
Hari ini, Jingga begitu malas untuk beranjak dari tempat tidur nya. Maka dari itu hari ini dirinya libur untuk mengikuti suami nya ke kantor. Bahkan, untuk kuliah saja dirinya tidak mau. Entah mengapa, ia merasa tubuh nya sangat mudah letih dan juga kepala nya sedikit berdenyut, hingga membuat nya ingin berlama lama di tempat tidur.
"Kamu yakin?" tanya Langit sekali lagi sebelum benar benar berangkat ke kantor.
"Hemm, udah sana ih! Jingga masih ngantuk!" rengek Jingga menepis tangan Langit yang sedang mengusap di kepala nya.
"Baiklah, kalau kamu butuh apapun. Segera hubungi aku, atau minta bibi untuk buatkan," kata Langit dan hendak mencium kening Jingga. Namun, secepat kilat Jingga kembali menutup kepala nya dengan selimut.
"Gak mau di cium! udah sana buruan pergi!" usir Jingga dari balik selimut nya.
Langit pun hanya bisa menghela napas dengan kasar. Ia sendiri juga bingung mengapa mood istri nya begitu mudah untuk berubah. Padahal, bila dia ingat ingat, ini bukan hari mendekati waktu tamu Jingga untuk datang.
Tidak ingin mengambil pusing, atau ribut dengan Jingga. Langit pun segera bergegas dan beranjak pergi ke kantor.
__ADS_1
Sementara itu, Jingga yang sudah mendengar Langit sudah pergi, langsung membuka kembali selimut nya. Ia sedikit mendengus cuek, lalu kembali memejamkan mata untuk tidur.
"Bagus! pulang paling cepet, berangkat paling lama! hebat!" sindir Maxim tanpa menatap lawan bicara nya, laki laki itu terlihat fokus kepada beberapa berkas di tangan nya dan sesekali membenarkan kaca mata nya. Namun mulut nya sejak tadi terus mengoceh seperti burung iprit.
"Kamu menyindir ku!" seru Langit langsung menghentikan langkah nya di depan Maxim.
"Menyindir apa? aku sedang membaca berkas!" jawab Maxim mengelak, namun Langit tau betul bahwa Maxim tengah menyindir nya.
"Lebih baik, aku datang terlambat, atau aku membawa Jingga kemari?" kata Langit sembari mendudukkan diri nya di kursi.
Langit tahu, bahwa akhir akhir ini Maxim selalu di buat kesal oleh istri nya. Maka dari itu, Maxim selalu menghindari untuk masuk ke dalam ruangan nya. Mencegah lebih baik, begitu kata Maxim.
"Sudahlah, berkas apa yang kau bawa?" kata Langit mengalihkan pembicaraan dan mulai dalam mode serius.
__ADS_1
"Sisil!" ucap Maxim datar dan langsung memberikan beberapa berkas di tangan nya kepada Langit.
Tak berbeda dengan Maxim, Langit pun hanya bisa menghela napas kasar dan juga sedikit mengerutkan dahi.
"Kenapa dia tidak pernah jera?" keluh Langit memijit pelipis nya yang terasa sangat pusing.
"Kamu tahu apa tujuan dia. Jadi menurut ku, selama dia belum mendapatkan apa yang dia mau, maka dia tidak akan menyerah. Kamu tahu pasti, bagaimana sikap nya sejak dulu!" jelas Maxim panjang lebar membuat Langit menganggukkan kepala nya.
Sisil, adalah wanita yang hendak di jodohkan oleh papa Danu kepada Langit. Namun Langit tidak mau menerima nya karena Sisil sudah membuat luka begitu dalam untuk nya. Salah satu nya adalah, sudah membuat gadis tercinta nya anfal dan masuk rumah sakit. Langit masih mengingat jelas kejadian belasan tahun yang lalu.
Dan kini, Sisil kembali datang dengan membawa berkas kerjasama untuk mengambil alih gedung sekolah SMA GAHARU, untuk di jadikan pusat perbelanjaan oleh Sisil.
Tentu saja Langit tidak akan menyetujui nya. Bukan karena, sekolah itu banyak kenangan bersama Biru. Namun, karena menurut nya, SMA Gaharu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Dan juga, bukankah pendidikan lebih penting, daripada pusat perbelanjaan? batin Langit.
__ADS_1
Maka dari itu, Langit berusaha untuk mempertahankan nya. Namun, Sisil malah mengancam akan mengatakan semua nya kepada Jingga, istri Langit. Yang Sisil ketahui bahwa Jingga adalah adik kandung Biru. Sisil pun juga tahu bahwa Jingga tidak menyukai Biru, maka dari itu, akan mudah untuk Sisil menghasut Jingga agar Langit mau menjual sekolah itu. Dengan dalih, agar Langit bisa melupakan Biru masa lalu nya.