Langit Jingga

Langit Jingga
Terimakasih


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Auwhhh!


Mendengar suara lenguhan istrinya, membuat Langit langsung membuka mata dan mengucek nya perlahan. Langit tidak membantu Jingga yang sedang terlihat meringis hendak bangun dari tempat tidur. Ia hanya sedikit tersenyum miring dan menatap Jingga dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Dosa loh, lihat istri begini gak di bantuin!" cetus Jingga ketika sudah sadar bahwa suami nya tengah terjaga.


Langit hanya terkekeh, lalu ia ikut duduk dan langsung memeluk Jingga dari belakang. Kedua tubuh yang masih polos itu kembali bersentuhan hingga membuat sekujur tubuh Jingga kembali meremang.


"Terimakasih," bisik Langit yang semakin mengeratkan pelukan nya pada Jingga.


Tidak hanya pelukan, namun Langit juga kembali menciumi tengkuk istri nya, hingga membuat Jingga seketika menahan napas.


"Mas, jangan begini. Geli ih," ujar Jingga mengadahkan kepala nya ke atas hingga membuat Langit semakin leluasa dalam meng ekspos leher jenjang milik Jingga.

__ADS_1


"Terus maunya gimana? mau lagi hem?" tanya Langit dengan seringai licik di wajah nya.


"Mau, tapi masih sakit," rengek Jingga memanyunkan bibir nya sebal, membuat Langit langsung terkekeh.


"Aku siapin air hangat ya, biar rileks." Jingga hanya menganggukkan kepala nya dan kembali merebahkan tubuh di tempat tidur sambil memainkan ponsel nya.


Setelah beberapa saat menunggu, kini Langit sudah keluar dari kamar mandi. Jingga segera meletakkan ponsel nya dan merentang kan kedua tangan nya meminta untuk di gendong.


"Menurut novel yang Jingga baca, setelah mereka melakukan hal seperti itu. Pasti ceweknya akan di gendong ke kamar mandi, terus di mandiin deh sama cowok nya. Dan Jingga mau begitu," jelas Jingga seraya menyengir lebar.


Dengan perlahan, Langit menurunkan Jingga ke dalam Bathtub. Air hangat yang di siapkan oleh Langit, benar benar bisa membuat tubuh Jingga menjadi semakin rileks. Terutama bagian intinya yang terasa perih, kini perlahan mulai menghilang rasa perih itu.


"Aku mandi di sana!" ucap Langit menunjuk ke arah bilik shower, namun dengan cepat Jingga menggelengkan kepala nya, melarang Langit untuk beranjak.


"Mas, masuk kesini juga. Mandi berdua," kata Jingga mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda sang suami.

__ADS_1


Langit menghela nafas nya dengan kasar. Namun, ia pun tetap menurut dan memasukkan dirinya ke dalam bathtub.


"Mas,"


"Hemm." jawab Langit sambil mengusap punggung Jingga dengan begitu lembut.


"Mau coba disini gak?" tawar Jingga seraya menolehkan kepala nya ke belakang. Namun, Langit dengan cepat menggelengkan kepala nya dan menolak.


Semalaman mereka bergulat, Langit juga memikirkan keadaan Jingga. Ia tidak mau Jingga terlalu kelelahan. Terlebih, sejak semalam, Jingga malah yang terlihat dominan meminta dengan berbagai macam gaya. Langit tidak menyangka, bahwa ternyata Jingga begitu ahli dalam bergaya, meskipun tetap dirinya yang bekerja dan memimpin pertandingan hingga mencetak gol kemenangan.


"Kamu masih sakit, Sayang," ujar Langit dengan lembut.


"Tapi Jingga gapapa, mas Langit yang akan sakit kalau gak mau," kata Jingga yang memang sejak tadi sudah merasakan ke anehan dari balik tubuh nya.


Tentu saja aneh, karena posisi keduanya saat ini, Langit duduk di belakang Jingga. Sehingga Jingga bisa merasakan dengan jelas ketika sang pemain sudah terjaga dan siap memasukkan bola ke gawang.

__ADS_1


__ADS_2