
‘Sejak di tinggal orang tua nya mati, sikap nya makin menjadi!’
‘Iya, bener banget! Jadi sugar baby dia sekarang!’
‘Kasihan ya, udah gak punya orang tua, sekarang harus kerja keras buat gaya hidup nya, ckck!’
‘Kira kira, masih berani banyak tingkah gak tuh!’
‘Kalau aku sih malu!’
Bisik bisik beberapa teman nya semakin mengusik pikiran Jingga. Namun, ia masih mencoba meredam nya, karena saat ini guru sudah masuk ke dalam kelas dan bersiap memulai Ujian.
‘Sabar Jingga, satu hari lagi. Setelah ini, kamu bisa menghabisi mereka semua!’ gumam Jingga dalam hati, ia menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sekilas agar emosi nya meredam dan bisa fokus untuk ujian nya.
Sekuat apapun Jingga mencoba sabar dan bertahan tidak berulah. Nyatanya, pertahanan Jingga runtuh ketika dimana dirinya di lemparin sebuah kertas dari teman teman nya. Sehingga dirinya di tuduh mencontek.
"Ini apa Jingga?" tanya bu Yasmin mengambil kertas di meja Jingga yang berisi coretan.
“Tapi itu bukan punya saya Bu!” seru Jingga membela diri.
“Bohong Bu! Tadi saya dan Ana juga lihat kok, kalau Jingga sering ngintip ngintip ke bawah meja.” Saut salah satu teman Jingga yang duduk di samping kanan nya Jingga.
“Wajar aja sih Bu, dia sekarang sibuk, jadi gak mungin ada waktu untuk belajar!”
“Bener Bu, jadi dia mengambil jalan pintas, dengan mencontek!”
“Huuuu!”
Seisi kelas nya bersorak bersama untuk menggunjing Jingga, ia yang merasa tak terima pun akhirnya beranjak dari bangku nya dan menghampiri salah satu provokator di kelas nya.
“Jingga!” seru bu Yasmin berusaha menahan, namun Jingga malah menepis tangan bu Yasmin dengan cukup kasar.
“Kamu ada masalah apa sih sama aku, hah!” bentak Jingga langsung menggebrak bangku Ana yang sejak tadi menatap nya sinis, “Kamu pikir aku takut dan bakal diem kamu giniin?”
__ADS_1
Braakkkk!
Dengan mata yang masih menatap tajam pada Ana, Jingga langsung membalikkan meja tersebut sampai terbalik. Tentu saja, seisi kelas menjadi semakin riuh. Tidak sampai di situ, kini Jingga juga berani menjambak rambut Ana dengan sekuat tenaga.
“Bu Yasmin tolong! Auuwhh sakit, lepas gak!” seru Ana berusaha melepaskan jambakan Jingga, namun begitu sulit.
“Kamu kan yang mem provokator anak anak disini buat nge judge aku? Apa sih masalah kamu hah! Aku ada nyenggol kamu apa?” sentak Jingga meluapkan segala amarah nya.
“Lepasin aku sialann!” pekik Ana semakin menjadi ketika jambakan dari Jingga semakin terasa kuat.
“J—Jingga, lepasin Ana ya,” ucap bu Yasmin berusaha membujuk Jingga.
Tidak ada yang tidak tahu bagaimana sifat Jingga. Mereka semua tahu bagaimana Jingga dulu, bahkan kakak kelas nya dulu sampai takut dengan Jingga bila marah. Katakan dia preman sekolah, memang iya tapi Jingga hanya menindas anak anak nakal yang suka memalak di sekolah nya. Di saat ada yang lemah di tindas, maka Jingga akan membela nya dan tidak tanggung tanggung menghajar lawan nya.
Jingga selalu memanfaatkan keadaan seperti itu untuk melampiaskan emosi nya, di kala bunda nya selalu membuat hatinya terluka.
Memasuki kelas tiga, kaka kelas yang suka menindas anak baru sudah lulus. Jingga berhenti dan fokus dengan belajar karena ia ingin lulus dengan nilai terbaik. Tapi sepertinya, diamnya selama satu tahun terakhir ini seolah di sepelekan dan di hiraukan, sehingga mereka berani membangunkan sisi kasar nya lagi.
Makanya tak heran bila waktu itu, bu Yasmin sempat mengatakan bahwa Langit dan Jingga hampir sama.
“Jingga, lepasin!” bu Yasmin masih berusaha untuk melerai, namun lagi lagi Jingga menepis nya, bahkan hampir membuat bu Yasmin terjatuh.
“Kalian semua iri sama aku, hah. Bilang sekarang!” Seru Jingga menatap teman teman nya satu per satu, "Gak usah bawa bawa orang tuaku! Harusnya kalian semua bersyukur karena masih memiliki orang tua utuh!"
"Ah, atau kalian semua mau ngerasain di tinggal mati sama orang tua juga?" tanya Jingga sedikit menurunkan intonasi suaranya, namun senyum tipis di wajah nya malah kini semakin terlihat jauh lebih seram dari ketika ia berteriak.
Dan kini, semuanya hanya mampu terdiam, tidak ingin ikut campur. Terlebih mereka tahu bahwa Jingga memiliki sugar Dady yang memiliki mobil bagus. Sudah pasti, memiliki kekuasaan. Karena kebanyakan sugar baby pasti akan di sayang, itulah yang di pikirkan mereka.
“J—Jingga, kami cuma gak mau kamu kaya Nadin!” ucap salah satu teman nya yang berdiri di pojokan.
Jingga langsung melepaskan tangan nya dari rambut Ana, matanya langsung menatap ke arah gadis yang terlihat menunduk ketakutan sambil meremas ujung seragam nya.
“Tadi bilang apa? Gimana? Coba bilang sekali lagi?” tanya Jingga dengan suara lembut nya menghampiri gadis bernama Fira.
__ADS_1
“A—aku tahu kalau Nadin selama ini bekerja di club malam. Dan sejak dia pacaran dengan Bagas baru dia berhenti. Ka—kami gak mau kalau kamu juga ikut jejak Nadin, dan—“
“Apa kalian pikir aku se miskin itu?” cibir Jingga berdecak dan semakin mengepalkan kedua tangan nya, “Dan kalian semua tahu apa soal hidup ku atau Nadin sekalipun? Apa kami pernah meminta makan sama kalian? Hah! Jawab!” teriak Jingga semakin murka ketika nama Nadin kembali di sebut.
“Jingga, segitu frustasi nya kamu sampai harus menjadi sugar baby. Kamu lihat sahabat tercinta kamu itu, yang ujung nya menusuk mu dari belakang. Sekarang—“
“Apa sekarang hah! Kalau gak tahu apapun lebih baik diam, gak usah ikut campur!”
Jingga hendak menghampiri Ana kembali, karena gadis itu sejak tadi selalu menyulut emosi Jingga. Namun, sebelum Jingga sampai di depan Ana, bu Yasmin lebih dulu menyuruh Ana pergi, begitupun anak anak yang lain agar bubar.
Bu Yasmin masih terus berusaha menenangkan Jingga, hingga kini kelas itu benar benar sepi karena semuanya sudah keluar atas perintah bu Yasmin.
“Kenapa ibu gak pernah berpihak sama saya Bu! Kenapa ibu selalu membela mereka!” seru Jingga frustasi, kini air matanya luruh ketika sudah tidak ada teman teman nya.
“Jingga, kontrol emosi kamu. Ibu hanya bertanya, bukan menuduh. Dan juga ibu percaya sama kamu,” ujar bu Yasmin dengan lembut.
Bu Yasmin memang sudah di kenal sebagai guru senior dan paling lembut di antara guru guru yang lain. Terlebih, bu Yasmin adalah orang kepercayaan pak Danu. Sering kali pak Danu menawarkan jabatan yang lebih tinggi untuk bu Yasmin, namun beliau tidak mau. Sejak Langit hingga Jingga, bu Yasmin tetap bertahan di kelas tersebut. Ia merasa bahagia dan nyaman bisa berinteraksi dengan murid dan menjadi saksi kera keras murid murid nya yang akan lulus nanti.
“Auwhhhsshh!” pekik Jingga langsung menggigit bibir bawah nya.
“Jingga, kamu kenapa?” tanya bu Yasmin panik ketika melihat wajah Jingga yang sudah pucat, dan kini tubuh Jingga sudah jatuh ke lantai.
.
.
...🍁🍁🍁...
Yuhuuu.... Akhirnya kita sampai di akhir penutupan Give away ya. Sebelumnya, Mommy mau ucapin terimakasih untuk yang sudah ikut give away ini.
Dan ini dia pemenang nya...
__ADS_1
Untuk kelima nama di atas, silahkan DM ke instagram Mommy, dan sertakan bukti Screenshot akun nya yah. Contoh screenshot akun harus seperti ini ya