Langit Jingga

Langit Jingga
Pasrah


__ADS_3

“”Jingga!” seru Raihan ketika melihat tubuh Jingga terkulai lemas tak sadarkan diri.


“Ji—Jingga?” gumam papa Danu mengerutkan dahi nya menatap putra nya yang tengah memeluk seorang murid di sekolah nya.


“Astaga, anak ini gak ada henti hentinya membuat ulah,” keluh bu Yasmin menghela nafas berat, bukan simpati, namun ia merasa tidak enak karena sudah membuat tamu penting di sekolah merasa terganggu. Ah, bukan merasa terganggu lagi, namun pasti sangat membuatnya marah.


“Siapa anak itu?” tanya pak Danu tanpa mengalihkan perhatian matanya.


“Namanya Jingga Pak, dia memang suka membuat ulah di sekolah.” Bu Yasmin menghela nafas nya berat, “Sifatnya sama persis seperti Langit dulu,” celetuk nya, namun hanya beberapa detik ia langsung menutup mulut nya dengan tangan.


Ya, sifat Langit dan Jingga tak berbeda jauh. Hanya bedanya, Langit selalu memakai kekerasan bahkan tak jarang anak itu menghajar teman teman nya yang berani melawan padanya. Sementara Jingga, meskipun tak menggunakan kekuatan fisik, namun gadis itu selalu menggunakan kekuatan mulut. Ya, karena begitu banyak musuh nya yang selalu iri dengan kebahagiaan nya di sekolah, terlebih dulu saat ia masih bersama Bagas dan Nadin. Hubungan yang begitu harmonis dan terkesan romantis berlebih malah, sehingga membuat banyak yang menyumpahi agar dirinya putus.

__ADS_1


Dan benar saja, akhirnya hubungan nya kandas dan ia di khianati oleh sahabat nya sendiri.


“Maaf Pak, bukan maksud saya—“


“Tidak apa, Langit dulu memang sangat kasar dan badung!” kata pak Danu mengingat kembali masa anak nya SMA, “Tapi sekarang sudah tidak. Bahkan anak itu sangat tertutup sejak kejadian dulu.”


Bu Yasmin tampak terdiam. Bohong bila dirinya menutup mata dan telinga tentang hubungan Langit dan Biru yang begitu heboh saat dulu. Bahkan, bisa di katakan bahwa bu Yasmin adalah saksi perjalanan mereka untuk sat ini, dan bu Yasmin pun juga tahu bahwa Jingga adalah adik kandung dari Biru. Dan kini, bu Yasmin merasa bingung apakah dirinya harus mengatakan kepada pak Danu tentang status Jingga, atau membiarkan nya.


Bu Yasmin hendak membantu Langit, namun dengan cepat pak Danu menggelengkan kepala nya dan mengajak bu Yasmin untuk pergi. Tentu saja, hal itu membuat Langit terus mengumpat kasar di depan para banak siswa.


“Bubar semuanya!” ucap Langit dengan tegas dan dingin, sontak semuanya langsung pergi meninggalkan tempat itu, terkecuali Raihan.

__ADS_1


“Maaf Pak, Om, biar saya saja yang membawa teman saya,” ujar nya hendak mengambil Jingga dari pelukan Langit.


“Siapa kamu?” tanya Langit mengerutkan dahi menatap tak suka pada Raihan.


“Saya, itu emmtt.. Saya—“


“Apakah kau sudah tidak akan masuk kelas?” tanya Langit langsung memotong ucapan Raihan, “Pakaian mu akan kotor nanti! Dan jangan sampai kamu bolos pelajaran gara gara cewek ini. Lebih baik, bantu saya membuka mobil di parkiran, sekalian baju saya sudah kotor.” Imbuh nya di sertai helaan nafas panjang.


“Baik Om, eh Pak,” kata Raihan bingung harus memanggil apa.


Langit tidak menghiraukan nya, ia langsung mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya ke mobil, di ikuti oleh Raihan yang berjalan di belakang nya dengan langkah terburu buru. Sementara Langit, ia terus berjalan dengan raut wajah datar dan dingin, namun lebih seperti menahan sebuah amarah.

__ADS_1


__ADS_2