
Philip tampak berpikir sejenak. “Ayo ambil paspormu,” katanya sambil bangkit dari posisi duduknya.
Samantha tidak menyangka ia akan mendapatkan persetujuan begitu cepat. Matanya tampak berbinar karena kegirangan. “Ayo,” katanya sambil mengikuti Philip yang telah berdiri.
Mereka menuju ke unit yang di sewa oleh Samantha. Di dalam kamar Samantha mengambil paspornya yang ia simpan di dalam laci lemari kamarnya lalu menyerahkan kepada Philip tetapi Philip meminta dompetnya juga. Akhirnya Samantha tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan semua yang di minta Philip.
Dompet dan paspor. Tanpa dua benda itu ia adalah kaum duafa. Terkurung terpenjara, selain patuh kepada Philip, ia tidak memiliki pilihan lain karena sekarang ia adalah seorang tawanan.
“Kau sangat kejam,” gerutu Samantha. Mereka telah berada di tempat tinggal Philip kembali.
Philip menyeringai. “Sekarang kau terima saja hukumanmu, jangan terlalu banyak bicara,” ucapnya sambil memasukkan benda hasil sitaannya ke dalam laci lemari. Menguncinya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Samantha terpaksa mengikuti Philip karena kondisi tangan mereka yang masih terikat borgol. Samantha hampir tak dapat bernapas menyaksikan apa yang Philip lakukan, pria itu seolah tanpa berpikir terlebih dulu memasukkan kunci ke dalam closed lalu menyiramnya dengan sekali tekan tombol penyiram.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Samantha tak berdaya.
“Mengamankan barangmu,” jawab Philip tanpa rasa berdosa.
Philip kehilangan kewarasannya.
“Aku akan aku akan menyuruh orang untuk memindahkan semua barangmu ke sini,” kata Philip dengan tatapan penuh kemenangan mengarah kepada Samantha.
Kau tidak akan bisa berkutik lagi, Sam.
__ADS_1
“Kita tidak kembali ke London?” tanya Samantha sedikit bingung.
“Aku meminta cuti dari pekerjaan bulan ini, anggap saja kita berlibur di sini,” jawab Philip.
Samantha mendengus, semua yang di lakukan Philip benar-benar menguji kesabarannya. “Terserah kau saja,” katanya dengan ketus sambil mengangkat pergelangan tangannya yang menyatu. “Kapan kau melepaskan ini?”
Philip tersenyum puas. Ia meraih pinggang Samantha menggunakan sebelah tangannya yang bebas kemudian ia menghadiahi kening Samantha dengan sebuah kecupan lembut laou bibirny berpindah mendarat di bibir Samantha memerangkap bibir Samantha dengan penuh kerinduan, menggodanya dengan lembut agar Samantha membalas cumbuannya. Perlahan-lahan keduanya saling mencumbu, terlarut dalam gairah yang mulai menguasai akal pikiran mereka.
“Aku memang harus melepaskanmu, sepertinya sulit bercinta dengan posisi tangan seperti ini, atau kau ingin mencobanya?” Philip bertanya dengan nada menggoda membuat wajah Samantha merah merona.
“Siapa juga yang mau bercinta denganmu,” ucap Samantha menyembunyikan rasa malu dan juga gugupnya.
“Benarkah?” Philip menaikkan sebelah alisnya.
“Kalau begitu tidak usah di lepas,” goda Philip.
"Aku juga ingin mencoba sensasi baru bercinta dengan tangan di borgol seperti ini."
Samantha menatap Philip dengan tatapan kesal. “Kau mengingkari janjimu,” sungutnya.
“Kalau begitu izinkan aku... maksudku... bercintalah denganku,” kata Philip. Tatapan matanya lapar menatap bibir Samantha.
“Cabul,” gumam Samantha.
__ADS_1
“Aku ingin mencabuli calon istriku, apa salahnya?”
Samanta membesarkan bola matanya, ia tidak tahu jika Philip bisa berkata-kata sangat vulgar seperti itu. Tetapi, Philip lebih cepat daripada perkiraan Samantha, pria itu dengan rakus telah mencumbui bibirnya. Menghisapnya seperti ia sedang kehausan.
Philip bahkan membuka borgol dengan terburu-buru, melucuti seluruh pakaian yang di kenakannya kemudian dengan tak sabar memboyong Samantha ke atas tempat tidur. Memesrai tubuh Samantha, membenamkan dirinya di dalam tubuh Samantha, menggoyangkan pinggulnya. Memuaskan Samantha kemudian memuaskan dirinya sendiri hingga keduanya terkulai lemas.
Setelah permainan usai, dengan mata terpejam Samantha meringkuk di dalam pelukan Philip.
“Siapa yang memberitahumu bahwa aku di sini?” tanya Samantha.
“Ayah Keiko memberitahuku,” jawab Philip.
“Apa Keiko bercerita kepadamu?”
“Dia... tidak mengatakan apa pun kepadaku,” jawab Philip apa adanya. Keiko memang tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Athonino yang berbicara kepadanya, memberitahu di mana Samantha berada kemudian ia meminta kepastian kepada Naoki.
“Tidak mengatakan apa pun?” Samantha memastikan.
“Ya.”
Berarti ia belum tahu kehamilanku, bagaimana caranya memberitahunya?
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤
__ADS_1