Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 20


__ADS_3

"Dek, ada yang ketinggalan gak? Perlu di cek lagi?" Tanya Langit yang berkali-kali tanya tentang ada yang tertinggal atau tidak.


"Tidak, Mas... Jingga sudah cek semua." Ujar Jingga dengan seulas senyumnya.


"Makasih ya, cantik..." Ucap Langit sambil mencium pipi Jingga.


"Sama-sama ganteng..." Ujarnya dan tertawalah mereka.


Panggilan dari pengeras suara penerbangan menuju, kota London tersebut segera berangkat. Jingga dan Langit bersiap memasuki gate.


"Dek, kenapa sayang?" Tanya Langit yang melihat raut wajah pucat sang istri.


"Aku takut, Mas..."


"Adek takut apa?"


"Gak tau, udah lama gak terbang jauh kali ya, Mas. Jadi deg-degan gini."


"Sini."


Langit memeluk Jingga, mendekatkannya ke dada bidangnya dan di dekapnya erat.


"Kan ada Mas Langit. It's okay, honey." Ucap Langit sambil mengelus kepala Jingga.


"Jangan jauh-jauh dari Jingga ya, Mas..." Ujarnya yang memeluk manja Langit.


"I'm not going anywhere, sweety. I'm here for you." Ucap Langit yang menyandarkan kepala Jingga di pundaknya.


Perjalanan dari Jakarta ke London bukanlah perjalanan yang sebentar. Mereka menempuh waktu kurang lebih 17 jam dengan pesawat yang tanpa transit.


*****


Sesampainya di London, Langit merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah menyusun koper-kopernya.


"Mas... bersih-bersih dulu dong, sayang..." Ucap Jingga yang duduk di pinggir kasur.


"Adek, sini" Panggil Langit ke Jingga yang memintanya untuk duduk di sampingnya.


"Kenapa, Mas?" Tanya Jingga yang duduk di samping Langit dan mengelus lembut kepala Langit.


"Gak apa. Kangen aja." Ujarnya yang kemudian memindahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Hahaha... lagi manja nih suami aku." Ucap Jingga yang tertawa melihat manjanya sang suami.


"Manja sama istri kan boleh..." Ujarnya sembari memperlihatkan gigi rapinya.


"Boleh dong... Mas mau makan dulu? Mandi dulu? Apa mau istirahat dulu?" Tanya Jingga sambil mengelus lembut pipi sang suami.


"Mau begini dulu." Ucapnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jingga dan menghadapkan wajahnya ke perut ramping istrinya. Langit menangkupkan wajahnya.


"Mas, aku bau nih. Belum bersih-bersih." Ujar Jingga.


"Biarin. Mas mau begini dulu." Ucap Langit.


*****


Langit dan Jingga berjalan-jalan menyusuri kota London di pagi harinya. Mereka menuju London Bridge meski hanya sekedar berswafoto, namun untuk Jingga dan Langit ini adalah moment yang indah untuk mereka berdua.


"Mas, sini deh." Ajak Jingga yang duduk di taman penuh bunga.


"Kenapa, sayang?" Tanya Langit yang duduk di samping Jingga.


"Peluukk..." Ujarnya manja kepada sang suami.


Langit yang melihat istrinya bermanja ria dengannya, menjadi sangat gemas.


"Habis ini, adek mau kemana?" Tanya Langit yang sambil mengelus lembut punggung Jingga.


"Mau ke hotel aja..." Jawab Jingga dengan lemas.


"Lho, kenapa?" Tanya Langit.


"Capek, Mas." Ucap Jingga sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Langit.


"Berarti gak jadi ketemu sama Chika?" Tanya Langit kembali.


"Chika bilangnya besok aja ketemunya. Hari ini dia masih ada kerjaan. Gak bisa ditunda. Jahat, ya. Udah di susulin ke sini sama sahabatnya malah mentingin kerjaan." Terang Jingga sambil bersungut.


"Ya... mungkin kerjaannya lagi banyak, dek. Gak apalah... yasudah, kita ke hotel sekarang ya." Ajak Langit kepada Jingga.


"Gendoong..." Jawab Jingga dengan manja.


"Manjanyaaa... istriku ini. Gemesss" Ucap Langit yang mencubit gemas pipi gembul Jingga.


"Sambil nyanyi dong, Mas..." Ujar Jingga yang di gendong belakang oleh Langit


"Nyanyi apa? Nina bobo? Hahaha..." Ucap Langit dengan candanya.


"Hahaha... gak sekalian lagu Tak Gendong?" Yang mengundang tawa Langit dan Jingga.


Setelah perjalanan sepanjang London tersebut. Jingga dan Langit kembali lagi ke hotel. Sesampainya di hotel...


"Makasih sayang..." Ucap Jingga yang turun dari gendongan Langit dan memeluk sang suami.


"Sama-sama, sayangku..." Ujar Langit yang membalas pelukan hangat istrinya.


Setelah istirahat sejenak, bersih-bersih dan berganti pakaian yang nyaman, Jingga dan Langit menikmati pemandangan kota London dari balkon hotelnya.


Jingga yang memeluk Langit dari belakang merasa hangaatt sekali punggung lebar suaminya tersebut.


Langit mencium punggung tangan Jingga yang sedang memeluknya dari belakang.


"Mas Langit, selama menikah, sudah naik berat badan berapa kilo? Hehe..." Tanyanya yang masih memeluk mesra Langit.


"Berapa ya, dek? Berat badanku yang sekarang 70kg kalau gak salah deh." Ucapnya sambil berbalik menghadap Jingga dan menyandarkan tubuhnya pada pagar balkonnya.


"Tadinya berapa kilo, Mas?" Tanya Jingga kembali.


"Berapa ya? 62 kg kalau gak salah. Berarti udah naik 8kg. Hahaha..." Ujarnya sambil tertawa geli.


"Hahaha... banyak ya... tapi gak kelihatan. Kalau pas peluk, Mas, baru berasa badannya berisi." Jelas Jingga.


"Iya, ya? Perutnya buncit ya? Hahaha..." Tanyanya sambil tertawa.


"Enggak, kok. Kalau kotak-kotak gini dibilang buncit terus yang kekarnya seperti apa?? Hahaha..." Ujar Jingga.


"Adek, sukanya aku gemuk atau kurus?" Tanya Langit.


"Mau gemuk, mau kurus, aku mah tetep sayang... Hahaha..." Jawab Jingga dengan taws riangnya.


"Makasih ya, dek... sudah buatku bahagia." Ujar Langit.


"Sama-sama, sayang... terima kasih juga karena tangannya sudah pegal sehabis gendong aku. Hehehe..." Ucap Jingga.


"Dek..."


"Hm?"


"Jingga, apapun aku, bagaimanapun aku, seperti apapun aku, apa kamu tetap akan setia bersamaku?" Tanya Langit dengan menundukkan kepalanya di hadapan Jingga.


"Mas Langit, apa aku pernah bilang, aku menikahimu karena hartamu?" Tanya Jingga dengan memegang wajah Langit dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Pernah, Mas?" Tanya Jingga kembali.


"Tidak, dek." Jawab Langit.


"Berarti Mas Langit seharusnya juga tau, bahwa keadaan apapun kamu, cintanya aku, tetap buat kamu, sayang... cuma bisa buat kamu aja. Udah gak ada tempat buat laki-laki lain." Jelas Jingga dengan seulas senyumnya.


"Kamu tuh, dek. Bisaa... aja, ngerayunya. Hahaha..." Ucap Langit sambil tertawa.


"Yeee... malah dibilang ngerayu. Itu beneran." Jawab Jingga dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Iya, iya. Percaya." Ujar Langit sambil mencubit gemas pipi Jingga.


"Kalau misalkan nih dek, Mas Langit menikah lagi gimana?" Tanya Langit usil.


"Menikah lagi nya saat aku masih ada atau akunya udah meninggal?" Tanya Jingga kembali.


"Kok meninggal sih, dek? Jangan ngomong gitu dong."


"Lho, ya bener dong...? Jadi intinya saat aku masih ada, Mas mau menikah lagi gitu? Nambah istri maksudnya?" Tanya Jingga dengan tatapan tajamnya.


"Ee... iya, gitu maksudnya. Ini kan umpamanya aja." Jawab Langit agak takut-takut dengan Jingga.


"Mas, wanita manapun tidak akan pernah ada yang mau diduakan. Kalaupun ia diduakan dan ia merestui suaminya menikah lagi, itu karena ada faktor-faktor yang membuatnya harus melakukan atau merestui suaminya menikah lagi. Tapi pada dasarnya tak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau diduakan." Jelas Jingga panjang lebar.


"Kalau Mas Langit tetap ingin menikah lagi, Jingga mundur. Lebih baik sendiri daripada diduakan, Mas..." Ucap Jingga yang melihat wajah Langit lekat.


"Dan Mas, gak ada alasan untuk menikah lagi. Kenapa? Karena kamu, Jingga, istriku yang luar biasa hebat ini, tak akan ada yang bisa menggantikannya di hatiku, pikiranku dan hidupku." Jelas Langit.


"Kalau zaman now bilangnya, 'til jannah. Masya Allah... Maafkan, Mas Langit ya, dek... atas pertanyaan yang tidak bermutu itu." Ucapnya sambil mencium puncak kepala Jingga.


"Kirain ujian adanya Ujian Nasional aja. Ternyata ujian dari suami juga ada. Hahaha..." Jawab Jingga dengan tawanya.


"Hahaha... ujian apa dari aku?" Tanya Langit dengan tawanya.


"Ini, ujian langsung. Tanya-jawab. Hahaha..." Ujarnya yang mengundang sang suami tertawa.


"Hahaha... Jinggaaa... Masya Allah... makasih ya sayang..." Ucap Langit yang mengecup kening Jingga dengan senyumnya.


"Kok makasih, Mas? Kenapa?" Tanya Jingga.


"Iya, karena sudah buat aku tertawa bahagia malam ini." Ujarnya sembari mengelus rambut Jingga.


"Haha... sama-sama, sayang... makasih juga ya..." Ucapnya.


"Untuk?"


"Untuk ujian tanya-jawabnya."


Pecah sudah tawa keduanya. Langit memeluk Jingga dengan erat. Jingga pun juga membalasa pelukan hangat sang suami.


*****


Honeymoon yang Jingga dan Langit lakukan memang sangat romantis. Mereka menyusuri kota London yang penuh kenangan antara mereka berdua.


Berswafoto, berpose di berbagai tempat, makan siang bersama, berjalan kaki berdua sambil naik transportasi umum, malamnya mereka makan malam di kafenya ala-ala orang London.


Pengantin baru manapun akan sangat menyukai London sebagai destinasi honeymoon romantis selain Negara Eiffel.


"Dek, kenapa kamu suka sekali London?" Tanya Langit kepada Jingga yang berjalan menyusuri pedestrian.


"Karena kotanya klasik, unik, banyak sejarahnya." Ujar Jingga yang melingkarkan tangannya di lengan kekar Langit.


"Kalau Mas Langit? Suka London?" Tanya Jingga.


"Sangat."


"Kenapa?"


"Tentang?"


"Tentang aku dan kamu yang sedang berjuang untuk menjadi kita."


"Tentang arti sebuah jarak yang mengenalkan kita kepada kerinduan. Dan..."


"Tentang kita. Yang tak pernah saling mencari tapi saling menemukan."


"I LOVE YOU Langitku..." Ucap Jingga sambil mengecup singkat pipi Langit.


"Aku mencintaimu, Aruna Jingga Maharani." Kecupan hangat Langit layangkan di kening Jingga.


******


Perjalanan menyusuri dan berkeliling kota London menjadi salah satu aktivitas yang cukup banyak membuang kalori.


"Sayang... bersih-bersih dulu." Ujar Jingga kepada Langit yang sedang menangkupkan tubuh dan wajahnya di sofa kamar hotel.


"Bentar, dek..." Ucapnya yang masih menangkupkan wajahnya.


"Yasudah, aku duluan deh yang bersih-bersih." Ujar Jingga yang sembari berdiri dari duduknya di sofa tempat Langit.


"Barengan ya?" Tanya Langit yang memegang tangan Jingga dan menghentikan langkahnya dengan cengiran kudanya.


"Yakiin??" Tanya Jingga kembali. Karena Jingga tau betul, Langit tidak terlalu suka jika berhubungan suami-istri dengan keadaan tubuh yang belum bersih.


"Hehehe... nungguin adek aja deh..." Ujarnya sambil senyum kuda.


"Dasar, Maskuuuhh... mesumnyaaa..." Ucap Jingga sembari mencubit gemas pipi Langit dan berlalu masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Setelah bersih-bersih, Langit menyandarkan tubuhnya di tempat tidur sambil melihat kesibukan Jingga yang mondar-mandir sedang menyiapkan barang-barang untuk di masukkan ke koper.


Malam itu, menurut Langit istrinya begitu memikat. Gaun malam pendek se-paha, berwarna hitam agak transparan, bokong yang menonjol dan mencuat ke atas, langsung saja membuat nafsu birahi Langit memanas. Tapi, masih ditahan. Hinggaa...


"Mas, besok kita jadi ketemu sama Chika kan, ya?" Tanya Jingga yang akhirnya duduk di samping Langit.


"Lho, adek kan yang tau. Yang kontak Chika kan kamu, sayang..." Jawab Langit yang membelai lembut rambut Jingga.


"Iya... tapi dari kemarin di chat, gak bales. Di baca doang. Iih, bete." Ujarnya sambil bersungut.


"Coba di telepon sekarang. Siapa tau kemarin lagi ngawal turis. Jadi sibuk." Ucap Langit mencoba menenangkan Jingga.


"Aku telepon dulu ya." Ujarnya sambil mengambil telepon di nakas.


"Assalamualaikum, Ngga. Ya, Allah... maaf Ngga... asli gue baru mau bales chat. Lo udah telepon." Ucap Chika yang nyerocos tiada henti di sebrang telepon Jingga.


"Waalaikum salam. Besok jadi ketemu gak?" Tanya Jingga yang sedang dipeluk oleh Langit dari belakang. Jingga membalas dengan mengelus lembut pipi Langit.


"Jadi. Di deket Big Ben aja ya. Biar gampang nyarinya." Ujar Chika.


"Ok. Jam berapa?" Tanya Jingga kembali.


"Abis dzuhur aja jam 1 an. Soalnya pagi gue masih mau ngurusin data-data turis hari ini." Terang Chika.


"Hooh... gitu. Okay. Jam 1 di Big Ben ya..." Ucap Jingga memastikan kembali.


"Yup!! See you tomorrow, Ngga..." Ujar Chika dari sebrang telepon.


******


Percakapan antar Jingga dan Chika sudah berakhir di telepon. Yang pada intinya, mereka akan janjian bertemu besok siang di dekat menara Big Ben.


Langit yang sejak tadi menempel terus ke Jingga membuat Jingga mengetahui betul suaminya sedang ingin.

__ADS_1


"Sayang, mau apa?" Tanya Jingga lembut.


"Mau adek..." Jawabnya yang sudah dengan deru nafas beratnya.


"Sekarang?" Tanya Jingga yang menghadapkan wajahnya dengan Langit.


"Hm..." Ujar Langit yang mencium pundak Jingga. Langit suka dengan harum tubuh Jingga.


"Mas..." Panggil Jingga yang juga sudah terinfluence nafas berat sang suami.


"Adek, menggoda sekali." Ucapnya yang merengkuh erat pinggang langsingnya Jingga.


"Mas Langit juga." Ujar Jingga yang bersemu merah pipinya karena melihat sang suami yang bertelanjang dada. Memperlihat seluruh roti sobeknya.


"Juga apa?" Tanya Langit menggoda. Yang ia tau betul bahwa istrinya maksud adalah tubuh kekar nan roti sobeknya yang sukses buat Jingga jadi malu sendiri.


"Apa... em... itu... ee..." Ucap Jingga dengan gugup dan semakin merona merah pipinya.


Langit yang mengetahui hal itu, langsung mencium bibir Jingga dengan lembut dan dalam. Jingga menyambutnya dengan mencium juga bibir Langit. Malam yang indah, malam yang penuh usaha untuk membuat Langit Junior.


*****


"Jinggaaaaa..." Sapa Chika yang berlari dan memeluk sang sahabat karibnya.


"Masya Allah... Chikaaa... gue kangen banget sama looo... makin cantik selama berhijab." Ujar Jingga dengan senyum sumringahnya.


"Hahaha... thanks yoo... kirain aneh." Ucap Chika dengan tawa riangnya.


"Enggak kok. Makin cantik malah. Hahaha..." Ujar Jingga dengan tawanya.


"Langiitt... apa kabar???" Tanya Chika yang selalu heboh di mana saja.


"Alhamdulillah... baik, Chik. Lo gimana? Seru di London?" Tanya Langit yang sambil memberikan segelas minuman kepada Jingga dan Chika.


"Seruuu... pake banget. Hahaha... seneng banget gue di sini." Ujar Chika yang sambil tersenyum gembira.


"Gak kangen sama Jakarta?" Tanya Jingga.


"Kangen... tapi siapa yang mau di kangenin ya?" Senyum Chika dengan wajah jahilnya.


"Duh, ileeh... kode banget. Hahaha..." Sahut Jingga dengan tawa jahilnya.


Siang menjelang sore itu menjadi obrolan hangan antar sahabat yang lama tak bersua. Obrolan ngalor-ngidul mereka bicarakan dan menjadi sebuah topik bahasan.


Hingga malam tiba...


"Assalamualaikum..." Sapanya dengan style fashion yang modis. T-shirt hitam, jaket hitam, celana levis dan sepatu sport nya.


"Waalaikumsalam, my broo... yoiii... dateng juga luh... sini,-sini duduk." Ucap Langit.


"Apa kabar, Bim?" Tanya Jingga kepada Bimo.


"Alhamdulillah baik, Ngga. Lo sendiri gimana?" Tanya Bimo.


"Alhamdulillah, baik. Lo lagi ada project di sini, Bim?" Tanya Jingga kembali kepada Bimo.


"Iya, kebetulan banget kita ketemu di sini." Ucap Bimo yang sambil menyesap kopinya.


Chika yang baru datang dari toilet, terlonjak kaget karena melihat sosok Bimo yang sudah duduk di kursi tempat Jingga dan Langit.


"Chik, sini. Ada Bimo, nih." Ujar Langit yang melambaikan tangannya kepada Chika.


Obrolan malam itu begitu panjang. Banyak disisipkan dengan canda tawa. Temu kangen para sahabat.


******


3 BULAN KEMUDIAN


"Mas Langit..." Panggil Jingga yang sudah tak ada lagi tenaga untuk ke toilet. Karena sejak pagi ia mual dan muntah - muntah tak henti.


"Iyaaa... dek..." Jawab Langit yang berlari kecil dari balkon kamar tidurnya menuju kamar.


"Ya, Allah !! Sayang !! Dek, kamu kenapa?" Panggil Langit yang panik akan kondisi Jingga yang begitu lemah dan pucat wajahnya. Langit membawa Jingga ke RS ya.


*****


"Dengan bapak Langit?" Tanya salah satu perawat kepada Langit yang sedang duduk menunggu di luar ruangan.


"Iya, sus. Saya sendiri." Jawab Langit yang berdiri dari duduknya dan menghampiri sang suster.


"Mari, Pak. Ikut saya. Dokter ingin bicara." Jawab si suster.


Langit tak banyak bicara. Ia langsung mengikuti suster bertemu dokter. Pikiran dan hatinya sudah tidak tenang. Takut terjadi apa-apa kepada Jingga.


"Bapak Langit, saya Dokter Sinta." Ujar sang Dokter.


"Iya, Dok. Bagaimana istri saya?" Tanya Langit.


"Bapak Langit, Ibu Jingga, selamat. Kalian akan kedatangan anggota baru. Ibu Jingga hamil, Pak." Jelas sang Dokter.


Penjelasan Dokter Sinta membuat Langit dan Jingga begitu bahagia. Ia akan kedatangan malaikat kecil yang akan menambah riuh keluarga kecil mereka.


"Kandungan Bu Jingga sudah masuk 4 minggu. Di jaga baik-baik ya, Bu, Pak." Terang Bu Dokter.


"Sayang..." Ujar Langit sambil memeluk Jingga.


"Mas... hiks..." Ucap Jingga yang begitu bahagia.


"Namun, Pak Langit. Ibu Jingga kondisinya cukup lemah. Harus banyak istirahat dan minum vitamin ya, Bu. Kalau bisa di selingi dengan kelas olahraga ibu hamil seperti yoga. Supaya memperkuat tumbuh kembang janin." Jelas Bu Dokter.


"Baik, Dok." Ujar Langit.


"Ini saya kasih resep untuk vitaminnya dan istirahat. Banyak makan sayur dan buah juga ya, Bu Jingga." Terang sang Dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih." Jawab Jingga dengan seulas senyum.


"Bapak Langit juga harus banyak bersabar. Karena ibu hamil itu kondisinya tidak menentu. Banyak keinginan-keinginan di luar nalar kita. Emosinya juga tidak stabil. Harus banyak-banyak sabar ya, Pak Langit." Terang Dokter Sinta.


"Iya, Dok. Terima kasih untuk sarannya." Jawab Langit.


"Lalu, untuk hubungan suami istri, belum bisa ya, Pak. Di tahan dulu keinginannya. Biar kuat dulu janinnya ya, Pak, Bu." Ujar sang Dokter.


"Baik, Dok." Ucap Langit dengan seulas senyum.


*****


"Dek," Panggil Langit di kamarnya.


"Iya, Mas." Jawab Jingga lembut.


Jingga berjalan menghampiri Langit yang sedang duduk bersantai di balkon kamar tidurnya.


"Mulai sekarang, kemanapun adek pergi, harus diantar. Mas Langit tidak mengizinkan kamu bawa kendaraan pribadi sendiri. Naik transportasi umum pun juga tidak." Terang Langit kepada Jingga.


"Suamiku khawatir banget ya? Hehe..." Ujarnya sambil dengan seulas senyum.


"Khawatir dong sayang... ini buat kebaikan kamu dan si dedek bayi." Ucap Langit sambil mengelus perut Jingga.


"Makasih ya, Mas. Bahagia sekali aku punya seorang suami yang begitu perhatian." Ujar Jingga seraya mengelus pipi sang suami.


"I LOVE YOU Jingga. MY LOVELY WIFE." Ucap Langit sambil mencium kening Jingga.

__ADS_1


*****


__ADS_2