Langit Jingga

Langit Jingga
Papa mertua


__ADS_3

Langit membawa Jingga untuk pulang ke rumah nya. Dan kedatangan nya langsung di sambut hangat oleh papa Danu. Ia sangat bahagia ketika mendengar kabar bahwa anak nya sudah menikah. Sebenarnya ia sangat ingin menghadiri acara pernikahan Langit dan Jingga waktu itu, namun kebetulan dirinya sedang ada pekerjaan penting id luar negri, dan saat itu ia baru sampai sehingga tidak bisa kembali pulang saat itu juga. Namun, meski begitu, papa Danu juga sudah sempat melakukan video call ketika Langit dan ayah Faris berbincang sebelum Jingga sadar kala itu.


“Selamat datang menantu Ku,” ucap papa Danu langsung merentangkan kedua tangan nya, aula nya Jingga merasa malu dan canggung, namun ternyata mertua nya begitu welcome dan langsung menyambut nya.


Jingga merasa bahwa pelukan papa Danu begitu hangat seperti pelukan ayah nya. Jingga merasa begitu bersyukur karena kini dirinya mempunyai papa kembali, meski hanya papa mertua bukan ayah Faris.


“Terimakasih Om,” kata Jingga tersenyum canggung setelah melepaskan pelukan nya.


“Om?” papa Danu mengerutkan dahi nya menatap Jingga, “Panggil Papa, oke.”


Meski umur papa Danu tidak muda lagi, rambut nya sudah full dengan warna putih. Bukan karena pewarna, namun warna itu alami pemberian Tuhan karena umur nya yang sudah sangat muda. Namun papa Danu ternyata begitu asik dan suka bercanda, ia begitu mudah mencairkan suasana, tidak seperti Langit yang malah terkesan kaku dan dingin.

__ADS_1


“Ah iya, papa,” kata Jingga tersenyum.


“Kapan papa pulang? Bukankah papa bilang minggu depan baru bisa pulang?” tanya Langit dengan wajah datar nya.


“Papa sengaja pulang awal agar bisa menyambut menantu impian papa. Tiga puluh lima tahun lebih papa baru bisa merasakan punya menantu, ckck. Padahal teman teman papa sudah banyak yang punya cucu bahkan cicit,” cibir papa Danu melirik sinis pada putra nya.


“Papa masih capek, sebaiknya papa istirahat dan Jingga juga akan istirahat.” Ucap Langit memilih untuk pergi daripada terus di sindir oleh papa nya.


“Baiklah, Jingga kamu istirahat. Buatlah dirimu nyaman disini, anggap seperti rumah mu sendiri, dan jangan canggung. Mulai saat ini, saya adalah papa kamu, jadi jangan sedih lagi,” ujar papa Danu begitu tulus.


Langit sudah cukup lama tidak pulang ke rumah nya, namun ia sudah meminta tolong kepada pembantu nya agar membersihkan kamar nya, dan memindahkan barang barang nya ke kamar lain sebelum dirinya datang membawa Jingga.

__ADS_1


“Om, ini kamar Jingga?” tanya Ingga ketika memasuki kamar yang cukup luas, bahkan luas nya dua kali lipat dari kamar nya di rumah.


“Iya,”jawab Langit sambil berjalan menuju walk in closed untuk meletakkan koper milik Jingga.


“Terus kamar om dimana?” tanya Jingga polos, seketika membuat Langit menghentikan langkah nya, ia membalikkan tubuh dan menatap ke arah Jingga.


“Ini kamar ku!” jawab nya masih menatap Jingga intens.


“Katanya ini kamar Jingga, kok ini kamar om, maksud nya gimana sih?” tanya Jingga memanyunkan bibir nya dengan kesal.


“Apa kamu lupa kalau kita sudah menikah?” tanya Langit lagi mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


Deg!


Seketika, Jingga langsung melepaskan tangan nya yang tadi sedang bersedekap di dada. Matanya membola seolah ia tersadar bahwa ini status nya adalah seorang istri, bukan gadis perawan yang jomblo lagi.


__ADS_2