Langit Jingga

Langit Jingga
Tangis Jingga


__ADS_3

“Bundaaaaaa!” teriak Jingga ketika sudah sadar dari pingsan nya, ia langsung menjerit dan melepaskan selang infus di tangan nya.


“Jingga, kamu mau kemana?” Langit yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung berlari menghampiri Jingga dan menahan nya agar tidak turun dari brankar.


Karena saat ini, tubuh Jingga benar benar sangat lemah.


“Bunda, Jingga mau sama Bunda. Jingga mau Bunda!” jerit nya di sertai isak tangis yang begitu memilukan. Dengan cepat, Langit segera memeluk tubuh Jingga dan mencoba menenangkan nya.


Langit sudah yakin bahwa Jingga memanglah Alesha yang beberapa waktu lalu ia hubungi. Tadi, ketika JIngga pingsan, ia sempat kembali menghubungi nomor Alesha, dan benar saja nomor nya tertera di ponsel Jingga. Dan kini, Langit seolah mendapatkan jawaban, mengapa pertemuan nya dengan Jingga saat itu berada di makam Biru. Karena Jingga adalah adik kandung Biru, ingin rasanya Langit merutuki kebodohan nya lagi, mengapa ia harus bertemu Jingga. Mengapa kini ia harus mengenal gadis itu.


“Om, Jingga mau sama Bunda, Jingga mau ketemu bunda, hiks hiks hiks.” Gumam Jingga di tengah isak tangis nya sambil memeluk Langit dengan sangat erat.

__ADS_1


Bohong bila hati Langit tidak merasa sesak. Sejak tadi, ketika ia melihat orang tua Jingga kecelakaan, ia sudah menangis karena tidak tega. Biar bagaimanapun, kedua orang tua Jingga, kembali mengingatkan nya akan sosok Biru. Dan kini, ia merasa semakin sesak ketika melihat dan mendengar tangis Jingga. Tapi mengapa harus Jingga? Mengapa gadis itu adalah Jingga, dan kenapa Jingga harus adik Biru.


‘Ya Tuhan, mengapa takdir Mu begitu sulit untuk ku tebak. Mengapa engkau mempertemukan aku dengan nya? Mengapa harus dia.’ gumam Langit dalam hatinya sambil memejamkan mata erat.


Jingga terpaksa harus di berikan obat penenang lagi, karena kesehatan nya benar benar tidak baik baik saja. Dari ketika masih di sekolah, dan kini, seolah penderitaan nya tiada akhir. Makanya dokter menyarankan agar istirahat terlebih dulu.


Setelah memastikan Jingga kembali tertidur, Langit pun segera keluar dan menemui pak Faris yang ternyata sudah sadar beberapa menit yang lalu. Banyak hal yang ingin Langit pertanyakan kepada beliau, namun ia juga bingung harus memulai darimana.


“Selamat sore Om,” sapa Langit kepada pak Faris ketika memasuki ruangan.


“L—Langit ... “ gumam nya begitu lirih karena terhalang oleh selang oksigen.

__ADS_1


“Apa Om mau bertemu dengan Jingga?” tawar Langit sebelum ia duduk di samping pak Faris.


Pak Faris pun menggelengkan kepala nya pelan, matanya menatap pada langit langit kamar nya. Entah apa yang ia pikirkan, namun Langit tahu bahwa pak Faris tengah merasa sangat sedih mengingat kejadian yang menimpa dirinya dan istrinya.


Tadi, Faris baru saja pulang dari luar kota tadi pagi. Ia berniat mengajak istrinya untuk menjemput Jingga ke sekolah, karena pagi tadi, Elsa mengatakan kemarin dirinya dan Biru berdebat perihal Biru. Bahkan, Elsa sampai menampar wajah Jingga karena tidak menyukai kata kata yang Jingga ucapkan. Karena merasa tak tega, melihat istrinya terus menangis menyesal, akhirnya Faris mengajak Elsa untuk menjemput Jingga.


Namun, siapa sangka, ketika keduanya tengah membahas perihal Biru dan Jingga tiba tiba mobilnya di terjang oleh sebuah mobil dari lawan arah. Dimana mobil itu juga tengah di terjang oleh sebuah truk bermuatan besar, sehingga membuat beberapa kendaraan ringsek seketika. Dan salah satunya adalah mobil Faris dan Elsa.


Faris pun tahu bahwa istrinya tak tertolong, karena ketika kejadian, ia masih sadar dan juga ia melihat bagaimana istrinya menghembuskan nafas terakhir ketika masih di tempat kejadian.


‘Biru ... ‘

__ADS_1


__ADS_2