
...~Happy Reading ~...
Hampir dua jam sudah Langit pergi meninggalkan Jingga. Entah apa yang di lakukan oleh lelaki itu di luar sana, padahal tadi izin hanya satu jam. Hingga membuat Jingga begitu merasa jenuh menunggu kedatangan Langit.
Mungkin bukan Langit yang dia tunggu, melainkan buah tangan yang akan di bawakan Langit untuk nya.
Cklek!
Wajah Jingga begitu terlihat berbinar ketika mendengar suara pintu yang di buka. Ia segera mengalihkan perhatian nya dan menatap siapa yang datang. Seketika senyum nya menghilang, ketika bukanlah Langit yang datang. Melainkan seorang wanita cantik dengan pakaian minim serta sepatu heels yang cukup tinggi, berjalan melenggak lenggok menuju ke arah nya.
"Halo Jingga," sapa nya ketika sudah sampai di samping brankar Jingga.
"Ada apa? Apakah kita saling mengenal?" tanya Jingga acuh.
__ADS_1
"Hahaha, apakah kita harus mengenal dulu?" katanya bertanya balik.
"Tidak perlu. Jadi lebih baik anda segera pergi, karena anda sepertinya salah memasuki ruangan!" cetus Jingga menatap tak suka pada wanita itu.
"Kamu mengusir ku?" tanya nya dengan mimik wajah yang di buat se sedih mungkin, "Padahal aku ingin berbaik hati menemani kamu loh, biar kamu gak kesepian."
"Aku tidak butuh teman!" jawab Jingga dengan cepat, "Apalagi modelan seperti kamu!"
"Hahahaha," wanita itu tergelak mendengar ucapan Jingga, "Wajar saja Langit meninggalkan mu sendirian disini. Karena ternyata sifat kamu seburuk ini. Sangat jauh berbeda dengan kakak mu, Biru."
Jingga langsung membulatkan matanya dengan sempurna dan menatap sosok wanita yang kini tersenyum menyeringai menatap nya.
"Uhh aku kasihan sama kamu, adik manis. Kenapa kamu mau di jadikan seorang pengganti?" tanya wanita itu lagi, dan kini ia semakin mendekatkan diri dengan Jingga, "Asal kamu tahu, Jingga. Posisi Biru tidak akan pernah bisa tergantikan. Karena aku saksi perjalanan kisah mereka."
__ADS_1
"Bukan urusan kamu! lebih baik sekarang kamu pergi!" usir Jingga berusaha untuk menahan emosi nya.
"Jingga, apa kamu tahu dimana suami kamu sekarang?" tanya wanita itu lagi, hingga membuat napas Jingga terlihat naik turun. "Dia sedang bersama Biru," bisik nya di telinga Jingga.
Jingga segera menggelengkan kepala nya. Ia tidak akan mudah percaya dengan jelmaan siluman babi seperti wanita itu. Sekuat tenaga Jingga mendorong wanita itu agar menjauh dari nya.
"Apakah tante dulu menyukai mas Langit? cinta tak sampai kah? makanya tante gak terima kalau mas Langit menikah dengan ku? dan memang nya kenapa kalau aku jadi wanita pengganti? tante gak pernah denger ada istilah naik atau turun ranjang yah? aku rasa tidak masalah bila mas Langit pernah memiliki hubungan dengan kak Biru. Kak Biru hanya masa lalu, dan aku yang akan jadi masa depan mas Langit!" ucap Jingga dengan penuh penekanan.
"Apa kamu yakin. suami kamu sudah melupakan kakak kamu?" tanya wanita itu lagi dengan senyum smirk.
"Aku percaya sama suami ku daripada siluman seperti tante!" cibir Jingga mendengus, hingga membuat wanita itu hampir naik pitam.
"Baiklah, bila kamu percaya sama suami kamu. Tapi yang harus kamu ingat, bahwa nama Biru dan posisi Biru di hati Langit. Tidak akan pernah terganti, meskipun kamu adik nya sekalipun. Ah iya, saran ku. Lebih baik kamu hubungi suami kamu, sebelum dia terlalu lengket dengan Biru baru yang bergelar dokter!" ucap wanita itu seraya memperlihat suatu foto kepada Jingga.
__ADS_1
"Aku yakin. kamu bukan lah gadis kecil yang bodoh. Jadi kamu tahu bahwa ini real bukan editan," setelah mengatakan hal itu, dia pun segera pergi meninggalkan ruangan Jingga.