
...~Happy Reading~...
“Maaf, tadi mas pergi ke Makam ayah, sama Bunda. Mas mau bangunin kamu, tapi gak tega, jadi mas pergi sendiri. Tapi pas balik, kamu gak ada,” ujar Langit mencoba memberikan penjelasan kepada Jingga yang tengah merajuk.
Kini, keduanya sudah berada di dalam kamar. Sedari tadi, Jingga hanya berdiam dan menatap wajah suaminya dengan cukup intens.
“Bener, ke makam? Bukan nemuin siluman babi itu?” tanya Jingga dengan penuh selidik.
“Astaga, enggak Jingga. Mas gak bohong, mas beneran ke makam. Ini kamu bisa lihat, sepatu mas ada bekas tanah nya.” Langit bahkan sampai menunjukkan bekas sepatu nya serta ada beberapa bekas tanah yang mengotori celana panjang nya.
“Huh, kali aja Mas bohong. Bisa aja mas nyolong dimana gitu tanah nya buat alesan doang!” cetus Jingga masih kurang percaya.
__ADS_1
“Allahuakbar, astagfirullah. Mas gak bohong sama kamu! Mas bener bener habis dari makam!” kata Langit mengusap wajah nya dengan frustasi.
“Ya udah sih, kalau beneran gak bohong. Jangan marah marah!”
“Mana ada mas marah sama kamu!”
“Lah itu nada nya aja nge gas begitu loh!”
“Tuh kan, diem! Berarti mas emang bohong sama Jingga!” seru Jingga kemudian ia langsung beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Langit hanya terdiam, ia bingung harus bagaimana lagi berbicara dengan Jingga. Berkata, salah. Diam pun semakin salah. Wanita memang selalu benar, dan laki laki akan selalu salah, oke. Langit akan selalu mengingat pasal tersebut. Ia pun memilih untuk mengambil pakaian dan segera mandi di kamar tamu. Memberikan waktu kepada Jingga untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Jingga yang mendengar suara pintu tertutup, ia tahu bahwa Langit pergi. Seketika, tangisnya langsung pecah begitu saja. Ia duduk menyenderkan kepala nya pada pintu sambil terisak. Bayangan demi bayangan tentang beberapa saat yang lalu membuat hatinya kembali terluka.
Ya, tadi Jingga datang ke makam. Entah firasat darimana, Jingga mengira bahwa Langit ada di sana. Dan ternyata benar saja dugaan nya. Jingga pun juga mendengar semua yang di katakan oleh Langit kepada makam Biru.
Biru lagi? Membuat bibir Jingga terangkat dan tersenyum getir. Selama ini dirinya sudah curiga, namun entah mengapa dirinya begitu sulit untuk percaya. Ia masih ingin menepis semua bukti bukti yang mengarah pada kenyataan. Beruntung, tadi Raihan datang dan segera membawa nya pergi. Dan mungkin, bila tadi dirinya tidak bertemu Raihan, mungkin saja Jingga akan langsung menghampiri Langit dan marah marah kembali di makam Biru.
‘Biar bagaimana pun, dia tetap kakak kamu. Dan sekarang, dia sudah bahagia di atas sana. Sementara om Langit, dia suami kamu. Meskipun, mungkin dahulu kala mereka ada hubungan, tapi percaya deh. Kamu tetap menjadi pemenang nya, Jingga. Kamu masa depan nya. Dan aku yakin, Tuhan sudah menggariskan takdir yang begitu indah untuk kalian. Bukankah kamu dan dia sudah melakukan itu? Dan itu membuktikan bahwa sekarang, dia mencintai kamu. Jingga, jangan pernah iri dengan kakak mu yang sudah meninggal. Mungkin saja, dia juga iri sama kamu, karena Tuhan mentakdirkan kamu dengan om Langit. Kamu bisa membuat nya tersenyum kembali, dan kamu bisa menjadi istrinya. Sementara kakak mu, dia hanya rumah singgah itupun hanya sesaat.’
Kata kata yang di ucapkan oleh Raihan tadi, selalu terngiang dalam benak Jingga. Memang benar, Biru hanya bersama Langit sementara. Namun kini, dirinya yang sudah memiliki Langit seutuhnya. Dirinya tidak boleh goyah apalagi merasa iri lagi dengan Biru, batin Jingga berusaha menguatkan diri dan memaafkan semua yang telah terjadi.
‘Biru, jika memang kau bisa mendengar ku. Aku mohon, tenang lah di sana, dan jangan usik pikiran mas Langit lagi. Relakan dia bahagia bersama ku, seperti aku yang merelakan ayah dan bunda lebih memilih mu!’ batin Jingga menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.
__ADS_1