Langit Jingga

Langit Jingga
Sugar baby?


__ADS_3

"Jingga, jawab pertanyaan aku!" kata Raihan tiba tiba menyeret Jingga hingga sampai di taman.


"Apaan sih Rai," Jingga mengerutkan dahi nya tak mengerti ketika tiba tiba Raihan menarik tangan nya dan mengajak nya pergi mencari tempat sepi.


"Ada yang mau aku tanyain ke kamu!" ucap nya dengan wajah serius.


"Apa?" tanya Jingga menatap Raihan.


"Apa bener, kamu kemarin jalan sama om om? kamu bukan sugar baby kan?" tanya Raihan seperti menahan sesuatu.


"What? sugar baby?" pekik Jingga terkejut, lalu ia terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan pada Raihan bahwa dirinya sudah menikah. Tapi ia juga bingung bagaimana mengatakan kepada Raihan tentang hubungan nya dengan Langit.


"Kamu udah lihat grup belum? di sana, semalam ada yang share foto kamu lagi jalan sama om om di mall!"


"Tunggu, siapa yang udah ambil foto ku tanpa izin?"

__ADS_1


"Aku gak tau siapa yang mem foto. Tapi yang share Mely."


Jingga terdiam seolah berfikir. Tidak mungkin Mely membagikan privasi seseorang dalam grup sekolah. Terlebih ia cukup tahu bagaimana sifat Mely. Ia adalah adik kelas satu tingkat nya, berarti kakak kelas Raihan. Namun, Jingga cukup tau bagaimana sifat nya, dia selalu di buly oleh kakak kelas nya. Dan kini Jingga berfikir bahwa ada yang menekan gadis itu.


"Terus kamu percaya kalau aku jadi Sugar baby?" tanya Jingga menatap lekat pada Raihan.


"Bukan gak percaya Jingga, tapi kalian terlihat sangat mesra!" Raihan kembali mengepalkan tangan nya dengan cukup erat, "Bahkan, barang belanjaan kamu begitu banyak, sehingga membuat—"


"Tunggu! barang belanjaan?" Jingga langsung memanyunkan bibir nya dengan kesal, "Itu belanjaan aku beli sendiri pakai uang ku ya! sembarangan aja kalau ngomong!"


"Aku gak perduli, biarkan saja aku di sebut seperti itu. Aku bangga kok," jawab Jingga tersenyum miring, "Udah lah, aku laper. Mau cari makan kamu mau makan gak? aku traktir,"


Raihan langsung menggelengkan kepala nya, "Aku mau ke Perpus dulu!" jawab Raihan menolak ajakan Jingga.


Jingga tak ambil pusing, ia pun segera meninggalkan Raihan begitu saja di taman. Sementara Raihan, ia masih terdiam menatap Jingga dengan wajah penuh kekecewaan.

__ADS_1


'Plis Jingga, jangan buat aku benci sama kamu!' gumam Raihan dalam hati lalu ia memejamkan matanya cukup erat.


Sementara itu, di tempat yang berbeda namun di belahan bumi yang sama. Langit masih begitu fokus dengan pekerjaan nya, setelah tadi ia memberikan pelajaran kepada Maxim. Ia pun fokus untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


Seharian ini, Langit menghukum Maxim agar turun ke lapangan untuk mengecek proyek nya. Hal yang paling tidak di sukai Maxim, karena harus capek capek dan keluar kantor. Namun apa boleh buat, karena Langit sudah mirka padanya. Meski begitu, Maxim pun tak jera, di sepanjang pekerjaan nya, ia sambil memikirkan bagaimana caranya membalas perbuatan Langit.


Tok... tok ... tok


Langit menghentikan pekerjaan nya ketika mendengar suara pintu nya di ketuk. Ia menghela nafas nya dengan cukup kasar ketika mengira bahwa Maxim sudah pulang secepat itu. Ia pun sebenernya tau bahwa sahabat nya satu itu paling tidak suka turun ke lapangan, namun ia sengaja.


"Masuk!" ucap Langit menghela nafas nya berat.


Cklek!


"Babyyy!" teriak seseorang yang baru saja membuka pintu, seketika itu juga Langit yang tadi sempat melanjutkan pekerjaan nya, tiba tiba kembali terhenti dan terkejut melihat siapa yang datang.

__ADS_1


__ADS_2