Langit Jingga

Langit Jingga
Haruskah aku mati?


__ADS_3

“Astagfirullah, Sayang kamu kenapa?” pekik Bunda begitu panik ketika melihat keadaan Putri nya yang cukup mengenaskan. Bagaimana tidak, rambut Jingga begitu acak acakan, kening terluka, begitu pun leher nya yang memerah.


“Jingga gapapa Bunda,” jawab Jingga tersenyum karena Bunda khawatir dengan nya.


“Gapapa gimana? Kening kamu terluka begini, kamu masih bilang gapapa? Ini lagi leher kamu kenapa? Ya Allah Biru, kenapa bisa sampai begini? Harusnya kamu tahu keadaan kamu bagaimana, kenapa kamu harus nekat untuk bersekolah? Sejak dulu bunda sudah bilang, kamu home schooling saja, kenapa kamu maksa. Dan sekarang lihat kamu sampai kaya begini, tunggu ayah pulang nanti ayah yang akan mengurus semuanya, bilang sama bunda, siapa yang sudah melakukan ini?” ucap bunda panjang lebar dengan air mata yang berjatuh membasahi pipi nya.


Deg!


Biru ... apakah Jingga salah dengar? Atau memang bunda menyebut nama Biru? Lagi? Lagi dan lagi? Dan apa tadi? Home schooling? Apakah dirinya cacat? Sampai harus home schooling?


“Bunda ... “ gumam Jingga begitu lirih, ia berusaha untuk tidak menangis, meski dada nya terasa begitu sesak.


“Ayo ikut bunda, kening kamu harus di obati agar tidak infeksi. “ Bunda segera mendudukkan Jingga di sofa, sementara dirinya sibuk mencari kotak obat untuk mengbati luka Jingga.


“Haruskah aku senang? Atau aku harus menangis? Apakah aku terlihat cengeng di depan mu?” gumam Jingga menatap sebuah figura foto kebersamaaan orang tuanya dengan Biru yang terpajang besar di atas dinding televisi.


‘Aku benci kamu, Biru. Aku benci,” umpat Jingga menatap benci pada sosok di foto itu, dada nya terasa begitu sesak, dan tangan nya mengepal dengan kuat.

__ADS_1


Foto yang ukuran nya jauh lebih besar dari foto ke bersamaaan nya dengan orang tuanya. Masih salahkah bila Jingga iri? Masihkah Jingga di sebut egois bila membenci Biru?


Di foto itu, terlihat bagaimana bahagianya sosok Biru yang tengah tersenyum lebar di tengah tengah ayah dan bunda nya. Foto yang di ambil di taman bunga belakang rumah nya yang di penuhi oleh mawar putih. Di sana terlihat dengan jelas bagaimana raut wajah ayah dan bunda nya yang juga bahagia.


Sangatberbeda dengan foto di sebelah nya, dimana bunda hanya tersenyum tipis. Hanya dirinya yang tersenyum lebar, itupun gambar yang di ambil ketika dirinya masuk SMP. Sudah sangat lama bukan.


“Sini sayang, bunda lihat.” Kata bunda yang sudah berada di sebelah Jingga, “Kenapa bisa sampai begini?’


“Jingga berkelahi Bunda,” jawab Jingga dengan raut wajah datar nya.


“Bunda ... “


“Iya Sayang . “ jawab bunda sambil terus fokus membersihkan darah di kening jIngga yag sudah mulai mengering.


“Jika seandainya, Jingga dan Biru terluka, mana yang akan bunda obati lebih dulu?” tanya Jingga dengan menahan sesak nya.


Deg!

__ADS_1


Seketika tangan bunda langsung lemas, mata yang sejka tadi fokus menatap luka kening Jingga. Kini mata itu menatap dalam pada mata Jingga, sehingga keduanya saling menatap dengan intens.


“Apa yang kamu bicarakan Sayang? Kamu dan kak Biru, kalian sama sama putri bunda. Jangan pernah menanyakan hal itu, kalian sama sama berarti buat bunda, kalian malaikat bunda.”


“Enggak Bun! Malaikat bunda hanya Biru. Anak bunda cuma Biru, semua di hidup bunda hanya Biru, biru, dan Biru! Tidak pernah ada Jingga!” Pekik Jingga mengeluarkan seluruh isi hatinya.


“Sayang ... “ Bunda menggelengkan kepala nya dengan kuat. Air matanya sudah begitu deras mengalir membasahi wajah nya.


“Apakah Jingga harus mati dulu kaya Biru, agar bunda bisa selalu mengenang Jingga?” tanya Jingga begitu lirih.


Plaakkkk!


Spontan tangan bunda langsung mengatung di udara setelah menampar Jingga. Bunda tidak berniat sama sekali menampar Jingga, ia hanya tidak mau kehilangan lagi, dan ia sangat tidak menyukai ucapan Jingga. Ia juga sama terkejut nya dengan apa yang sudah ia lakukan kepada Jingga.


“Terimakasih Bunda,” kata Jingga lirih smabil tersenyum getir, dan tanpa mengucapkan kata lagi, Jingga segera beranjak dan berlari menuju kamar nya.


“Jingga, Sayang. Mafain bunda. Jingga maafin bunda hiks hiks.” Tubuh bunda langsung luruh ke lantai, sementara Jingga terus menangis di dalam kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2