Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 17


__ADS_3

2 tahun lalu orangtua Chika, ibunya meninggal dunia karena sakit kanker payudara. Tak lama setelah ibunya meninggal dunia, Ayah Chika menikah lagi dengan seorang perempuan yang sudah mempunyai anak dewasa juga.


Ibu tiri Chika mempunyai satu orang putra dan dua orang putri. Kedua putrinya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sisanya hanya seorang putranya. Namun, putranya begitu membuat pusing kepala.


Sudah kena alkohol, rokok, s**u, f*****s, emosi selalu meluap-luap. Yang pada akhirnya sering masuk dan keluar kantor polisi. Ditahan dalam bui. Sudah biasa untuknya.


Sampai dititik, Chika sedang kembali ke rumahnya untuk mengambil buku-bukunya. Namun, ia mendengar suara orang berteriak sambil meracau.


Suara itu semakin lama, semakin jelas suaranya dan...


tok tok tok


"Chikaa !!! Buka pintunyaa !!!" Ucap Kakak tirinya, Kris.


Saat itu, Chika sungguh takut. Tubuhnya gemetar semua. Ia tidak berani membuka pintunya. Tapi, suara seruan Kris semakin kencang.


Kris terus menggendor-gendor pintu kamar Chika. Suka tidak suka, Chika membuka pintunya. Kris begitu murka dengannya.


Chika yang masih memegang beberapa buku tersentak karena Kris si Kakak tirinya mendorongnya hingga terjatuh.


Kris mengacak-acak tas Chika, ia mengambil dompet dan semua uang yang ada di dalam dompet Chika.


Chika berusaha melawan dengan memegang tangan Kris. Namun, apa daya, Kris lebih kuat dibanding Chika. Kris menampar dan memukul wajah Chika hingga meninggalkan bekas luka lebam.


Kris melakukannya bukan hanya sekali atau dua kali. Chika sudah bercerita kepada Ayah dan Ibu tirinya. Namun, jawabannya tetap sama. Mohon di maklumi sifat Kris yang sembrono.


Chika sudah tak tahan lagi dengan Ayah dan Ibu tirinya yang terus membela Kris. Hingga Chika kuar dari rumahnya sendiri dan tinggal bersama dengan Nenek dan Kakeknya.


*****


Bimo mendengar semua cerita tentang Chika yang diceritakan oleh Juna dan Langit. Ia merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dia.


Sangat bodoh membiarkan seseorang yang mencintainya pergi begitu saja tanpa sempat ia merasakan berjuang untuk mencintai dan dicintai.


Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan lagi. Waktu sudah berlalu. Menyesal terus-menerus pun percuma karena memang sudah lewat.


Bimo sempat mengirim pesan kepada Chika di London dan jawabannya adalah, biarkan waktu yang menjawab. Jika memang berjodoh, akan bertemu kembali.


Bimo dan Chika melanjutkan kehidupannya seperti biasa. Mereka sedang belajar mengenal jarak. Karena jarak mampu membantu seseorang mengetahui tentang kehilangan dan ditinggalkan.


******


4 Bulan Kemudian


"Mas Langit..." Panggil Jingga dari kamar tidur.


"Iya, dek." Jawabnya di teras kamar tidur.


"Mas, ngapain di sini?" Tanya Jingga yang berjalan menghampiri Langit di teras kamar tidurnya.


"Duduk aja." Jawabnya yang sambil menarik tangan Jingga duduk di pangkuannya.


"Makan ya, Jingga udah buatin makanan kesukaan Mas." Ucapnya sambil mengalungkan tangannya di tengkuk Langit.


"Adek, masak apa?" Tanya Langit yang mendekatkan tubuh Jingga dalam lengan kokohnya.


"Masak tumis kangkung sama tempe goreng. Yang dari kemarin ngidam tempe goreng, sudah terpenuhi tuh. Hehehe..." Ucap Jingga yang mengelus lembut pipi Langit.


"Makasih ya, dek." Ujar Langit yang mencium pipi Jingga.


"Sama-sama, sayang..." Seru Jingga yang menyambut hangat ciuman lembut Langit di pipi Jingga.


"Mas Langit, hari ini mau kemana?" Tanya Jingga yang memainkan jari telunjuknya di telapak tangan Langit.


"Temenin Mas ke acara nikahannya kolega bisnis Papi, bisa dek?" Tanya Langit kepada Jingga.


"Insya Allah, bisa. Mau jam berapa kita berangkatnya?" Tanya Jingga kembali kepada Langit.


"Nanti ya, habis dzuhur saja. Mas tanya Papi dulu." Jawab Langit yang mengalungkan tangan kokohnya di pinggang Jingga.


"Nikahannya di gedung ya, Mas?" Tanya Jingga yang pindah duduk berdampingan dengan Langit.


"Iya, dek. Daerah Jakarta Selatan kalau gak salah." Jawab Langit yang mendekatkan tubuhnya dengan istrinya.


"Yang datang orang parlente semua kah? Hehehe..." Tanya Jingga dengan cengiran kudanya.


"Yaah... yang seperti kamu tau, dek. Parlente tapi hanya luarnya. Dalamnya... hufft..." Ujar Langit yang menghela nafas karena sudah mengetahui kesombongan-kesombongan yang akan tampak nanti.


"Hahaha... kok berat banget gitu tarik nafasnya, sayang?" Ucap Jingga dengan tawanya.


"Bosen, dek. Dengar kebohongan-kebohongan dunia." Ujarnya.


"Tetap jaga hati dan pandangan ya, Mas. Godaan dari kerjaanmu itu luar biasa." Ucap Jingga dengan senyum sumringahnya.


"Dan beruntungnya aku mempunyai seorang istri yang begitu pengertian dengan pekerjaanku. Rela ditinggal beberapa hari bahkan minggu untuk berjarak dengan suaminya." Jelas Jingga.


"Mas, itu sudah jadi resiko Jingga. Aku memutuskan menerima lamaranmu, menikah denganmu dan menjadi partner hidupmu bukannya aku tak tau hal ini akan terjadi. Sungguh aku teramat sangat tau, bahwa aku akan berbagi suamiku dengan waktu." Terang Jingga kepada Langit.


"Waktu kerjamu, waktumu dengan hobimu, waktumu bersama dengan teman-temanmu, waktumu bersama dengan keluargamu dan waktu untuk dirimu sendiri." Jelas Jingga.


"Saat kamu harus pergi keluar kota atau bahkan keluar Negeri yang membutuhkan waktu tidak sebentar, bohong kalau bilang aku tidak sedih."


"Aku sedih, aku ingin bersamamu lebih lama, aku tidak ingin berjarak denganmu. Tapi, kembali kupikir, ini adalah resiko ku. Menikah dengan seorang yang harus berbagi waktu bersama pekerjaannya. Aku tau itu." Sambung Jingga.


"Adek, kecewa?" Tanya Langit.


"Kecewa karena apa?" Tanya Jingga kembali.


"Kecewa karena telah menjadi istri dari seorang suami yang tak luput dari pandangan dan pembicaraan orang-orang di luar sana." Terang Langit.


"Tidak, sayang... justru aku akan kecewa dengan diriku sendiri jika aku tak mampu menjadi istri yang pantas untukmu, Langit..." Ujar Jingga.


"Mas Langit, kamu tau, setiap aku menengadahkan kepala ke atas dan melihat langit, aku berucap. Terima kasih, Langit. Telah mencintai kekuranganku." Ucap Jingga yang membuat Langit diam terpaku begitu haru dengan istrinya yang sungguh luar biasa untuknya.


"Jingga, istriku. Kau selalu mampu menbuatku jatuh cinta setiap hari dan berulang kepadamu, sayang..." Ujar Langit yang mengecup kening Jingga.


"Makasih ya, Mas. Sudah sangaaatt... sabar menghadapi keegoisanku." Ucap Jingga dengan seulas senyum manisnya.


"Terima kasih kembali untukmu, sayang... yang mampu tahan dengan gunjingan orang-orang tentangku dan tentangmu." Ujarnya yang mengecup lembut kening Jingga.


"Sama-sama, Mas." Ucap Jingga dengan senyum manisnya.


"Mas gak tahan kalau di senyumin kamu seperti itu." Ujar Langit.


"Senyum yang gimana? Perasaan senyumku biasa aja." Jawab Jingga yang mengerutkan keningnya.


"Senyum yang manis." Ucap Langit.


"Semanis apa?" Tanya Jingga dengan senyum menggodanya.

__ADS_1


"Semanis jembatan ancol. Hahaha..." Ujar Langit yang membuatnya dan sang istri tertawa terpingkal-pingkal.


******


"Sayang..." Panggil Langit kepada Jingga yang sedang sibuk menyiapkan baju untuknya dan suaminya di kamar.


"Iya, kenapa Mas?" Jawab Jingga yang masih sibuk dengan mix and match bajunya.


"Dek, Papi nelepon aku tadi. Katanya kita langsung bertemu di tempat nikahan aja." Ujar Langit.


"Lho, gak jadi nyamperin Mami sama Papi ke rumah?" Tanya Jingga.


"Enggak, dek. Kelamaan kata Papi. Ketemu di sana aja katanya." Terang Langit.


"Ooh... okay. Mas, kalau pakai baju ini gimana?" Tanya Jingga kepada Langit yang menujukkan setelan jas abu-abunya.


"Dek, jangan pake jas. Yang lain aja." Ujarnya.


"Hmm... gitu. Okay. Kalau batik gak apa?" Tanya Jingga yang menunjukkan setelan batik kepada Langit.


"Okay, sip !" Ucap Langit yang mengacungkan ibu jarinya.


"Kamu pakai apa, sayang?" Tanya Langit kepada Jingga.


"Pakai ini." Jawab Jingga dengan menunjukkan long dress peach nya.


"Kita gak punya batik yang couple gitu, dek?" Tanya Langit yang sedang sibuk mengecek email tapi masih memberi saran kepada sang istri tentang pakaian seperti apa yang bagusnya.


"Mas Langit gak apa kalau batik couple gitu? Gak terkesan norak, Mas?" Tanya Jingga.


"Enggak kok. Biar orang-orang tau, aku punya istri cantik." Ujarnya dengan senyum sumringahnya.


"Hahaha... Mas... kamu tuh, ada-ada saja. Yasudah, sebentar, Jingga cari dulu. Kayaknya ada deh." Ucap Jingga yang menuju rak pakaian besarnya.


"Mas, kalau ini gimana?" Tanya Jingga yang menunjukkan pakaian batik corak merah marun.


"Dek, Mas gak suka kalau batik lengan pendek. Yang panjang gak ada?" Tanya Langit kembali.


"Oh, iya, lupa. Kamu kan dari dulu gak pernah suka pakai lengan pendek kecuali kaos ya, Mas? Hehe... maaf ya, sayang..." Ujar Jingga yang menuju ruang pakaian kembali.


"Gak apa, cantik..." Ucap Langit yang membuat Jingga bersemu merah pipinya.


"Kalau yang ini gimana?" Tanya Jingga yang mengalihkan semu merahnya dengan menunjukkan batik lengan panjang untuk Langit berwarna cokelat dan long dress cokelat muda dengan padu padan batiknya.


"Bagus, dek. Oke tuh." Jawab Langit yang berpindah berkutat pada ponselnya sekarang.


"Sip. Kita pakai ini. Jilbabnya apa ya?" Tanya Jingga pada dirinya sendiri. Langit hanya memperhatikan sejenak dan kembali melihat ponselnya.


"Ini aja kali ya.." Ucap Jingga pada dirinya sendiri yang menunjukkan jilbab cokelat polosnya dan cokelat corak sedikit bunga.


"Kenapa gak yang corak bunga, dek?" Tanya Langit yang memperhatikan istrinya meski ia juga sedang sibuk dengan ponselnya untuk mengecek email yang masuk.


"Kalau yang corak bunga, jilbabnya kurang panjang, Mas. Aku gak suka kalau pakai jilbab gak menutupi dada. Risih aja gitu, gak nyaman." Ujarnya yang membuat Langit menghampirinya dan memeluk Jingga dari belakang.


"Kenapa, sayang?" Tanya Jingga mengelus lembut pipi Langit.


"Kamu tau, dek. Mas baru saja mau bilang ke kamu untuk memakai jilbab dengan menjulurkannya sampai dada. Tapi ternyata kamu sudah bilang duluan. Mas senang... sekali." Terangnya kepada Jingga.


"Kan memang sebenarnya sudah di jelaskan dalam Al Quran. Baiknya seorang perempuan menjulurkan jilbabnya sebagai penutup aurat dan penanda bahwa ia seorang muslimah. Kalau gak salah ya, Mas... hehehe..." Jelas Jingga kepada Langit.


"Iya, dek. Benar. Makasih sayang... sudah melakukan perintah-Nya." Ujar Langit yang mencium ubun-ubun Jingga.


"Emang kenapa, dek? Kok makasih? Bukannya memang seperti itu tugas laki-laki yang ikut membantu menyuarakan pendapatanya tentang gaya pakaian sang istri?" Tanya Langit bingung.


"Tidak semua laki-laki mengetahui hal dasar seperti itu, sayang..." Jelas Jingga yang menghadapkan tubuhnya kepada Langit.


"Hal dasar?? Maksudnya??" Tanya Langit yang masih bingung.


"Memperhatikan istri saat ia sedang sibuk dengan kegiatan memilih pakaian itu adalah hal dasar yang sebenarnya seorang laki-laki harus tau." Terang Jingga.


"Kenapa?"


"Karena dari perbincangan kecil itu, mampu menumbuhkan rasa saling mengerti, memahami, dan belajar ekstra sabar untuk suami menunggu pilihan sang istri pada fashion style nya." Jelas Jingga.


"Oohh... gitu. Aku baru tau."


"Seperti yang Mas Langit lakukan ke Jingga tadi. Aku tau Mas, kamu sedang sibuk mengecek email yang masuk ke ponselmu. Tapi kamu tetap berusaha memperhatikan aku dengan segala keremponganku bersama tumpukan baju-baju ini."


"Kamu juga tak ragu berpendapat dan justru pendapatmu itulah yang membuatku senang bahwa kamu memperhatikanku sejak tadi."


"Tidak hanya berkomentar "iya, bagus" atau "iya, gak bagus". Tapi, kamu berkomentar "dek, bajunya gak ada warna lain?" atau " dek, aku gak suka yang lengan pendek". Secara tidak langsung kamu memperhatikan aku, Mas." Jelas Jingga kepada Langit.


"Ohh... gitu, dek. Aku gak tau kalau perhatian kecil itu membuatmu senang." Ujar Langit.


"Makasih ya, ganteng..." Ucap Jingga yang membuat Langit tersenyum lebar.


"Kok ganteng?" Tanyanya dengan senyum sumringah.


"Kan tadi, Mas Langit bilang aku, cantik. Sekarang aku bilang kamu, ganteng. Hehe..." Ujarnya dengan senyum pasta giginya.


"Hoohh... hahaha... yaampun, dek. Bisaan aja kamu." Ucap Langit dengan tawa renyahnya.


*****


"Mamiii..." Ucap Jingga yang menghampiri sang Mami mertua.


"Aaaaa... anak kesayangan Mami." Sahutnya yang tak kalah heboh.


Mami dan Papi Langit sedang berkunjung ke Indonesia dan sekalian kondangan ke rekan bisnisnya. Mumpung di Indonesia.


"Mami Rini, apa kabar?" Tanya Jingga dengan memeluk erat tubuh sang Mami.


"Alhamdulillah, baik sayang... kamu apa kabar? Langit bikin susah kamu ya?" Tanya Mami Rini menyelidik.


"Hahaha... enggak kok, Mi. Mas Langit baik banget sama Jingga. Sabarnya, Masya Allah, bikin makin cinta. Hahaha..." Jelas Jingga yang mengundang Papi, Langit dan Mami tertawa.


"Ngga, sudah siap?" Tanya Mami Rini menatap Jingga.


"Siap, Mi !" Ujarnya yang menggandeng tangan Mami mertuanya.


Maksudnya Mami Rini, Jingga harus bersiap dengan nyinyiran para netizen maha benar yang berada di dalam ataupun di luar ballroom pernikahan tersebut.


Mereka berjalan berdampingan. Jingga berjalan saling bergandengan tangan dengan Mami Rini. Sedangkan Langit berjalan bersama sang Papi.


Saat keluarga Brawijaya masuk ballroom, semua mata tertuju pada keempat orang yang bernafas tersebut.


"Eh, itu bukannya keluarga Brawijaya? Itu menantunya Jeng Rini? Cantik ya..." Penyinyir 1.


"Iya, benar. Tentang gosip kalau menantunya itu cantik. Tapi dari kalangan biasa aja. Beda kasta katanya sih..." Ujar si penyinyir 2.

__ADS_1


"Tapi katanya si menantu cerdas banget lho. Bisa kuliah di luar negeri. Masuk di universitas ternama gitu deh..." Penyinyir 3.


"Alahh... gosip doang itu mah. Paling-paling cuma lulus S1 aja." Ujar penyinyir 4.


"Percuma pendidikan tinggi kalau kasta beda mah, beda aja. Eh, atau jangan-jangan si menantu Jeng Rini cuma mau morotin hartanya aja. Kan banyak tuh kejadian kayak gitu." Ujar penyinyir 5.


Mami Rini begitu geram dengan komentar-komentarnya tentang Jingga. Bahkan Papi Haris sudah hampir menyiram mereka menggunakan gelas berisi air sirup kepada mereka. Langit?? Gak usah tanya, dia orang paling pertama yang siap maju buat bungkam semua mulut penyinyir itu.


"Eeh... Jeng Rini. Apa kabar?" Ujar Sherly si Tante hebring teman sosmednya Mami Rini.


"Oh, hai... Sher. Kabarku baik. Kamu sendiri gimana?" Tanya Mami Rini dengan sekedarnya.


"Kabarku gak baik. Aku gak nyangka lho, kalau kamu tega sama aku." Ucap Sherli yang membuat Mami Rini bingung.


"Tega kenapa, Sher?" Tanya Mami Rini.


"Kan kamu katanya mau kenalin Shella sama Langit anakmu itu. Tapi kok malah Langit menikah dengan perempuan kampungan ini? Masih jaman berhijab?" Ucap si Sherly.


"Ohh... itu. Langit cintanya sama Jingga. Ya masa aku mau paksa dia nikah sama Shella. Hahaha..." Terang Mami Rini.


Tak lama, Shella datang dengan pakaian serba menonjolkan lekuk tubuhnya yang seksi.


"Haii... Tante Rini. Apa kabar?" Tanya Shella yang bercipika cipiki dengan Mami Rini.


"Kabar baik, Shella. Kamu gimana kabarnya?" Tanya Mami Rini sekedar berbasa-basi.


"Aku sih baik, Tant. Apalagi kalau melihat Langit. Semakin baik Shella." Ujarnya sambil melihat Langit. Langit justru malah geli melihatnya.


Setelah menyapa Mami Rini, Shella menghampiri Langit yang sedang berbincang dengan Papi Haris dan beberapa koleganya.


"Hai, Langit." Sapa Shella dengan suara di manja-manja dan mau melingkarkan tangannya di lengan Langit, namun Langit menepisnya.


Jingga??


Jingga melihat Shella yang sedang menggoda suaminya. Mami Rini yang melihatnya sangat geram dan menarik Jingga untuk menghampiri Langit.


"Mi, mau kemana?" Tanya Jingga yang bingung dengan aksi tarik-tarik sang Mami mertua kepadanya.


Mami Rini tidak menjawab. Ia terus menarik Jingga hingga sampai di hadapan Langit.


"Maaf, permisi !!" Ucap Mami Rini dengan mencibikkan bibirnya dan menggeser Shella dari Langit.


"Langit, temenin Jingga. Dia mau ke toilet katanya. Mami temenin Papi dulu." Ujar Mami Rini yang membuat Jingga bingung.


Langit yang mengerti dengan kode dari Mami untuk menyingkirkan Shella darinya, segera saja menggandeng tangan Jingga keluar ballroom.


"Mas..." Panggil Jingga.


"Sayang..." Ucap Langit.


"Gak apa, Mas. Aku ke toilet dulu, ya. Udah kebelet." Ujar Jingga dengan mengelus lengan kekar Langit secara lembut. Ia meyakinkan kepada Langit bahwa Jingga baik-baik saja.


"Aku tunggu sini, ya dek." Ucap Langit yang menunggu di luar toilet wanita.


Ketika di toilet, Jingga mendengar percakapan para wanita.


"Eh, lo udah lihat menantu Brawijaya?"


"Istrinya Langit maksud lo?"


"Iya. Ternyata cantik ya."


"Cantik juga percuma kalau cuma mau morotin hartanya Langit."


"Iya, bener. Cewek mana yang gak mau hartanya Langit? Secara doi tajir melintir, booo..."


"Iya banget tuh. Tapi katanya istrinya kerjanya ngajar."


"Idih, makin rendah aja tuh kasta."


"Kok mau ya, Langit sama kaum rendahan kayak gitu. Heran."


Jingga keluar dari toilet dan mencuci tangannya di wastafel. Membuat para perempuan tersebut bungkam. Karena Jingga mendengar pembicaraan mereka sejak tadi. Tapi...


Bbrraakk !!!


"Saya lebih heran dengan kalian yang membicarakan urusan orang lain dan selalu bangga dengan kedudukan orangtua kalian. Kalian tau, yang lebih hina itu kalian. Membanggakan harta orangtua tanpa tau peluh keringat mereka membuat kalian tidak terjatuh malu !!!" Jelas Langit dengan tegas.


Jingga terkejut bahwa Langit akan menerobos masuk toilet perempuan. Sikap Langit langsung membuat para perempuan tersebut diam seribu bahasa.


"Mas Langit??" Jingga yang mengetahuinya, langsung menggandeng dan membawa Langit keluar dari toilet dengan kondisi masih emosi.


Jingga yang mengetahuinya langsung memeluk Langit. Yang dipeluk bingung.


"Makasih, sayangku..." Ucap Jingga yang memeluk Langit dan mengelus lembut punggung suaminya.


"I love you, Jingga." Ujarnya yang tau bahwa istrinya sangat senang dibela seperti itu.


"Kita masuk ya." Ajak Jingga yang menarik tangan Langit dengan lembut.


"Gak ah, dek." Ucap Langit dengan bersungut.


"Mas..." Panggil lembut Jingga yang mendekatkan bibirnya di pipi Langit dan menciumnya lembut.


"Aku gak bisa di rayu, ya. Aku lagi emosi." Ucap Langit.


"Yasudah, aku masuk ya, ke dalam." Ujar Jingga yang melepas gandengannya ke Langit.


Namun, Langit justru menarik Jingga kedalam pelukannya.


"Maafin Mas, ya dek. Mas emosi banget tadi. Maaf..." Ucapnya sambil memeluk erat tubuh Jingga.


"Iya... sudah. Yuk, masuk. Gak enak nanti Mami Rini sama Papi Haris." Ujar Jingga.


"Hhuufft... yaudah. Ayo." Jawab Langit dengan menggandeng mesra Jingga.


"Hatimu terbuat dari apa sih, dek? Kok bisa sesabar itu?" Tanya Langit kepada Jingga sambil berjalan ke ballroom.


"Boleh peluk aku?" Tanya Jingga yang alih-alih menjawab pertanyaan Langit tapi malah meminta peluk. Langit tanpa kata langsung memeluk sang istri, Jingga.


"Charging full." Ujar Jingga yang memeluk Langit dan melepasnya setelah dirasa cukup untuk menambah energi kesabarannya.


Langit yang mengetahui bahwa istrinya butuh asupan energi, langsung memeluknya erat dan menciumi puncak kepala Jingga berkali-kali.


"Aku mencintaimu, Mas." Ucap Jingga.


"Aku tau." Ujar Langit dengan senyum jahilnya yang mendapat pukulan manja di punggungnya dari Jingga.


******

__ADS_1


__ADS_2