Langit Jingga

Langit Jingga
Perkara Wisuda


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan nya, Langit pun segera mengajak Jingga pulang. Langit tidak akan mengizinkan Jingga untuk datang ke sekolah lagi, dan untuk nilai ujian. Langit akan menyerahkan nya kepada bu Yasmin. Awalnya, Langit ingin langsung mengeluarkan ketiga siswi tersebut karena sudha menjadi provokator menuduh Jingga. Namun, lagi lagi bu Yasmin menyadarkan Langit, bahwa membalas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Bu Yasmin yang sudah cukup mengenal beberapa sifat murid nya, hanya takut bila nanti ketiga nya dendam kepada Jingga, dan akan membalas kembali perbuatan Langit kepada Jingga.


Akhirnya Langit membiarkan setelah ketiganya meminta maaf kepada Jingga. Tapi Langit tidak mengatakan apa status hubungan mereka, Langit hanya mengungkapkan statusnya kepada para guru agar tidak akan yang berani ikut memfitnah Jingga.


“Kalau Jingga gak boleh kesini lagi, terus nanti Ijazah Jingga gimana? Wisuda nya?” gumam Jingga begitu lirih, ia seolah enggan meninggalkan sekolah nya.


“Kamu masih mau wisuda dengan mereka?” tanya Langit langsung menghentikan langkah kaki nya dan menatap Jingga.


“Memang nya kenapa? Wisuda SMA, itukan cuma satu kali doang,” kata Jingga menghela nafas nya berat.


“Tidak wisuda, kamu tidak akan mati atau miskin. Tidak perlu hadir!”


“Mas!” seru Jingga menatap kesal pada suaminya, hingga tanpa sadar membuat beberapa siswa yang lalu lalang, melihat kearah Langit dan Jingga.

__ADS_1


“Apa aku salah?”


“Ya enggak, cuma—ih!” Jingga menghentakkan kaki nya beberapa kali, “Mas enak karena sudah ngerasain wisuda, lah Jingga kan belom!”


“Aku gak pernah merasakan nya!” saut Langit dengan cepat, lalu ia segera mendahului jalan Jingga menuju mobil.'


Jingga terdiam sesaat, mencerna kembali ucapan suaminya. Bagaimana bisa laki laki itu mengatakan tidak pernah wisuda? Jingga ingat betul, bahwa suaminya lulusan terbaik di tingkatan nya. Selain itu, Langit juga pernah menjabat sebagai seorang polisi di luar negri, hebat bukan. Lalu mengapa Langit bisa mengatakan bahwa tidak pernah merasakan wisuda.


“Raihan ... “ gumam Jingga pelan, laki laki yang sudah beberapa hari tidak ia temui.


“Dia siapa?” tanya Raihan pelan, namun sangat terlihat jelas raut wajah Raihan yang tidak seperti biasa.


“Kamu sakit?” kata Jingga malah balik bertanya.

__ADS_1


“Dia siapa kamu, Jingga? Kalian ada hubungan apa? Dan om om yang waktu itu juga siapa?”


“Om om yang mana lagi? Memang nya aku ada berapa om sih?” tanya Jingga menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Belum sempat Raihan menjawab ucapan Jingga lagi, tiba tiba Langit sudah kembali dan menarik tangan Jingga untuk ia sembunyikan di belakang tubuh nya.


“Ada apa?” tanya Langit datar menatap Raihan, ia kembali teringat oleh kata kata tiga makhluk yang sebelumnya ia sidang di ruang guru beberapa saat yang lalu. Yang mengatakan bahwa Raihan adalah penyebab kekacauan yang menimpa Jingga. Selain itu, pengaruh Raihan juga sangat besar dalam hubungan Jingga dan kekasih nya yang sebelum nya.


“Tidak ada pak, saya hanya ingin menanyakan keadaan Jingga setelah pingsan tadi,” ujar Raihan sopan sambil menundukkan kepala nya.


“Dia sudah baik baik saja. Lebih baik, kamu urus pacar kamu, dan calon kakak ipar kamu itu, agar berhenti mengganggu Jingga. Dan satu lagi, jauhi Jingga kalau tidak mau berurusan dengan ku!” ancam Langit, dan tanpa aba aba, ia segera mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya ke mobil.


“Mas, turunin Jingga!” pekik Jingga begitu terkejut karena dirinya di gendong bukan ala ala yang romantis, melainkan gendongan bak karung beras.

__ADS_1


__ADS_2