
...~Happy Reading~...
Setelah beberapa saat, Jingga mengerjapkan mata nya. Kepala nya terasa berdenyut nyeri dan entah mengapa kini dirinya merasakan mual yang luar biasa.
"Eughh mmmm!" Sekuat tenaga, Jingga berusaha untuk menahan rasa mual nya. Hingga tiba tiba ia melihat pintu kamar mandi yang baru saja di buka oleh Langit, membuat nya langsung menatap sang suami.
"Sayang, kamu sudah bangun?'" Langit segera menghampiri Jingga dan hendak duduk di samping nya, namun dengan cepat pula Jingga menggelengkan kepala nya dan merentangkan kedua tangan.
"Ada apa?" tanya Langit yang masih belum paham dengan maksud Jingga.
Jingga terus merentangkan tangan ke atas seolah meminta gendong. Hanya itu yang Langit paham, hingga ia pun segera mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya ke kamar mandi dengan sangat hati hati.
Setelah sampai di kamar mandi, Jingga langsung memuntahkan seluruh isi perut nya membuat Langit baru mengerti dengan maksud Jingga pada nya. Dengan tangan kiri yang masih memegang infus an, Langit membantu memijit tengkuk Jingga.
Hoekk
Huekkk
__ADS_1
"Masss gak enak!" rengek Jingga memejamkan mata dengan kuat ketika merasakan rasa pahit di dalam mulut nya.
"Kita ke sana lagi ya," ujar Langit lalu kembali menggendong tubuh Jingga dan membaringkan nya di tempat tidur.
Setelah memberikan Jingga minuman hangat, kini Langit kembali duduk di sisi tempat tidur Jingga.
Sementara Jingga, ia masih meneliti sekeliling nya yang ternyata ia baru sadar bahwa tempat ini berbeda.
Ya, Langit sudah memindahkan Jingga ke rumah sakit lain. Agar tidak bertemu lagi dengan dokter Zara. Karena Langit tidak mau mengambil resiko lagi bila nanti Jingga kembali banyak pikiran dan down.
"Kok Jingga disini?" gumam nya pelan.
"Gak!" jawab Jingga dengan cepat, "Jingga sukanya di rumah. Gak mau disini,"
"Sayang, nanti kalau kamu dan baby nya sudah sehat. Kita pasti pulang yah,"
"Memang nya baby kenapa? apakah dia sakit juga?" tanya Jingga langsung menatap pada Langit.
__ADS_1
"Enggak kok, dia sangat kuat. Persis seperti mama nya. Hanya saja, dia masih sedikit terkejut karena kecelakaan kemarin. Makanya, mas minta tolong sekali sama Jingga. Jangan ulangi lagi ya, dan jangan terlalu stres. Karena apapun yabg Jingga rasakan saat ini akan berpengaruh besar untuk baby." ujar Langit berusaha menjelaskan, meskipun masih kurang paham namun Jingga menganggukkan kepala nya.
Menurut adalah pilihan terbaik. Agar dirinya segera pulang ke rumah, pikir Jingga.
"Tapi Mas—"
Langit menatap Jingga yang kini menundukkan kepala nya. Seolah tahu dengan apa hang di pikirkan sang istri, Langit kembali memeluk Jingga dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pikirkan apapun. Saat ini, nanti dan selama nya kita akan selalu bersama, bahagia bersama baby kita. Oke, jangan pikirkan apapun. Mas disini untuk Jingga."
"Benar kah bahwa kita akan selalu bersama?" tanya Jingga melepaskan pelukan Langit dan mendongakkan kepala nya untuk menatap wajah sang suami.
"Mas akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Jingga." ucap Langit berusaha meyakinkan.
"Apakah mas yakin sudah melupakan kak Biru?" tanya Jingga dengan raut wajah datar nya.
Deg!
__ADS_1
Langit langsung membulatkan matanya tak percaya ketika mendengar pertanyaan dari Jingga. Jantung nya berdetak dengan begitu cepat, membayangkan bahwa Jingga sudah mengetahui tentang hubungan nya dan Biru, membuat nya begitu takut dan khawatir.