
"Selamat pagi, Papa!" sapa Jingga ketika sudah sampai di meja makan.
"Pagi, Jingga. Langit mana?" tanya papa Danu sambil mengoleskan selai pada roti.
"Masih di kamar Pa, semalam papa pulang jam berapa? Maaf ya, Jingga sudah tidur dan gak bisa nyambut Papa," ujar Jingga sedikit sedih.
Papa Danu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Entah luar kota, atau luar negri. Dan hanya akan ada di rumah satu sampai tiga hari paling lama. Selebihnya, akan ia habiskan di luar sana.
"Gapapa, oh ya bagaimana ujian kamu?" tanya papa Danu mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar Pa, tinggal hari ini saja. Maka Jingga merdeka!" sorak nya begitu bersemangat.
"Andai dulu Langit memiliki jiwa semangat seperti mu!" gumam papa Danu kecil sambil tersenyum.
"Memang nya mas Langit dulunya gimana Pa?" tanya Jingga penasaran.
__ADS_1
"Langit dulu sangat nakal, badung dan keras kepala. Huh, papa sampai pusing dulu untuk menghadapi nya, tapi... sejak suami kamu kenal sama cewek, dia langsung berubah!"
"Woahh, apakah mas Langit jadi pendiam dan rajin?"
Papa Danu terkekeh melihat wajah Jingga yang sangat antusias mendengar ceritanya, "Iya, suami kamu berubah jadi dingin, seperti kulkas sepuluh pintu!" kata papa Danu menggelengkan kepala nya, "Tapi sekarang, es itu sudah mencair. Berkat Jingga, terimakasih ya Nak."
"Jingga penasaran deh Pa, apakah cinta pertama memang se menyakitkan itu? sampai bisa merubah seseorang. Dan juga, kenapa papa gak biarin mas Langit menikah dengan pacar nya itu, kenapa bisa mas Langit jadi perjaka tua begini?" tanya Jingga begitu serius menatap mertua nya.
"Perjaka tua ini, suami kamu!" cetus Langit tiba tiba muncul di belakang Jingga dan menyerahkan tas nya pada Jingga.
"Hehehe," Jingga langsung menyengir lebar menatap suaminya yang terlihat begitu kesal, "Maaf Mas."
"Papa kapan berangkat lagi?" tanya Langti to the point.
"Mas, kamu jahat banget sih. Papa baru pulang masa udah di suruh berangkat lagi!" saut Jingga langsung menatap suaminya dengan horor.
__ADS_1
Untuk sesaat, papa Danu dan Langit saling menatap. Seolah berbicara dengan menggunakan sorot mata satu sama lain. Tentu saja, Jingga tidak mengerti akan hal itu.
Jingga hanya bisa diam dan pasrah, ia pun segera menyelesaikan sarapan nya. Setelah selesai, Langit segera mengantarkan Jingga ke sekolah.
Meskipun mobil Jingga sudah di bawa ke rumah Langit, namun Langit masih belum. mengizinkan Jingga membawa mobil.
"Nanti aku jemput kamu," kata Langit ketika Jingga hendak turun dari mobil.
"Nanti, Jingga agak telat satu jam. Jadi, mas Langit gak usah buru buru," jawab Jingga sambil mencium tangan Langit, dan di balas usapan kepala oleh Langit.
"Baiklah, aku pergi."
Jingga melambaikan tangan menatap kepergian mobil suaminya. Setelah itu, ia segera bergegas pergi ke kelas nya. Namun, sepanjang perjalanan menuju kelas, ia di buat bingung ketika hampir semua murid yang berpapasan dengan nya langsung berbisik dan membicarakan Jingga di belakang.
"Kalian ada masalah apa sih!" pekik Jingga yang sudah merasa risi dengan tatapan teman teman nya.
__ADS_1
Tidak hanya yang berpapasan dengan Jingga, namun juga teman sekelas nya ikut menatap nya aneh. Hingga membuat kesabaran nya habis dan meledak.