
...~Happy Reading~...
Setiap hari, Jingga akan selalu mengikuti Langit ke kantor. Hampir satu bulan sudah ketika dirinya pulang dari rumah sakit. Kini hubungan Langit dan Jingga semakin terlihat harmonis. Keadaan Jingga sudah sangat membaik, dan juga sifat nya semakin bertambah dewasa. Namun, entah mengapa hingga kini ia masih begitu enggan untuk kembali kuliah.
“Kamu yakin, gak mau kuliah?” tanya Langit memastikan sekali lagi, kini keduanya tengah berada di kamar dengan Jingga yang tidur ber bantal lengan Langit.
“Jingga mau kaya gini aja dulu,” jawab Jingga sambil memainkan ponsel nya.
“Baiklah, asal kamu tidak akan menyesal, mas tidak akan melarang kamu. Kamu bebas melakukan apapun, mas akan dukung kamu.”
“Really?” Jingga langsung mendongakkan kepala nya ke atas, dan Langit pun segera menundukkan kepala nya untuk mengecup bibir Jingga.
“Hem,” jawab Langit ketika sudah mengecup bibir Jingga.
Mendapat lampu hijau dari Langit, Jingga pun segera bangkit dan mendudukkan diri di atas tubuh sang suami.
__ADS_1
“Kamu mau ngapain?” tanya Langit sedikit terkejut melihat tingkah Jingga.
“Katanya Jingga bebas mau ngelakuin apapun,” katanya sedikit cemberut, namun malah membuat Langit terkekeh.
“Terus sekarang kamu ngapain?” tanya Langit lagi, kini ia menaikkan tangan nya dan ia jadikan bantal kepala sendiri.
“Jingga mau ngajakin mas Langit main bola. Tapi, sekarang Jingga yang akan jadi itunya, eh apa sih kalau main bola gitu, jadi apa sih?” tanya Jingga yang terlihat bingung sendiri.
“Ya gak tau, memang nya mau jadi apa?” tanya Langit menahan tawa nya.
“Ihhh jangan ketawa!” seru Jingga tak terima, namun malah membuat Langit semakin tak kuasa menahan tawa nya.
Drrtt ... drrtt ... Drrtt...
“Ini siapa lagi, ih ganggu aja!” cetus Jingga lagi ketika mendengar suara getaran ponsel yang berada di atas meja, samping tempat tidur.
__ADS_1
“Halo, apaan?” tanya Jingga dengan nada tak suka.
“Astaga Jingga, mana Langit? Ada yang mau aku bicarain sama dia,” kata orang di seberang sana yang ternyata adalah Gery.
“Om gak punya jam ya di rumah?” kata Jingga balik bertanya.
“Apa sih Jingga, udah buruan kasih ponsel nya ke Langit. Penting!” ucap Gery.
“Sepenting apaan sih? Udah deh om Soleh, mending om gangguin istri om aja, daripada ganggu suami Jingga. Ini udah jam sepuluh, mas Langit mau main bola sama Jingga. Jadi, jangan GANGGU!” seru Jingga lalu ia segera mematikan sambungan telfon nya, sehingga membuat Langit semakin merasa gemas terhadap istri nya.
Sementara itu, Gery yang mendapat penolakan dari Jingga, seketika langsung mematung di ruang kerja nya. Ia mencerna kembali perkataan Jingga yang mengatakan bahwa Langit hendak bermain bola.
‘Jam segini si Langit mau futsal? Dimana? Kok gak ngajak?’ batin Gery bertanya tanya, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Maxim.
Karena biasanya bila mereka futsal, maka pasti Gery juga akan ikut. Lantas mengapa kini hanya langit dan Maxim saja, pikir nya. Tentu saja Gery merasa sangat kesal
__ADS_1
‘Bisa bisa nya mereka main tanpa aku, sial!’ umpat Gery dalam hati.