah, sekarang kalian semua pulang! Dan kamu ikut aku!” ucap Langit datar dan langsung menggandeng tangan Jingga pergi.


“Otw bucin kapan sih?” celetuk Maxim ketika ruangan sudah sepi.

__ADS_1


“Lebaran monyet!” cetus Gerry, menggelengkan kepala nya, “Gila, si Jingga bener bener ajaib banget. Beda jauh sama Biru, aku ragu apa dia bisa geser posisi Biru.” Imbuh nya menghela nafas berat.


“Justru karena keduanya sangat berbeda, Langit akan merasa tertantang. Dan aku yakin untuk saat ini dia masih gengsi mengakui perasaan nya. Tapi percaya deh, benih benih cinta itu sudah mulai bersemai,” kata Maxim terkekeh.


“Inget umur Max, jangan kaya anak ABG!” cibir Gerry berdecak.


“OH iya, gimana kemarin kamu udah cari tau siapa Jingga belum?” tanya Maxim kini wajah nya sudah berubah menjadi serius.


“Belum ada kabar lagi dari anak buah ku. Tapi tenang, secepatnya pasti akan ada kabar, kita bisa tahu siapa dia. Kalau semua oke, bibit, bebet, bobot nya, kita bisa hubungi om Danu agar segera datang ke Indonesia.” Jawab Gerry begitu bersemangat, “Sumpah aku merasa seperti kembali lagi ke masa SMA!”


“Inget umur woy!” seru Maxim langsung memukul bahu Gerry.


“Justru karena aku mengingat umur ku yang maish muda, jadi aku merasa seperti anak SMA lagi,” balas nya terkekeh.

__ADS_1


Maxim tidak menjawab lagi candaan Gerry, ia pun memilih untuk kembali ke ruangan nya dan kembai melanjutkan pekerjaan nya yang sudah ke pending. Seharusnya dirinya sudah selesai dan bisa segera pulang, namun karena ulah Jingga dan karyawan nya, pekerjaan nya harus ke pending, begitupun dengan jam pulang kerja nya.


__ADS_2