
"Kalau kita ke Maroko? Gimana?" Tanya Jingga sambil mendongakkan kepala melihat Langit.
"Boleh. Adek, mau kemana kalau di Maroko?" Tanyanya.
"Ke Chefchaouen." Ujar Jingga.
"Ke apa, dek?"
"Chefchaouen, sayang..."
"Itu tempat namanya gak ada yang lain, dek?" Tanya Langit yang mengundang tawa Jingga.
"Hahaha... emang begitu namanya, Mas... susah ya nyebutnya?" Tanya Jingga yang masih tertawa geli.
"Iya. Lidahnya kesleo. Hahaha...." Ujar Langit dengan tawanya.
"Gimana? Jadi gak ke Maroko? Apa mau ke tempat lain aja?" Tanya Jingga kembali kepada Langit.
"Mas Langit sih ok ok aja. Mau di mana juga. Yang penting kan ada kamunya. Hehehe..." Ucapnya sambil mengelus lembut rambut Jingga.
"Mas ada rekomendasi tempat lain gak?" Jingga.
"Emm... Maldives? Italia? Prancis? Greece? Jepang? Korea?" Tanya Langit beruntun kepada Jingga.
"Adek pasti pilih Negara yang paling terakhir Mas sebutin ya? Hahaha..." Ujarnya sambil tertawa riang.
"Hahaha... kok tau sih Mas... ke situ aja yuk... hehehe..." Ucap Jingga sembari menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Boleh. Kalau kamu maunya ke sana." Jawab Langit.
"Beneran boleh?" Tanya Jingga dengan mata berbinarnya.
"Iya, dek..."
"Seriusan?? Boleh??" Tanya Jingga kembali.
"Iya, sayangkuuu... boleh. Adek tinggal bilang sama Mas Langit mau kapan berangkatnya. Sekarang? Besok? Minggu depan? Bebas..." Jelas Langit.
"Waahh... seriusan? Kalau gitu kita ke Bali aja. Hahaha..." Ucap Jingga dengan tawanya.
"Hahaha... ya kali dek. Kita udah sampe Maroko kamu balik lagi ke Bali." Ujar Langit tertawa geli.
"Hahaha... habis bingung. Udah di rumah aja kalo gitu."
"Lah... itu lebih parah. Hahaha... ngapain ngomongin honeymoon. Sekarang aja mendingan dek. Hahaha..." Jawab Langit dengan tertawa geli sekali sambil mengacak-acak rambut Jingga.
"Hahaha... habis mau kemana coba? Bingung..." Sahut Jingga dengan tawanya.
"Yaudah, nanti kita pikirin lagi deh." Ucap Langit.
*****
"Mas Langiit..." Panggil Jingga dari ruang ganti.
"Apa sayang..." Jawabnya sambil memeluk Jingga dari belakang.
"Mas, tadi sudah ambil tas ransel yang warna hitam? Yang aku taruh di atas kursi dekat meja kaca?" Tanya Jingga yang masih sibuk dengan susunan baju di kopernya.
"Hhuft... iya, sudah. Ada di sofa kamar." Jawabnya sembari melepas pelukannya dari Jingga.
"Sayang... maaf..." Ucap Jingga haluuss... sekali suaranya.
Jingga tau bahwa Langit sedang ingin dengannya. Namun, ia cukup sibuk untuk menyiapkan keperluan mereka untuk honeymoon nanti.
Jingga melingkarkan lengannya di pinggang Langit dan mendongakkan kepalanya sambil melihat Langit, kemudian berjinjit lalu mengecup bibir Langit yang sudah mencibik itu.
"Adek sibuk banget dari kemaren. Akunya di cuekin." Ujar Langit yang masih mencibikkan bibirnya.
"Maaf ya... aku terlalu bersemangat. Udah selesai kok packingnya. Mas mau apa sekarang? Mm?" Tanya Jingga dengan seulas senyumnya.
"Gak jadi." Jawab Langit sambil membuang wajah.
"Yasudah. Jingga ke bawah dulu." Ucap Jingga sambil melepas pelukannya.
Saat Jingga berjalan perlahan menjauh dari suaminya, Langit menggenggam tangan Jingga dan langsung mencium lalu *******, bibir Jingga.
"Gak jadi ngambek?" Canda Jingga kepada Langit yang sudah melepas ciumannya.
"Kan... ngeledek kan..." Ujar Langit sambil mencibikkan bibirnya.
"Hahaha... kok ngeledek? Bener kan?" Jawab Jingga dengan tawanya.
"Iya, maaf deh. Harusnya Mas juga bantuin adek buat beberes. Tapi sibuk sama laptop Mas Langit sendiri." Jelasnya sambil menundukkan kepala.
"Enggak kok sayang... justru aku senang dengan kesibukkan baruku. Melayani suami." Ucapnya sambil mencium pipi Langit.
"I love you." Ujar Langit yang mencium kening Jingga.
"Love you too, hubby." Ucap Jingga sambil memeluk Langit erat.
"My lovely wife. Terima kasih sayang..." Ujar Langit yang bertubi-tubi mencium kening Jingga dan mengecup puncak kepala istri tercintanya.
******
"Mas, di London kayaknya lagi winter." Ucap Jingga yang duduk meringkuk memeluk Langit.
"Iya, dek. Mas juga tadi cek cuaca, di sana lagi winter. Berarti bawa bajunya yang tebal-tebal." Ujar Langit sambil menyelimuti Jingga dan mengangkat kepala Jingga untuk bersandar di lengan kokohnya.
__ADS_1
Cuaca malam ini, hujan. Membuat pasangan pengantin baru itu semakin merapatkan tubuhnya. Langit dan Jingga sedang berbaring di sofa panjang, di teras kamar tidurnya.
"Dek, kemarin Mas Langit dapat email dari Bimo." Ucapnya sambil memilin rambut Jingga yang panjang sepunggung itu.
"Bimo? Apa kabar dia Mas?" Tanya Jingga yang cukup terkejut.
"Alhamdulillah, baik dek. Dia lagi di Belanda sekarang. Ada kerjaan di sana. Chika gak ngasih kabar, dek?" Tanya Langit.
"Terakhir yang kita video call itu, Mas. Habis itu belum ada kabar lagi. Aku tanya Mala sama Bila juga gak di kasih kabar mereka. Kenapa Mas? Bimo baik-baik aja kan?" Tanya Jingga yang agak cemas.
"Bimonya sih baik-baik aja. Tapi kemarin di email dia cerita kalau dia ketemua sama Chris. Kakak tirinya Chika. Bimo baru tau kalau Chris ternyata se******t itu." Terang Langit.
"Maksudnya gimana?" Tanya Jingga.
"Dia, si Chris, melakukan hal yang tidak senonoh sama asistennya. Masuk kantor polisi lagi. Dibelain lagi sama orangtuanya dan si perempuan yang jadi korban cuma di kasih ganti rugi aja. Bimo cemas aja sama Chika. Karena dia sama sekali gak bisa cari tau kabar Chika." Jelas Langit.
"Waahh... segitu bahayanya?? Aku jadi ikutan cemas ke Chika deh, Mas. Tapi, sebenernya Bimo suka gak sih sama Chika?" Tanya Jingga.
"Bimo itu orang yang paling teramat sangat tidak peduli dengan urusan orang lain. Cueknya super duper parah. Lebih parsh dari aku. Tapi kalau sampai dia nanyain kabar seseorang, berarti dia serius sama orang tersebut dan Bimo serius sama Chika." Terang Langit sambil mengecup pelipis Jingga.
"Tapi Bimo kelihatan cuek gitu. Cuek gak peduli tapi nyosor aja. Kasian kan temen aku. Di PHP-in gitu." Ucap Jingga dengan wajah sendunya.
"Hahaha... Bimo emang gitu dek, karakternya. Tapi dia sekalinya udah sayang, pol-polan sayangnya." Ujar Langit dengan tawanya.
"Kalau kamu? Pol-polan gak sayangnya?" Tanya Jingga dengan senyum lebarnya.
"Aku mah dek... kamu di sini aja, aku rindu. Apalagi kamu jauh. Aku cinta mati. Hahaha..." Ucap Langit dengan candanya.
"Ya Allah, aku di gombalin. Hahaha..." Jawab Jingga dengan tawanya.
"Hahaha... ilmu gombalnya kan dari kamu, dek." Ucap Langit sambil mencubit gemas hidung Jingga.
"Itu ilmu gombal apa ilmu pelet ya? Kok awet banget? Udah kayak cintanya aku ke kamu. Hahaha..." Ujar Jingga yang mengundang tawa geli Langit.
"Makasih lho, buat cintanya. Hahaha..." Ucap Langit dengan tawanya.
"Kamu tuh, dek. Bisaan banget bikin suaminya makin sayang dan tambah cinta." Ujar Langit.
"Makasih lho buat tambahan rasa sayang dan cintanya." Jawab Jingga yang seketika membuat mereka berdua tertawa bersama.
Namun tawa mereka terhenti ketika mata mereka saling berpandangan dan Langit memegang dagu Jingga, lalu mengecupnya lembut.
"Kita dari kemarin mau bikin malam yang indah gagal terus ya, dek. Hehehe..." Ujar Langit yang melepas ciumannya ke Jingga.
"Hahaha... iya, ya Mas. Ada aja kisahnya." Sahut Jingga dengan tawa riangnya.
"Kalau malam ini gimana, dek? Boleh?" Tanya Langit.
"Adek sudah siap belum?" Tanya Langit kembali meyakinkan Jingga.
"Insya Allah, aku siap, Mas." Ujarnya yang membuat Langit senyum sumringah.
Terlihat gurat kekecewaan dari wajah Langit yang langsung diketahui oleh Jingga, sang istri.
"Sabar ya, sayang..." Ucapnya sambil mencium bibir Langit.
"Huft !! Sabar banget, dek..." Ujar Langit yang menaruh dagunya di pundak Jingga.
Jingga mengelus lembut punggung Langit dan memeluknya erat. Mengisyaratkan untuk bersabar.
*****
Di Hotel Berbintang
Langit dan Jingga menginap di hotel karena lelah setelah perjalanan bisnis Langit. Jingga menemani Langit kerja hari ini, karena kebetulan Jingga sedang libur kerja.
Jingga dan Langit setelah mandi dan bersih-bersih mereka bersantai di balkon hotel seraya berbaring dan menikmati pemandangan malam serta peluk erat satu sama lain. Hujan malam itu menemani pelukan hangat Langit kepada Jingga.
Langit dan Jingga masuk kembali ke kamarnya karena cuaca sudah mulai dingin. Langit menggendong Jingga di depannya dan Jingga melingkarkan lengannya di tengkuk Langit.
Saat berada di gendongan Langit, Jingga dan Langit tak melepaskan pagutannya. Langit yang semakin merapatkan bibir keduanya dan Jingga yang sudah mulai tergugah hasrat cintanya.
"Adek, mau coba di mana?" Tanya Langit yang duduk di sofa panjang kamarnya.
"Aku gak tau... maluu, Mas.." Ujar Jingga yang menangkupkan wajahnya di dada bidang Langit.
"Hahaha... sayaang... aku ini suami kamu. Kenapa harus malu? Ini baru kissing lho, dek. Belum yang lain-lain." Ucapnya sambil tertawa.
"Aku malu, Mas..." Ujar Jingga yang makin meringkuk di leher Langit.
"Hahaha... yasudah, kita coba lain waktu saja ya." Ucap Langit sambil mencium pipi Jingga.
"Mas bete sama aku?" Tanya Jingga merasa bersalah.
"Tidak, sayang... Mas tidak ingin melakukannya kalau kamu belum siap. Mas Langit tunggu sampai kamu siap, hm.." Jelas Langit.
"Udah siap sebenarnya. Tapi, malunya itu lho..." Ucap Jingga sambil mengeratkan lingkaran tangannya di tengkuk sang suami.
"Apa yang mau di maluin? Toh, aku juga suami kamu, sayang..."
"Iya, tau. Aku cuma takut gak bisa puasin kamu, Mas..." Ujar Jingga sembari mengecup pipi Langit.
"Dek, puas atau tidak puas, Mas akan cerita sama kamu. Bukan sebagai bahan perbandingan, ya. Hanya sekedar untuk referensi kamu." Jelas Langit.
"Iya. Mas Langit, Jingga ngerti kok. Makasih sayang... sudah sabaarr... sekali menunggu Jingga." Ucapnya yang mengecup pipi Langit.
"Mas Langit, maunya kapan? Insya Allah aku bisa kabulkan... hahaha..." Ujar Jingga dengan tawa riangnya.
__ADS_1
"Kamu tuh, ya... ada... aja... bahasanya, dek. Hahaha..." Ucap Langit yang seketika itu tawa mereka berhenti karena Langit sudah mendaratkan bibirnya di bibir Jingga.
"Mas, sayang... di cek dulu kamar hotelnya ya. Takutnya ada apa-apa." Ujar Jingga yang sangat hati-hati di ruangan baru tersebut.
"Oh, iya. Sebentar ya..." Ucap Langit sambil berlalu mengunci pintunya.
Setelah menutup pintu, jendela dan korden kamar hotelnya kemudian Langit menyalakan lampu tidur yang remang-remang.
"Karena kalau lampu yang terlalu terang, Jingga pasti gak nyaman. Dia masih malu." Batin Langit.
"Dek, lebih suka lampunya yang terang atau gelap?" Tanya Langit yang memberikan pilihan dan meyakinkan kembali.
"Yang gak terlalu terang tapi gak terlalu gelap juga. Gimana tuh, Mas? Tanya Jingga kepada Langit.
"Remang-remang berarti. Hehehe..." Ucap Langit.
"Terserah Mas Langit aja. Aku ikut imamku." Ujar Jingga yang membuat Langit bersemu merah pipinya.
"Dek, Mas mulai sekarang ya, sayang..." Ucap Langit kepada Jingga yang sudah mulai mengecup lembut leher Jingga membuat si empunya leher melenguh lirih.
Langit begitu lihai memainkan bibir serta lidahnya yang mampu memanjakan Jingga hingga membuat istrinya mabuk akan hasrat bercinta.
Pagutan demi pagutan Langit hujamkan pada keseluruhan tubuh Jingga. Langit memuaskan hasrat terpendamnya kepada Jingga.
Tubuh mungil yang padat di bagian dada dan bokongnya itu sukses membuat Langit sang suami tak henti-hentinya membuat sang istri melenguh dan mendesah.
Membuat Langit semakin gencar untuk melucuti tubuh Jingga dengan jari jemarinya yang kemudian diberikan tanda di seluruh tubuh istrinya dengan tato bibir Langit.
Malam yang dingin berselimut kabut tebal dan desiran angin menyelusup kulit membuat kedua sejoli tak berhenti untuk menyalurkan segenap hasrat bercintanya.
Langit yang sangat terpesona dengan kemolekan tubuh istrinya tak bisa menyerukan gencatan senjata. Tapi ia justru semakin pol tancap gas hingga ke pedalaman tanpa hunian siapapun.
Langit menanamkan benihnya di pedalaman tersebut. Yang menimbulkan desahan dan lenguhan sang istri yang mengaduh perih dalam sebuah puncak kenikmatan.
Lenguhan dan desahan panjang Jingga yang lirih namun mengundang kenikmatan menimbulkan darah yang bersimbah di seprei suci tersebut.
Langit tau bahwa itu akan menyakitkan untuk Jingga. Jingga pun tau bahwa itu sakit yang teramat sangat. Tak pernah di jamah oleh siapapun dan hanya Jingga berikan kepada Langit seorang.
Setelah bertempur dan menanam makhluk hidup dalam hunian istrinya, Langit dan Jingga berbaring lemas di kasur. Tubuh Jingga serasa remuk karena pergulatan hasrat cinta suaminya dan dirinya.
Jingga tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya merasa bahwa sepreinya basah dan tubuhnya lemas. Tapi sang suami, Langit, begitu pandai membuat Jingga berkali-kali o*****e.
Jingga terkulai lemas. Mereka bermain beberapa kali saja, Jingga tak tau. Karena Langit benar-benar mampu membuat sang istri puas di layani olehnya.
Jingga memeluk tubuh Langit, menangkupkan wajahnya di dada Langit.
"Mas... hiks... sakit..." Ujarnya yang merasakan perih di v****anya.
"Maaf ya, sayang... Mas Langit mainnya kasar banget ya?" Tanya Langit sambil mengelus lembut rambut Jingga.
"Tapi aku suka." Ucapnya sambil mengecup lembut bibir Langit.
"Bikin nagih." Ujar Jingga yang seketika membuat libido Langit memuncak dan me-landing-kan kembali bibirnya cukup dalam bersama dengan lidahnya di bibir Jingga.
"Mas, aku mau pipis." Ucap Jingga yang sedang berusaha bangun dari baringannya.
"Ah.., sshhp..." Ujar Jingga yang merasakan perih luar biasa di vaginanya.
"Sayang, biar Mas Langit bantu." Langit turun dari kasur dan menggendong Jingga hingga kamar mandi.
"Mas Langit, tunggu di luar dulu ya." Ucap Jingga.
"Iya, dek. Panggil Mas, ya. Kalau sudah." Ujar Langit yang sambil mengecup kening Jingga.
Tak lama kemudian...
"Mas... Mas Langit..." Panggil Jingga yang masih lemas. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi.
"Adek udah?" Tanya Langit yang masuk kamar mandi dan menggendongnya.
"Mas, sepereinya banyak darahnya. Kasian room servicenya nanti pas bersihin seprei. Di rendam dulu kali ya?" Tanya Jingga kepada Langit.
"Iya, nanti Mas yang bantu rendam." Ucap Langit lembut.
"Makasih sayangku..." Ujar Jingga dengan mengecup lembut bibir Langit.
"Mas Langit," Panggil Jingga yang saat ini sedang memakai night gown nya dan berbaring di lengan kokoh sang suami.
"Iya, sayang..." Jawab Langit seraya mengelus lembut punggung sang istri.
"I love you." Ucap Jingga yang mengecup pipi Langit.
"I love you too, sweetheart. More than you know. Makasih ya, dek. Aku bahagia sekali hari ini. Maaf membuatmu kesakitan seperti ini." Ujar Langit.
"Sama-sama sayang... aku senang. Aku suka. Sakit? Enggak tuh. Sedikit. Sudah karena tau kegiatan ini buatmu bahagia, Mas..." Ucap Jingga sambil menampakkan seulas senyum yang membuat Langit semakin mencintai istrinya.
"Adek mau apa hari ini?" Tanya Langit yang memegang dagu Jingga dan mengarahkannya berhadapan dengan wajah Langit.
"Aku mau Mas Langit. Aku rindu kamu, Mas..." Ucap Jingga yang mendapat balasan ciuman dalam di bibirnya.
"I'm always for you, sweetheart. Always and forever my love." Ujar Langit kepada Jingga.
"Thanks hubby." Ucap Jingga dengan kecupan lembutnya.
******
hujan itu datangnya hanya air
__ADS_1
bukan kenangan
******