Langit Jingga

Langit Jingga
Rasa takut Langit


__ADS_3

Mendengar bahwa istri nya pingsan di sekolahan, membuat Langit dan Maxim segera meninggalkan pekerjaan nya dan menyusul ke sekolah. Panik, dan khawatir, itulah yang di rasakan Langit saat ini, ia tidak tahu mengapa istrinya tiba tiba pingsan. Berbagai macam perasaan campur aduk dalam hatinya.


Langit begitu takut, karena Jingga tidak pernah seperti ini. Entah mengapa bayangan demi bayangan ketika Biru mulai kambuh akan penyakit nya dulu, membuat Langit semakin cemas dan khawatir terhadap Jingga.


“Kamu tenang dulu Lang, Jingga anak nya kuat kok. Dia gak mungin sakit, paling juga kecapean dikit,” kata Maxim berusaha menenangkan Langit agar tidak cemas berlebihan.


Maxim cukup tahu dengan apa yang di rasakan oleh Langit saat ini, namun ia juga tidak tahu bagaimana keadaan Jingga. Maxim pun sebenarnya juga memiliki perasaan takut seperti Langit, namun ia terus berdoa semoga memang Jingga benar tidak apa apa.


Setelah sampai di sekolah, Langit segera turun dan berlari menuju ruang UKS dimana Jingga istirahat. Menurut bu Yasmin, Jingga sudah sadar sejak tadi. Namun gadis itu hanya terdiam dan tidak ingin menemui siapapun.


Brakkk!


Suara dobrakan pintu membuat beberapa orang yang di UKS sempat terkejut, namun setelah tahu siapa yang membuka nya, mereka langsung terdiam.


“Dimana Jingga?” tanya Langit datar, namun terlihat jelas bagaimana deru nafas nya yang masih terengah karena berlari.

__ADS_1


“Di sana,” ujar seorang perawat yang selalu siaga di UKS.


“Tinggalkan ruangan ini, se mu a!” eja Langit menekan kan kata semua, lebih tepat nya matanya melirik tajam pada seorang pria yang berdiri di depan tirai ruangan Jingga dengan raut wajah tak kalah datar darinya.


“Jaga dia benar benar Om, jangan sampai dia merusak hubungan orang lain!” ujar nya datar dan singkat, sebelum akhirnya ia benar benar keluar dari ruangan tersebut.


Langit tidak memperdulikan ucapan bocah di bawah umur itu ia pun segera membuka tirai dan menemui Jingga.


“Kamu gapapa?” tanya Langit begitu lembut sambil membalik tubuh Jingga agar menghadap nya.


Jingga tidka menjawab, ia masih terdiam namun matanya memperlihatkan betapa terluka nya dia. Langit pun segera naik ke tempat tidur dan memeluk Jingga.


“Ada apa?” tanya Langit kini mengusap kepala Jingga.


“Jingga gak nyontek, Mas. Jingga bener hiks hiks hiks, Jingga gak nyontek. Mereka duluan yang mancing Jingga hiks hiks. G—gimana kalau nanti Jingga gak lulus, atau malah akan—“

__ADS_1


“Ssttt!” Langit menghela nafas nya dengan cukup kasar, ternyata istrinya diam karena memikirkan takut tidak lulus ujian atau malah akan di keluarkan, “Tidak akan ada yang berani mengeluarkan kamu dari sekolah ini, kamu pasti lulus.”


“Tapi Jingga gak mau kalau lulus karena campur tangan mas Langit!” seru Jingga langsung melepaskan pelukan nya dan menatap wajah suaminya.


“Mas hanya akan membantu menyelesaikan masalah ini, mas pastikan kamu lulus dengan nilai dan usaha kamu sendiri. Mas tidak akan melewati batas, oke! Sekarang kamu tenang,” kata Langit masih berusaha bersikap selembut mungkin.


Ya, setelah Langit menikah dengan Jingga, ia tidak pernah berbicara kasar atau arogan lagi. Apapun dan bagaimanapun sikap dan perilaku Jingga, pasti Langit akan menanggapi nya dengan lembut dan halus. Entah mengapa, bibir nya selalu terasa kelu setiap kali ia akan marah apalagi membentak Jingga.


.


.


.


Maaf ya, kalau dalam beberapa hari nanti mungkin mommy akan jarang update. Tapi setiap hari akan mommy usahakan absen, (misal update sekali atau dua kali) belum bisa rutin kaya biasa sehari 3x begitu.

__ADS_1


Mommy masih sibuk di RL, sekali lagi maaf yah...


Jangan pada kabur yah, kalau mommy libur, 😭


__ADS_2