
Langti segera beranjak dari tempat tidur dan hendak pergi ke kamar mandi, namun tiba tiba ketika ia baru berdiri, ia merasakan sebuah pelukan dari belakang.
“Jangan ngambek,” gumam Jingga lirih sambil memeluk Langit dari belakang, “Iya, Jingga tahu tidak semua cowok itu kaya Bagas. Dan Jingga juga berharap kalau mas Langit gak kaya dia. Jingga hanya takut merasa sakit dan kecewa lagi, makanya Jingga bicara seperti itu. Maafin Jingga.”
“Jingga sudah kehilangan pacar, sahabat dan juga orang tua. Jingga gak mau kehilangan suami juga, sekarang yang Jingga punya cuman mas Langit. Jingga gak mau dan takut kalau suatu saat mas Langit juga akan ninggalin Jingga hiks hiks hiks.”
Mendengar suara Jingga yang kembali menangis, membuat hati Langit kembali luluh, ia pun segera membalikkan badan dan menghadap ke arah Jingga. Kini posisi nya Langit berdiri di smaping tempat tidur dengan Jingga yang berdiri dengan lutut nya dan saling berhadapan.
“Jangan menangis lagi,” kata Langit menghapus air mata Jingga.
“Makanya jangan ngambek lagi. Yang anak kecil disini Jingga, masa mas Langit yang ngambek, kan gak lucu.” Gumam Jingga memanyunkan bibir nya dengan mata mengerjap berulang kali.
__ADS_1
“Aku juga manusia Jingga,” ucap Langit menghela nafas nya berat.
“Tapi mas Langit udah jadi malaikat nya Jingga. Mas Langit selalu ada di setiap Jingga butuhin,” ujar nya kembali memeluk Langit, ia menyandarkan kepala nya pada dada bidang suaminya, yang begitu bidang dan membuatnya selalu nyaman, “Terimakasih," imbuhnya lalu mendongakkan kepala menghadap Langit dan tersenyum.
“Lebih baik sekarang kamu mandi, nanti mas anter ke sekolah.” Ujar Langit mengusap kepala Jingga dengan lembut.
“Mas aja yang mandi dulu. Jingga siapin baju mas Langit ya, biar kaya yang di novel novel sama Drakor gitu,” kata Jingga menutup mulut nya yang terkekeh sendiri.
“J—jangan sekarang!” seru nya dengan cepat langsung menyilangkan tangan nya di dada, “J—Jingga mau sekolah. Jangan—“
Ctaakk!
__ADS_1
“Aduhh, sakit Mas!” pekik Jingga karena lagi lagi Langit menyentil kening nya.
“Pikiran kamu kemana larinya?” tanya Langit menggelengkan kepala nya.
“Ucapan mas Langit itu yang larinya mau kemana!” cetus Jingga cemberut kesal, “Ngajak mandi bareng terus nanti di kamar mandi biasanya begitu. Jingga belum pernah kaya gitu, kata orang begituan itu sakit untuk pertama kalinya. Jingga masih mau sekolah dulu, yang ada nanti gak bakal jadi sekolah kalau mandi bareng mas Langit, nanti—“
“Cukup Jingga!” potong Langit dengna cepat sebelum bicara Jingga semakin lari kemana mana, “Kamu bilang mau siapin pakaian kan? Silahkan, aku mandi sekarang!” imbuh nya, lalu ia segera berjalan cepat menuju kamar mandi.
Dirinya hanya berniat menggoda, bukan mengajak nya mandi berdua sungguhan. Namun respon Jingga jauh di luar ekspetasi Langit. Untuk pertama kalinya sakit, apakah Jingga pikir dirinya juga sudha pernah emlakukan nya? Bahkan di umur nya yang sudah tiga puluh lima tahu, ia belum pernah merasakan nya, jadi ia mana tahu sakit atau tidak.
‘Dammttt!” umpat nya kasar ketika kata kata Jingga terus terngiang di kepala nya. Langit segera menyalakan shower dan mandi dengan air dingin. Padahal, sebelumnya ia paling tidka bisa mandi dengan air dingin bila pagi hari. Namun, sepertinya mulai sekarang ia harus bisa membiasakan nya.
__ADS_1
‘Kenapa bajunya warna beginian semua,’ gumam Jingga ketika memasuki walk in closed milik Langit.