
...~Happy Reading~...
Langit terus menggenggam jemari tangan istri nya. Air mata tak henti henti mengalir hingga membuat mata nya kini terlihat sembab. Sementara kedua sahabat serta papa Danu, hanya bisa terdiam dan menunggu di sofa yang berada di sudut ruang perawatan Jingga.
Kini, Jingga sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Setelah melakukan proses kuret pada kandungan Jingga yang ternyata tak bisa di selamat kan.
Jingga pun juga sudah sadar sejak tadi. Hanya saja, pandangan nya begitu kosong. Seolah tak ada kehidupan di sana, meskipun Langit berada di samping nya dan menggenggam tangan nya. Namun, Jingga tetap tak mengeluarkan ekspresi apapun, bahkan untuk menangis pun tidak.
"Sayang... ku mohon, jangan seperti ini. Maafin Mas, " ujar Langit terus menciumi punggung tangan istri nya.
"Percaya lah, secepatnya Tuhan akan menggantikan baby kita. Mas akan lakuin apapun, untuk kamu. Mas janji, tapi mas mohon, maafin Mas. Kita bisa memulai nya kembali. Kita bisa—"
"Jingga mau tidur, " gumam nya datar, lalu ia kembali merebahkan kepala nya dan memunggungi Langit.
"Sayang, maafin Mas." ucap Langit yang masih enggan untuk melepaskan tangan Jingga.
"Jingga mau sendiri!" imbuh nya, membuat ketiga orang itu cukup sadar diri dan segera pergi. .
__ADS_1
Sementara Langit, ia masih begitu enggan untuk pergi. Dia masih tidak bisa meninggalkan Jingga seorang diri.
"Aku bilang aku mau sendiri!" pekik Jingga cukup kencang, hingga memejamkan mata ketika merasakan perut nya yang masih terasa sedikit sakit.
"Tapi mas mau nemenin kamu. Mas gak akan tinggalin Jingga lagi " kata Langit begitu kekuh.
"Tinggalin Jingga, atau ceraikan Jingga!" ucap wanita itu dengan tegas dan datar.
Deg!
Langit pun langsung melepaskan tangan Jingga dan menatap nya tak percaya. Sesakit itukah hati Jingga sampai menginginkan perceraian batin Langit. Tidak ingin terus memaksa dan membuat Jingga semakin membenci nya. Langit pun mengalah dan hendak pergi.
Seperginya Langit, tangis Jingga pun langsung pecah.
"Kenapa harus seperti ini hiks hiks hiks." tangis Jingga sambil meringkuk kan tubuh nya. Bahkan ia tidak perduli pada jarum infus yang masih melekat di tangan nya.
"Kenapa dunia ini gak adil sama Jingga. Kenapa Tuhan hiks hiks hiks. Kapan ayah sama bunda akan menjemput Jingga? kapan hiks hiks. Jingga capek, Jingga gak mau sendiri terus. Jingga mau ikut kalian, Jingga rindu hiks hiks."
__ADS_1
"Biru, sampai kapan aku harus menjadi pengganti mu? sampai kapan aku harus hidup dalam bayang bayang mu? sampai kapan semua ini berakhir hiks hiks. Aku juga ingin di cintai, tanpa harus karena mu!" gumam nya semakin lirih di sela isak tangis nya.
Kini matanya menatap pada langit langit di kamar perawatan nya. Seolah dirinya sedang menatap ke arah Biru.
"Kamu belum bisa melepaskan Langit, kenapa kamu harus mati! harusnya aku hiks hiks. Harusnya aku yang mati, bukan kamu. " racau Jingga terus menangis dan mengeluarkan semua yang ia rasakan dalam hati nya.
Sementara itu, Langit yang tidak menutup pintu dengan rapat, ia mampu mendengar semua yang di katakan oleh Jingga. Membuat hatinya semakin tersayat perih.
"Bodoh! kamu laki laki bodoh Lang!" umpat nya pada diri sendiri, kini Langit meruntuhkan tubuh nya, bersandar pada dinding dengan menjambak rambut nya frustasi.
Langit terus menyalahkan dirinya, dan ikut menangis seiring dengan Jingga yang juga menyalahkan Biru atas kehidupan nya.
'Maafin Mas, Jingga. Maafin, Mas. " racau nya dengan suara yang sudah sangat serak karena menangis.
"Aku titip Jingga sama kalian, " ucap Langit tiba tiba, ia menghapus air mata nya dan beranjak bangkit dari posisi nya.
"Kamu mau kemana?" tanya Gery mengerutkan dahi nya.
__ADS_1
"Ada yang harus aku bereskan!" jawab nya lalu ia segera pergi meninggalkan rumah sakit.