Langit Jingga

Langit Jingga
Bonus Chapter


__ADS_3

Braakkk!


Suara gebrakan pintu membuat seorang anak laki-laki berseragam putih biru itu langsung berjongkat dari tempat tidur nya.


"Ayah!" pekik nya yang ketika melihat keberadaan sang ayah sudah memasuki kamar nya dengan ekspresi yang tak biasa.


"Kenapa kamu merokok di sekolah, hah!" bentak Langit dengan penuh kemarahan.


Dirinya begitu terkejut saat mendapatkan laporan dari salah seorang guru yang mengatakan bahwa putra nya ketahuan merokok di gudang belakang bersama teman teman nya.


Itu juga menjadi penyebab, kini anak laki laki tiga belas tahun itu sudah berada di rumah, padahal masih jam pelajaran.


"Angkasa hanya penasaran," jawab anak bernama Angkasa itu dengan wajah menunduk menahan takut.


Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan amukan seperti itu dari sang ayah, tentu saja mental nya belum begitu kuat.

__ADS_1


"Penasaran? siapa yang mengajari mu seperti ini hah! Kamu itu masih kecil! masuk SMP saja bari berapa bulan dan kamu sudah membuat kesalahan besar, Angkasa!" pekik Langit menghela napas nya dengan cukup kasar.


"Iya Ayah, Angkasa janji tidak akan mengulangi lagi," gumam anak itu pelan.


"Sejak kamu masuk SMP itu, nilai kamu hancur Sa! Ayah gak mau tahu, perbaiki nilai kamu, atau kamu akan Ayah kirim ke luar negri!" ancam Langit lalu ia segera pergi meninggalkan kamar putra nya.


'Dasar guru tukang ngadu!' umpat nya dalam hati begitu kesal.


Sementara itu, Langit yang masih begitu marah dengan kelakuan anak nya, memutuskan untuk istirahat di kamar. Karena bila kembali ke kantor pun akan percuma, kepala nya terasa sangat pusing melihat perubahan sikap anak nya akhir akhir ini.


Angka adalah anak yang sangat cerdas dan pandai. Namun saat memasuki sekolah putih biru, anak itu menjadi tak terkendali. Sering bolos, nilai berkurang, bahkan dari kelas 1A bisa langsung pindah ke 1F, di semester kedua.


"Sayang," seketika itu juga, Langit langsung menarik istrinya dan mengajak nya ke kamar.


"Ada apa? kamu gak sakit kan?" tanya Jingga mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


"Aku habis menemui Angkasa," jawab Langit yang lagi lagi harus menghela napas berat ketika mengingat kelakuan putra nya.


"Angkasa? Tadi mas ke sekolah? Ada apa dengan dia Mas?" tanya Jingga penasaran. Ia belum tahu bahwa putra nya sudah berada di kamar nya, lantaran tadi Jingga pergi untuk menjemput kedua putra kembar nya dari sekolah.


"Angkasa merokok," jawab Langit pelan.


"Hah!" Tentu saja Jingga langsung terkejut dan tak percaya.


"Ngaco kamu Mas, gak mungkin Angkasa kaya gitu. Dia masih kecil kok!" imbuh Jingga menggelengkan kepala nya.


"Tadi aku di telfon sama guru, dan dapat kiriman foto dimana Angkasa menghisap sebatang rokok di gudang belakang!" jawab Langit yang sebenarnya juga tak ingin percaya namun semua bukti sudah ada.


"Astaga, ini pasti gara gara kamu Mas!" pekik Jingga langsung berdiri dan menatap suami nya marah.


"Sayang! kenapa malah aku yang di salahkan?" tanya Langit tak percaya mengapa respon istrinya malah seperti itu?

__ADS_1


"Karena kamu suka merokok! padahal sudah sering ku katakan, jangan merokok di rumah! bisa saja Angkasa penasaran karena sering melihat kamu merokok! jadi dia coba coba dan akhirnya praktek!" seru Jingga dengan napas yang sedikit memburu.


Langit pun langsung terdiam, membenarkan perkataan istrinya. Namun, ia juga masih kurang yakin, masa iya Angkasa bisa merokok karena dirinya? padahal ia cukup jarang merokok di rumah, dan kalau pun ia merokok pasti saat malam hari di balkon.


__ADS_2