Langit Jingga

Langit Jingga
Om Sholeh


__ADS_3

“Om Sholeh!” seru Jingga langsung menghentikan aksi nya, begitupun dengan Gerry yang langsung menatap Jingga tajam ketika mendengar Jingga kembali memanggil nya dengan sebutan om Sholeh.


“Pak Gerry,” gumam Farah dan lainnya langsung menunduk hormat.


“Ada apa ini?” tanya Gery sekali lagi, ia mengerutkan dahi nya ketika melihat pelipis Jingga yang sedikit berdarah sementara Farah terluka di bagian sudut bibir.


“Gak ada apa apa,” jawab Jingga cemberut, “Om jangan bilangin ayank Langit ya. Jingga mau pulang.” Imbuh nya sengaja menekan kata ayank agar membuat Farah dan lain nya kesal, “Ah iya, buat tante tante bertiga. Semoga lain kali kita gak ketemu, apalagi tante kamu (Menunjuk Farah) jangan harap bisa gantiin bunda Jingga!” cetus jIngga lagi.


“Tunggu dulu!” Gery menahan tangan Jingga hingga membuat gadis itu memekik tertahan, karena tadi tangan nya seperti tercengklak akibat ulah Farah, “Maaf,” kata Gery spontan.


“Kalian bertiga, ikut saya ke atas!” ucap Gery lagi dengan sorot mata tajam nya menatap ketiga karyawan, sementara tangan nya langsung menarik tangan Jingga dan memasuki lift khusus berdua.


“Om, jingga mau pulang,” rengek Jingga membuat Gerry langsung menghela nafas nya berat, tadi dirinya hendak pulang. Namun malah melihat keributan, karena penasaran akhirnya ia melihat dan betapa terkejut nya ia ketika melihat Jingga di tindih oleh Farah dengan satu tangan Jingga menjambak rambut Farah dan tangan Farah mencekik leher Jingga.

__ADS_1


“Hah, kalian kenapa?” pekik Maxim terkejut melihat Farah dan Jingga yang penampilan nya sudah tak terbentuk.


“Max, panggil si Langit deh, suruh ngurusin ini anak nya.” Keluh Gerry pusing mendengar ocehan Jingga di sepanjang lift tadi.


“Enak aja, masa Jingga anak om Langit, sejak kapan om Langit nikah sama bunda nya Jingga!” cetus Jingga kesal.


“Sabar Ger, sabar. Jangan di jawab, nanti bakal panjang urusan nya,’ gumam Gery dalam hati menarik nafas panjang, berusaha meredam emosi nya agar tidak keluar.


Gery pun akhirnya membawa Jingga dan ketiga karyawan Langit menuju ruang meeting, agar bisa lebih leluasa menjelaskan kronologi kejadian dengan jelas. Tak butuh waktu lama, tiba tiba kini Langit dan Maxim sudah masuk ke dalam ruang meeting dengan raut wajah datar nya.


“Apa kalian sudah bosan bekerja disini?” tanya Langit menghela nafas nya dengan kasar.


“Kami gak salah Pak, tapi dia yang salah,” ucap Farah menunjuk ke arah Jingga.

__ADS_1


“Apa yang dia lakukan?” tanya Langit langsung menatap tajam pada Farah.


“D—dia yang menampar saya sampai bibir saya berdarah pak, makanya saya membalas nya,” balas Farah membela diri, “Bener kan?” imbuh nya menyikut kedua teman nya.


“I—iya Pak,” jawab Wina dan Hani bersamaan dengan sedikit gugup dan terbata.


“Terus aja Tante, terus salahin saya.” Gumam Jingga menatap ketiga lawan nya dengan sinis, sambil menopang dagu nya di meja.


“Jingga!” ujar Langit menatap Jingga, “Bukankah tadi aku sudah menyuruh mu untuk pulang? Kenapa malah seperti ini?”


“Om, pernah denger istilah gak? Gak mungkin ada asap kalau gak ada api?” tanya Jingga dengan santai, “Menurut om, apa mungkin JIngga menampar tante itu kalau gak ada yang mulai? Jingga masih waras Om,” tekan Jingga mencebik.


Langit terdiam dan mencerna kata kata Jingga, memang benar. Meskipun sikap Jingga seperti itu,namun ia tahu bahwa gadis itu tidak akan memulai pertikaian lebih dulu tanpa ada yang menyulut emosi nya.

__ADS_1


“Om mau tau awal mula nya?” tanya Jingga menatap Langit, “Jingga ada kok rekaman nya,” imbuh nya sambil mengeluarkan ponsel nya. Tadi saat di lift, dirinya hendak memesan taxi atau ojek online, dirinya sempat merekam ucapan Farah dan ketiga temannya.


__ADS_2