Langit Jingga

Langit Jingga
Bintang


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Sementara itu, Jingga yang melihat Langit hanya diam saja dan tidak langsung menghampiri nya, merasa kian begitu sesak. Terlebih, ia melihat bagaimana wanita di samping Langit begitu santai menggandeng tangan suami nya, dan hendak mengajak nya pergi.


Jingga menghela napas nya dengan pasrah. Percuma, semua sia sia, pikirnya.


Yang Jingga pertahankan dan perjuangkan, kini sudah sirna. Nyatanya Langit sudah bahagia dan memiliki pasangan baru. Atau mungkin juga Langit sudah menikah dengan perempuan lain, Langit sudah menceraikan nya, pikir Jingga tanpa sadar sampai meneteskan air mata.


"Bunda, kenapa menangis? kenapa tidak mengejar Ayah. Ayah pergi lagi, Bunda, " kata Bintang terus menatap bunda dan ayah nya bergantian saat sang ayah malah pergi begitu saja tanpa bertegur sapa.


"Sayang, kita pulang dulu ya. Kasihan adek Asa kecapean," ucap Jingga mencoba memberikan pengertian kepada sang putri, "Tadi, ayah sudah menghubungi Bunda. Ayah sedang ada pekerjaan penting jadi ayah izin pergi dulu."

__ADS_1


"Yah, kita gagal ya Bun, mau ngasih surprise ke Ayah?" tanya nya dengan raut wajah kecewa.


"Enggak, Sayang. Kita gak gagal kok, nanti kita kasih surprise lain, oke!"


Bintang pun menganggukkan kepala nya dengan lemah, lalu ia segera memasuki mobil. Sementara Asa, sejak tadi ia tertidur di gendongan Raihan.


Setelah sampai di sebuah kamar yang dulu sempat di tinggali oleh Jingga di kediaman Nathan. Kini Jingga langsung menumpahkan tangis nya. Ia tidak menyangka bila pada akhirnya Langit akan benar benar menceraikan nya. Padahal Jingga berharap, Langit bisa menunggu nya. Tapi ternyata harapan nya salah besar.


"Kak, Rai. Kenapa Bunda sedih ya?" tanya Bintang yang kini menghampiri Raihan.


"Biarkan Bunda sendiri dulu ya. Bunda hanya kecapean kok, nanti juga ilang sedih nya." ujar Raihan memberikan pengertian.

__ADS_1


"Kakak, apakah menurut kak Rai, Ayah gak mau bertemu dengan Bintang dan Asa? kenapa Ayah langsung pergi begitu saja setelah melihat kami?" tutur anak kecil itu dengan memasang wajah sedih nya.


"Hey, kenapa wajah mu begitu sedih? hem?" Raihan begitu lembut dan perhatian kepada sepupu nya. Ia mengangkat tubuh mungil Bintang dan ia duduk kan di pangkuan nya.


"Ayah kamu itu orang hebat. Memiliki banyak pekerjaan yang mengharuskan nya pergi pergi jauh. Dan mungkin saja, tadi ketika kita bertemu di bandara, ayah sedang mau pergi untuk perjalanan bisnis. Kamu tahu sendiri bukan, kedatangan kita ke Indonesia, tanpa sepengetahuan ayah kamu. Jadi, bisa saja ayah kamu sedang terburu buru dan tidak sempat menghampiri kalian, tadi." jelas nya panjang lebar agar Bintang bisa mengerti.


"Lalu, siapa tante yang bersama ayah tadi?" tanya Bintang lagi membuat Raihan kembali terdiam seolah berfikir.


"Mungkin itu teman kerja ayah kamu. Sama seperti mama Zara yang punya temen kerja. Begitupun dengan papa Nathan juga punya teman kerja kan?" jawab Raihan lagi mencoba untuk hati hati.


"Tapi kan teman kerja papa, uncle semua. Tidak ada yang aunty," sungut anak kecil itu langsung memberengut kesal, membuat Raihan semakin di landa kebingungan.

__ADS_1


Bintang memang sudah mengenal Langit, karena selama ini, Jingga selalu memajang foto pernikahannya dengan Langit di kamar. Sehingga bila anak anak nya menanyakan dimana ayah nya, maka Jingga hanya menjawab ayah nya bekerja di Indonesia. Dan kepulangan nya kini ingin memberikan kejutan kepada sang ayah, itulah mengapa Bintang langsung berteriak ayah ketika melihat Langit.


__ADS_2