
“Begini nona Keiko, aku di sini untuk memberi kalian vaksin,” Zacky mencoba menjelaskan untuk apa ia datang.
“Vaksin? Tapi aku tidak sakit,” jawab Keiko.
“Betul, vaksin bukan untuk orang sakit.”
“Oh ya? Vaksin apa?"
“Biasanya orang sebelum menikah kedua mempelai di suntik vaksin dulu agar keturunan mereka sehat.”
“Benarkah? Tapi Crystal baik baik saja,” gumannya, “bagaimana jika aku bertanya pada kakakku dulu? Mereka juga dokter.” Keiko tak ingin membiarkan orang memberikan suntikan padanya begitu saja, kakak pertamanya adalah seorang dokter sekaligus direktur utama sebuah rumah sakit ternama di Tokyo, bahkan kakak iparnya juga seorang dokter.
“Oh tentu, silakan saja,” kata dokter Zacky.
Wajah Anthonino seketika menegang.
Keiko hendak mengambil ponselnya namun ia ragu ragu.
‘apa kata Olivia jika ia bertanya vaksin untuk calon pengantin baru?’ batinnya.
Ia urung mengambil ponselnya dan berbalik.
“Aku rasa kau lebih mengerti urusan medis, lagi pula kakakku di Asia, mereka mungkin sedang sibuk di jam kerja,” kata Keiko berdalih.
“Baiklah, Nona Keiko bisa kau tengkurap, aku akan menyuntikmu.”
Keiko menurut, ia naik ke atas ranjang dan memosisikan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
“Apa yang akan kau lakukan pada istriku?”protes Anthonino.
“Menyuntiknya, apa lagi?”
“Di bokong?” protes Anthonino lagi.
“Memang harus di situ seharusnya,” jawab Zacky.
“Kau akan menyentuh bokongnya? Kenapa kau tidak membawa perawat atau asisten wanita?” Anthonino tidak terima istrinya di sentuh sahabatnya.
“Biasanya aku juga datang sendiri.”
“Aku saja yang menyuntik Keiko,” Anthonino mengulurkan tsngan meminta suntikan di tangan Zacky.
“Kau bukan dokter,” Zacky tidak mempedulikan protes sahabatnya.
“Aku bisa.” Anthonino bersikeras.
“Kau gila, itu tidak di izinkan.”
“Aku juga tidak mengizinkanmu menyentuh kulit istriku!” Anthonino membesarkan matanya karena kesal.
__ADS_1
“Kau terlalu berlebihan.”
“Sebaiknya kau pulang saja,” usirnya pada Zacky.
Keiko duduk dan menekan pelipisnya mendengarkan kedua pria itu bertengkar memperebutkan suntikan.
“Kalian ini anak kecil atau pria dewasa astaga???” akhirnya Keiko membuka suaranya.
“Suamimu sangat posesive nona, lihat, ia sangat posesive kepadamu aku yakin ia akan menempel padamu seperti gurita,” kekeh dokter Zacky.
“Jangan pedulikan, cepat lakukan,” kata Keiko tanpa peduli pada Anthonino.
“Zacky akan ku potong gajimu,” ancam Anthonino pada sahabatnya.
“Lakukan saja jika kau berani,” kata dokter Zacky sambil mengoles kapas di kulit keiko dan hanya butuh beberapa detik cairan obat itu telah berada di dalam tubuh Keiko.
“Kenapa aku tidak merasakan sakit?” tanya Keiko.
“Benarkah?”
“Ku kira jarum itu belum menusukku,” kata Keiko.
“Ha ha...” Zacky hanya tertawa ringan, “Sekarang giliranmu,” seringai Zacky pada sahabatnya.
“Aku makan obat saja, kau tidak perlu menyuntikku,” Anthonino melotot tajam pada sahabatnya.
“Keiko saja berani kau jangan bertingkah seperti anak kecil!” ejek Zacky.
Akhirnya ia membiarkan Zacky menyuntikkan obat di pantatnya.
‘Sialan Zacky akan ku balas kau!!’ ancamnya melalui tatapan matanya pada Zacky, bukankah itu hanya suntikan kontrasepsi?
Zacky terkikik sambil melangkah pergi meninggalkan sahabatnya yang memang sejak kecil takut dengan jarum suntik bersama pengantinnya.
“Nikmati hasil buruanmu, kali ini aku akui seleramu tidak buruk, barusan yang kusutikkan di pantatmu adalah vitamin agar kau tidak lekas lelah,” itu kalimat yang Zacky ucapkan dengan sangat pelan dan dalam bahasa Rusia dan hanya mampu di dengar oleh mereka berdua ketika Anthonino mengantarnya atau lebih tepatnya membukakan pintu untuk mengusir dokter itu dari kamar.
Sementara Keiko tentu saja ia menjadi sangat gugup, ini malam pengantin mereka dan ia telah berjanji memberikan kesuciannya pada pria bermata biru yang sekarang berdiri tepat di depannya.
“Kau sepertinya ketakutan,” kata Anthonino dengan nada lembut sambil menyingkirkan rambut yang tergerai menutupi sebagian wajah Keiko.
“Aku... aku hanya gugup,” elak Keiko, ia memang ketakutan, bahkan tangannya sedikit bergetar.
“Kita bisa menundanya sampai kau siap,” Anthonino berkata seoalah olah ia adalah seorang pria yang penyabar.
“Ini seperti aku akan menghadapi kompetisi, semakin menundanya semakin pula aku bertambah gugup,” kata Keiko lirih sambil telapak tangannya mere**s gaun tidur yang ia kenakan. Kepalanya bahkan terus menunduk sejak Zacky meninggalkan kamar itu.
“Jadi bagaimana agar kau tidak gugup?” tanya Anthonino di sertai dengan seringai di sudut bibirnya.
“Ayo kita lakukan, agar kegugupanku berakhir,” guman Keiko dengan wajah merah merona.
__ADS_1
Lampu hijau telah menyala tentu saja pria bermata biru yang telah menjadi suaminya segera menerkam tubuh Keiko, pria itu bersenang senang dengan bibirnya, dadanya, kulit lehernya dan juga bagian sensitif tubuhnya yang terus saja di permainkan dengan lidahnya.
Perlahan Anthonino menyatukan tubuh mereka, sempit rapat menggigit, penuh perjuangan untuk membobol penghalang itu.
“Nino... hentikan...!” erang Keiko, kuku kuku tajam milik Keiko menancap di lengan Anthonino, bahkan ia menggigit bibir Anthonino yang menciumi bibirnya hingga bibir pria itu berdarah.
Anthonino tidak peduli, yang ia pedulikan hanya bagaimana membuat Keiko menjadi miliknya seutuhnya, kemudian gadis itu menjadi miliknya selamanya.
Di masa lalu sebanyak apa pun ia meniduri wanita di masa lalu. Anthonino selalu menggunakan pengaman setiap meniduri wanita, dan ini adalah pertama kali. Ralat! Kemarin malam juga tidak karena sangat mendadak dan ia tidak memiliki persiapan apa pun.
Rasanya lebih nikmat, begitu intim, begitu akrab ketika kulit bagian kecil dari dirinya berinteraksi langsung dengan kulit lembut milik Keiko.
“Terima kasih gadis kecilku,” bisik Anthonino sambil mengusap air mata yang mengalir di pelipis wajah Keiko. “Maaf menyakitimu,” katanya lagi.
Anthonino tersenyum puas setelah melepasakan gairahnya, apa lagi ia melihat bercak merah di atas kain. Gadis kecil yang pernah menabraknya di terminal kedatangan di London tujuh tahun yang lalu kini menjadi istrinya dengan tempo kurang dari dua puluh empet jam pertemuan mereka, dan juga belum pernah terjamah oleh siapa pun. Betapa beruntungnya.
Betapa beruntungnya Anthonino, ia akan menjaga gadis kecil itu untuk selamanya. Begitu tekadnya dalam hati. Inikah untaian takdir benang merah? Meskipun gadis ini sama sekali tidak mengingat dirinya. Namun yang pasti Keiko kini seutuhnya menjadi miliknya, setelah mengikat Keiko dengan sertifikat pernikahan, selanjutnya adalah mengikat gadis itu dengan cinta.
Sudut bibir Anthonino menyeringai penuh kemenangan.
“Sayang, jangan tidur dulu,” kata Anthonino sambil membelai rambut yang tergerai di bahu telanjang Keiko.
“Aku mengantuk,” Kata Keiko seraya membenamkan wajahnya di bantal, sebenarnya ia sedang merasa malu, ia sama sekali belum mengantuk.
“Bersihkan dulu cintaku.”
“Kau saja aku mengantuk,” rencanya Keiko akan pergi ke kamar mandi setelah Anthonino tertidur agar ia tidak merasa gugup dan malu.
Terlambat, tubuhnya telah di angkat dan mereka berada di bawah guyuran air shower.
Dan lagi, mereka melakukannya lagi di kamar mandi, meskipun sakit namun gelombang gelombang kenikmatan yang ditawarkan suaminya membuat Keiko melupakan sakit yang berganti dengan kenikmatan memabukkan, ia bahkan menginginkan lagi, menginginkan lebih dan lebih seolah mereka berdua tak pernah cukup.
Paginya meskipun matanya terasa sangat berat Keiko harus bangkit dari tempat tidurnya, perutnya memberontak menginginkan makanan.
“Kau sudah bangun cintaku?” tanya Anthonino ketika merasakan pergerakan kecil dari tubuh wanita yang ia peluk sepanjang malam.
“Bisakah kau jangan memanggilku dengan kata itu.”
“Kenapa kau keberatan?”
Keiko tidak menjawab, ia hanya menatap wajah suami barunya kemudian ia menguman, “aku lapar.”
“Aku akan perintahkan pelayan untuk menyiapkan sarapan di sini, ayo kita bersihkan tubuh kita terlebih dulu.”
Setelah membersihkan tubuh mereka tanpa olah raga pagi, mereka menyantap sarapan dengan suasana canggung, Keiko sama sekali tidak berusaha membuka suaranya.
Anthonino terus memandangi wajah Keiko yang dengan anggun memakan sarapannya, tampak sekali wajahnya menyiratkan bahwa ia kelelahan dan yang pasti ia tampak malu malu hingga tidak berani mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Anthonino.
‘Menarik,' batin Anthonino, ia sama sekali tidak menyangka jika di dunia hiburan masih ada gadis sepolos Keiko, bahkan mungkin hanya ada satu dan Keiko lah orangnya.
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN PLISH 😙😙😙😙