
“Woy alamat kamu dimana?” seru Jingga ketika panggilan telfon nya di angkat oleh Raihan. Ya, tadi Jingga hendak pulang namun ia mencari tas nya tidak ada, dan ternyata tas itu sudah di bawah oleh Raihan pulang ke rumah nya.
Memang bener bener temen gak ada akhlak bukan, batin Jingga.
Tentu saja, karena Jingga belum pernah tahu dimana rumah Raihan, begitu pun dengan Raihan. Makanya tadi ia membawa tas Jingga ke rumah nya karena Jingga masih berada di UKS, dan ia terlalu takut menghadapi Langit seorang diri. Bukan takut, hanya saja Raihan merasa belum berani, umur mereka sangat jauh, jadi ia hanya takut kualat, iya anggap saja seperti itu.
“Kamu udah gapapa?” tanya Raihan setelah menjauhkan ponsel nya dari telinga.
“Sakit sedikit, tapi Tas ku, itu ada PR buat besok. Rese banget sumpah, kenapa kamu bawa kabur!”
“Bukan bawa kabur Jingga, hanya saja aku menyelamatkan diriku sendiri,” jawab Raihan terkekeh, “Udah deh, kamu kesini aja, sekalian main sih. Gak ada tempat tongkrongan kan sekarang, udah disini aja. Kebetulan ada yang mau ketemu sama kamu, dari lama. Aku share lock ya!”
__ADS_1
“Siapa yang mau ketemu aku?” tanya Jingga mengerutkan dahi nya.
“Orang tua ku, mereka mau ketemu sama calon menantu nya,” jawab Raihan terkekeh.
“Kamprettt!” seru Jingga semakin berdecak karena lagi lagi Raihan menggoda nya.
Ia segera mematikan telfon nya dan melihat alamat yang di kirimkan oleh Raihan. Jingga memilih untuk menaiki taxi dan meninggalkan mobil nya di sekolah karena keadaan perut nya yang belum sembuh sepenuh nya.
Sebenarnya, Jingga sudah merasa seperti ada yang mengganjal tentang sosok Langit. Di mulai dari taman bunga mawar putih yang menurut nya itu adalah kesukaan dari Biru. Jingga masih berfikir mungkin ini kebetulan, namun ketika ia datang ke kantor Langit, lagi lagi semua nuansa di sana Biru, sama seperti kantor papa nya. Dan tadi, baju yang di berikan Langit mengingatkan dirinya akan sosok Biru lagi.
Kini Jingga merasa memang ada yang aneh, dan ia juga ragu bila semua ini juga secara kebetulan. Namun, hatinya menolak untuk mencari tahu, ia merasa tidak siap dan tidak mau sampai dugaan nya benar.
__ADS_1
“Sangat tidak mungkin, bukan? Jelas lah, sangat tidak mungkin,” gumam Jingga dalam hatinya sambil melihat ke arah keramaian jalan raya dari balik jendela mobil taxi.
Tin ... tin ,... tin ..
Sore itu, jalanan begitu macet, hingga membuat Jingga sedikit kesal lantaran hampir satu jam ia belum sampai juga di rumah Raihan.
Drrtt ... Drrtt .. Drttt ..
“Ha—“ baru saja Jingga hendak mengucapkan halo, tiba tiba ponsel nya sudah mati karena baterei nya habis. Ia menghela nafas nya dengan kasar, dan merasuki kebodohan nya karena bisa sampai kehabisan batrei. Power bank nya pun ada di dalam tas yang di bawa oleh Raihan, membuat nya hanya bisa pasrah dan menunggu sampai kemacetan itu berakhir dan ia bisa segera menge-charge ponsel nya.
‘Kenapa Bunda telfon Jingga? Tumben, gak biasanya,’ gumam Jingga dalam hati, entah mengapa hatinya kini berdetak tak karuan, ia merasa seperti ada sesuatu, namun ia juga tidak tahu apa itu.
__ADS_1