Langit Jingga

Langit Jingga
Berpihak lah padaku


__ADS_3

Langit tidak langsung pulang ke Apartemen nya, atau rumah nya. Namun Langit pulang ke rumah Jingga. Sepanjang perjalanan ia terus melakukan perang batin, kedatangan Nathan kembali di hidup nya membuat hatinya kembali di landa kegelisahan.


Terlebih ketika ia tahu bahwa Nathan begitu dekat dengan ayah Faris dan juga kenal Jingga lebih dulu darinya.


Tunggu, ia tidak cemburu. Bukan, Langit tidak cemburu, hanya saja ia merasa sedikit ada sesuatu yang mengganjal. Tapi ia juga tidak tahu apa itu.


Setelah sekian lama, kini akhirnya Langit kembali datang ke rumah keluarga Syarif, tepat nya lantai dua. Karena pagi tadi ia sudah datang ke sana namun hanya di bawah sebelum akhirnya ikut mengantarkan jenazah kedua mertua nya.


Tok ... tok ... tok ..


Berulang kali Langit mengetuk pintu kamar Jingga, namun tak urung di buka oleh sang empu nya. Menurut info yang Langit dapat dari pembantu di rumah Jingga, sejak pulang tadi Jingga langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci nya. Bahkan, Raihan pamit pulang saja, ia tetap tidak ingin membuka pintu kamar nya.

__ADS_1


“Jingga, buka pintu—“ kata Langit mengetuk pintu, namun belum selesai ia mengucapkan kata kata nya, pintu sudah lebih dulu di buka oleh Jingga.


Pemandangan yang Langit tangkap saat pertama kali melihat Jingga adalah, berantakan. Rambut nya yang begitu acak acakan, mata merah dan sembab. Serta pakaian yang sudah tidak beraturan. Saat ini, Jingga hanya mengenakan dress hitam panjang namun bagian bawah nya hanya sebatas lutut. Langit ingat betul bahwa tadi pagi, Jingga masih mengenakan jeans panjang, mungkin ia merasa gerah atau bagaimana sehingga Jingga melepaskan nya.


Tunggu, mengapa jadi membahas soal pakaian nya? Batin Langit mengumpat kasar.


“Kamu gapapa?” tanya Langit berusaha bersikap selembut mungkin, karena ia tahu saat ini hati Jingga pasti sangat rapuh setelah kehilangan kedua orang tua nya.


Langit pun menganggukkan kepala nya dan segera mengajak Jingga masuk ke dalam kamar. Setelah pintu di tutup, tangis Jingga kembali pecah di pelukan Langit. Pelukan nya semakin erat ketika Langit mengusap kepala nya.


“Keluarkan semua nya. Menangis lah, aku disini,” bisik Langit tepat di telinga Jingga.

__ADS_1


“Harus nya Jingga yang pergi, harusnya Jingga yang menyusul Biru, biar Jingga memarahi dia. Harusnya Jingga aja yang pergi, kenapa harus ayah dan bunda. Jingga iri dengan Biru, Jingga benci sama dia hiks hiks hiks.” Gumam Jingga di sela isak tangis nya.


“Untuk apa Jingga di lahirkan di dunia ini, kalau ujung ujung nya Biru mengambil semuanya. Biru udah ambil ayah dan bunda Jingga hiks hiks.”


“B—bukan Biru yang mengambil ayah dan bunda. Tapi Tuhan,” ucap Langit berusaha meralat ucapan Jingga.


“Om tahu kan, kakak nya Jingga dia sudah meninggal bahkan sebelum Jingga lahir,” tanya Jingga melepaskan pelukan nya, kini matanya menatap wajah Langit dengan intens, “Otomatis dia selalu berada di dekat Tuhan, dan Jingga yakin, dia pasti sering berdoa agar ayah dan bunda segera menyusul nya. Dia lebih dekat dengan Tuhan, otomatis doa nya cepat di kabulkan.” Kata Jingga yang bicara nya sudah mulai melantur kemana mana.


“Jingga—“


“OM, jangan bantah ucapan Jingga. Tolong jangan belain Biru lagi, cukup ayah dan bunda saja yang terus membela dia. Tolong tetap lah di pihak ku,” gumam Jingga yang masih sesenggukan dalam tangis nya.

__ADS_1


Langit langsung terdiam, ia bingung harus berkata apa. Ia tidak bisa membayangkan juga bagaimana bila nanti ia tahu bahwa dirinya juga pernah ada hubungan dengan Biru. Akankah Jingga kecewa pada nya? Juga membenci nya? Batin Langit, entah mengapa tiba tiba ia merasa sedikit takut dan jantung nya semakin berdetak kencang ketika membayangkan masa itu tiba.


__ADS_2