Langit Jingga

Langit Jingga
Pakaian apa?


__ADS_3

Berulang kali Jingga mengerjapkan matanya, menatap lekat pada beberapa potong kain di depan matanya. Sesekali, ia juga menatap Langit dengan wajah bingung.


"I—ini om yang beli? u—untuk Jingga?" tanya Jingga polos.


Sementara Langit, ia memilih diam dan mengumpat kasar pada sahabat nya. Ia benar benar lupa bahwa dia sahabat nya sudah tidak memiliki otak, sehingga bisa memberikan kejutan seperti ini.


"Jingga suka yang ini dan ini, tapi untuk yang satu ini—"


Jingga kembali terdiam, ia mengambil salah satu pakaian yang menurut nya sangat aneh sehingga otak nya tak mampu untuk mencerna. Sebuah lingerie yang sangat tipis dan transparan. Jingga berfikir, untuk apa membeli pakaian itu, terlebih Jingga masih bisa melihat bandrol harga yang tertera di sana.


Tiga juta lebih hanya untuk satu pakaian setipis itu. Jingga tak habis pikir, mengapa Langit membelikan nya pakaian seperti itu. Karena menurut Jingga, memakai pakaian seperti itu sama saja seperti tidak memakai apapun.


Karena penasaran, Jingga pun berdiri dan menempatkan nya tepat di dada nya. Dan benar saja, dress tipis itu hanya sampai pada pangkal paha nya.


"Astaga Mas, ini baru di coba begini aja sependek ini. Apalagi kalau Jingga pakai beneran tanpa pakai baju lain coba. Ckckk!"


__ADS_1


Jingga berdecak seorang diri memperlihatkan pakaian yang sedang ia coba di depan Langit.


'Damtt!' umpat Langit dalam hati.


Ia berusaha mati matian menahan sesuatu yang seperti nya mulai terbangun dari tidur panjang nya. Otak Langit langsung mencerna ketika mendengar kata kata yang di ucapkan oleh Jingga.


Andai Jingga memakai lingerie itu tanpa pakaian lain dalam tubuh nya. Ya, kata kata itu terus terngiang dalam pikiran Langit, hingga membuat nya begitu frustasi.


"Tidak usah di pakai, buang saja!" ucap Langit begitu datar.


"Ih, sayang juga kalau di buang!" balas Jingga sedikit cemberut, "Heran deh, kenapa mas Langit hobi banget buang buang duit!" keluh nya lagi, lalu ia melempar lingerie itu tepat di depan Langit.


"Nah, kalau ini, Jingga suka. Lucu banget!" pekik Jingga seperti habis mendapatkan sebuah lotre ketika melihat sebuah pakaian couple yang sangat lucu dan menggemaskan baginya.



Dan kini, Langit kembali di buat terkejut ketika Jingga mengangkat pakaian itu dan memperlihatkan padanya.

__ADS_1


'Double Shitt!' Langit sudah kehabisan kata kata untuk mengumpat para sahabat nya. Entah pikiran darimana, sehingga mereka bisa membelikan pakaian anak anak begitu untuk dirinya.


"Mas, lucu banget kan! Pakai dong!"


"Gak!" tolak Langit dengan cepat.


"Ihh, terus buat apa mas beli mahal mahal kalau gak mau pakai!" cetus Jingga begitu kesal.


"Buang saja!" ujar Langit tak kalah kesal, namun ia kesal terhadap dua sahabat nya bukan kepada Jingga.


"Enak aja!" saut Jingga dengan cepat, "Itu buang, ini buang! ngapain di beli kalau ujung ujung nya di buang!"


Langit mengusap wajah nya dengan frustasi, ia pun memilih pergi dari kamar menuju ruang kerja. Tujuan nya saat ini adalah ingin menghubungi dua sahabat nya dan membuat perhitungan.


Ia memang menginginkan pakaian tidur couple dengan Jingga. Tapi bukan pakaian anak anak seperti itu, batin nya kesal.


Bisa bisa nya, Maxim dan Gery membelikan nya pakaian type anak anak seperti itu. Sangat tidak cocok untuk nya yang sudah sangat dewasa.

__ADS_1


"Sial!" umpat nya lagi lagi, karena kini nomor kedua sahabat nya tidak ada yang aktif. Mereka seolah kompak untuk mematikan ponsel malam ini.


__ADS_2