
Jingga langsung menghempaskan dirinya pada sebuah sofa yang berada di salah satu restauran yang berada di dalam Mall.
Tak lupa, ia menata kembali barang belanjaan nya yang ternyata lumayan banyak. Padahal, ia sama sekali tidak membeli pakaian untuk nya. Iya, semua belanjaan Jingga hari ini untuk sang suami. Entah mengapa, Jingga merasa kasihan karena Langit tidak memiliki pakaian.
'Maklum sih, namanya juga perjaka tua,' gumam Jingga terkekeh, namun sedetik kemudian ia langsung terdiam.
Pikiran nya kembali membayangkan ketika ayahnya masih ada, dimana sang bunda selalu menyiapkan segala sesuatu tentang ayah nya. Tak jarang juga, Jingga menemani bunda untuk memilih pakaian sang Ayah.
Makanya, tidak terlalu sulit untuk Jingga memilih pakaian yang cocok untuk Langit, karena ia selalu membantu bunda nya memilih pakaian ayah nya.
'Ayah.... ' gumam Jingga menghela nafas nya berat. Tidak ingin terus berlarut dalam kesedihan lagi, Jingga pun segera memesan makanan untuk mengisi perut nya.
Sambil menunggu makanan nya datang, Jingga memilih untuk bermain ponsel. Hingga tiba tiba ia mendengar ada seseorang yang memanggil nama nya, membuat nya langsung mendongak dan menatap orang tersebut.
"Kamu sendiri?" tanya seorang laki laki dewasa yang kini sudah berada di depan meja Jingga.
__ADS_1
"Om Nathan kok disini? sama siapa?" kata Jingga malah balik bertanya.
"Om baru selesai bertemu klien, ta—"
"Ketemu Klien di mall?" Jingga langsung memotong ucapan Nathan sambil mengerutkan dahi, "Enak dong, kerja sambil cuci mata."
Nathan yang merasa seperti di sindir pun langsung terkekeh, "Memang nya salah bila bertemu klien di Mall?" tanya Nathan kembali tertawa.
"Ya gak salah juga sih, hehehe. Udah ah, om mau makan gak? mumpung Jingga juga mau makan," ucap Jingga memberi tawaran.
"Kamu mau men traktir Om?" tanya Nathan sedikit ragu dengan mengerutkan dahi.
Nathan ikut tersenyum dan menggelengkan kepala nya melihat tingkah Jingga. Sejak pertemuan nya dengan Jingga beberapa tahun yang lalu, ia selalu di buat tertawa dan terhibur setiap kali bertemu.
"Ayo Om, silahkan duduk," kata Jingga lagi mempersilahkan Nathan untuk duduk di depan nya.
__ADS_1
"Bagaimana sekolah kamu?" tanya Nathan membuka percakapan.
"Baik dong Om, sebentar lagi Jingga ujian. Terus Jingga mau kuliah, setelah itu Jingga mau gantiin Ayah," jawab Jingga dengan sedikit senyum paksa.
Sejak kepergian ayah nya, kini perusahaan milik keluarga Jingga, berada di bawah kungkungan Langit. Ayah nya sudah mempercayakan nya kepada sang menantu. Bukan Jingga tidak mempercayai Langit, hanya saja Jingga merasa kasihan kepada suaminya karena harus menguris tiga perusahaan sekaligus.
Ya, meskipun Langit hanya memantau sedikit dan sesekali memeriksa, tetap saja Jingga merasa tidak enak karena membebani Langit.
"Kamu harus semangat dan terus berjuang. Om hanya bisa bantu doa yang terbaik untuk kamu," ujar Nathan membuat Jingga langsung menganggukkan kepala nya dengan cepat.
Tak berapa lama, makanan yang di pesan Jingga datang. Ia makan dengan begitu lahap karena sudah lelah seharian berkeliling. Sementara Nathan, ia hanya memesan kopi dan mendengarkan cerita Jingga sejak tadi.
Jingga nyaman di dekat Nathan, karena keduanya sering bertemu. Tentu saja, biasanya bersama ayah Faris. Makanya Jingga sudah tidak canggung dan sudah menganggap Nathan sebagai om nya.
Saat keduanya tengah menikmati makan sambil bercerita. Tiba tiba Jingga dan beberapa pengunjung restauran itu di kejutkan oleh suara bariton seseorang.
__ADS_1
"Jingga!" seru nya hingga membuat Jingga hampir tersedak karena terkejut. Matanya langsung membola melihat seorang laki laki yang sudah berdiri di ambang pintu restauran dengan memberikan nya tatapan tajam.
"Nathan!" gumam nya lagi ketika sudah berada di depan meja Jingga dan Nathan.