
“Kulihat latar pendidikanmu sangat baik, kau lulus dari UCL sebagai sarajana Ekonomi,” kata Anthonino sambil jemarinya menarindinatas keyboard Macbooknya.
“Ya kau tidak salah,” jawab Keiko.
“Seharusnya kau tidak masalah dengan pekerjaan seperti ini bukan?” tanya Anthonino.
Keiko hanya tertawa kecil menampakkan deretan giginya yang rapi.
“Sebenarnya aku tidak mengerti apa-apa di dunia ini selain musik, tapi kalau hanya meneliti dokumen, membuat neraca dan jurnal, aku bisa melakukan dengan baik, seperti mommyku dia akuntan yang handal dan ia sendiri yang merancang ekonomi perusahaan keluarga kami,” jawab Keiko sambil membolak-balik dokumen yang berada di tangannya, Anthonino tersenyum simpul mendengarkan Keiko yang mulai sedikit demi sedikit menceritakan tentang dirinya dan keluarganya.
Mereka berdua bekerja dengan serius hingga melewatkan beberapa jam, bahkan tanpa terasa waktu makan siang telah tiba. Keiko menutup berkas terakhir di tangannya.
“Ku rasa aku sedikit berbakat menjadi sekretaris,” gurau Keiko sambil menyodorkan map pada Anthonino.
“Tapi jika kau sekretarisnya aku yakin aku tidak akan bisa berkonsentrasi bekerja,” jawab Anthonino dengan seringai menggoda.
“Aku akan menjaga jarak darimu,” kekeh Keiko.
“Baiklah, ku rasa aku harus mentraktir sekretarisku makan enak karena telah bekerja dengan baik,” kata Anthonino sambil menutup map di tangannya.
“Ayo pergi makan!” Keiko tampak sangat bersemangat.
“Kemarilah,” Anthonino memberi kode agar Keiko mendekat padanya.
__ADS_1
Dengan patuh Keiko bangkit dari duduknya lalu mendekati suaminya, Anthonino meraih pinggang ramping Keiko.
“Kau ingin makan apa sayang?” tanya Anthonino.
“Apa saja,” jawab Keiko. “Tapi bolehkah aku makan junk food?”
“Lelya akan memarahimu,” kata Anthonino, namun dalam hatinya menyeringai karena ia sedang memasang perangkap.
“Aku ingin makan apa saja seperti gadis lain, hanya hari ini oke?”
“Bertanyalah dulu pada Lelya,” kata Anthonino.
“Bisakah kau bekerja sama denganku? Hubby?” tanya Keiko dengan tatapan mata memelas.
“Bagaimana caranya?” Anthonino bersikap seolah ia pria lugu.
“Sebagai imbalan kau telah menjadi sekretaris yang baik, ku rasa itu ide yang bagus,” Anthonino menarik tubuh keiko dan mendudukkan bokong Keiko dengan lembut di pangkuannya, merapikan anak rambut di dekat telinga Keiko sambil menatap lekat-lekat manik mata berwarna coklat itu, nafas mereka begitu dekat, tatapan mata mereka juga semakin dalam dan bibir mereka perlahan bertemu, ciuman lembut dan mesra terjalin dengan sangat sempurna lalu perlahan lahan berubah menjadi ciuman yang dalam dan menuntut.
Terengah-engah mengatur nafasnya setelah ciuman panas itu terlepas, Keiko menyandarkan kepalanya di dada Anthonino, mendengarkan detak jantung pria itu yang terdengar kencang, tak kalah dengan detak jantung miliknya sendiri yang berpacu begitu cepat.
Keiko menatap burger di depannya dengan tatapan mata yang berkilau seperti ia tak pernah memakan burger dari restoran cepat saji yang tersebar di berbagai kota di seluruh dunia.
Anthonino tersenyum melihat tingkah Keiko yang menurutnya unik, hanya dengan melihat makanan matanya bisa tampak berbinar, ia tampaknya menyukai apa saja meskipun itu hanya hal hal sederhana.
__ADS_1
Keiko melahap dengan penuh semangat burger ditangannya, tingkahnya seperti bukan seorang pianis hebat, ia seperti gadis biasa pada umumnya.
“Setelah ini kita mencari kado untuk teman barumu,” kata Anthonino.
Keiko mengangguk, ia masih tak mempedulikan suaminya yang mengajak bicara ia tampak berkonsentrasi pada burger yang masih ada di tangannya.
“Athiya sangat beruntung, ia menjadi guru di taman kanak-kanak” kata Keiko tiba-tiba.
“Kau juga beruntung, kau memiliki bakat yang tidak semua orang miliki,” ucap Anthonino sambil memandang wajah istrinya yang menggemaskan.
“Kau tahu? Semenjak aku tahu master Edward Pollini adalah kakek kandung kami, aku merasa takut karena nama besar granddadku membebaniku, aku takut tidak bisa menjaga nama besar beliau, aku takut tidak bisa sehebat grandadku,” ini adalah pertama kali dalam hidup Keiko ia bisa menumpahkan kekhawatirannya pada orang lain selain kepada ayahnya.
“Percayalah pada kemampuanmu, aku yakin kau bisa, tidak harus sama persis seperti granddad, tapi jadilah dirimu sendiri,” ucap Anthonino bijak.
“Apa menurutmu aku bisa menjadi pianis yang handal?” tanya Keiko seolah meragukan kemampuannya sendiri.
“Di dunia ini tidak ada keajaiban, yang ada hanya kepiawaian dan kecakapan, kau berbakat, kau berusaha dengan keras, aku yakin semua usahamu tidak akan percuma,” jawab Anthonino dengan nada tegas.
“Benarkah? Ku rasa teorimu tentang keajaiban itu salah,” bantah Keiko.
“Aku tidak mungkin salah.”
“Baiklah, kau mr. Right!” Keiko seolah sedang mengolok suaminya dan mereka berdua tertawa renyah.
__ADS_1
SELAMAT SORE 😚😚😚
TAP JEMPOL KALIAN DAN BESOK ADA YANG MAU KETEMUAN KATANYA 😅😅😅😅