
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
Philip menunggu Samantha di depan pintu unit apartemennya gadis itu tidak mengizinkan mengizinkannya masuk dalam tempat tinggalnya. Samantha rupanya tidak bermain-main, ia bahkan mengganti kode akses pintu unit apartemen yang di tinggalinya. Dengan langkah gontai Philip kembali ke tempat tinggalnya, ia tidak mengerti mengapa Samantha bersikap demikian.
Philip merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada di depan televisi.
Seharusnya aku tidak merusak persahabatan ini.
Flash back on.
Satu Minggu yang lalu Samanta menceritakan kepada Philip rahasia terbesarnya. Yaitu hal yang membuat dirinya selalu ditinggalkan oleh kekasihnya, setiap memilik kekasih Samantha selalu menolak jika kekasihnya mengajaknya melakukan hubungan badan. Ia tidak ingin siapa pun mengetahui bahwa ia masih memiliki segel keperawanan ia takut dicemooh ia selalu beralibi tidak ingin melakukan hubungan badan atau sedang dalam keadaan masa periode. Tidak jarang akhirnya ia bertengkar dengan pasangannya karena masalah yang tidak sepatutnya menjadi perdebatan hingga memicu kandasnya hubungan cintanya.
Di negara-negara barat kehidupan yang bebas adalah hal lumrah, bergonta-ganti pasangan adalah hal yang wajar. Dan jika ada gadis berusia dua puluh empat tahun masih memiliki segel keperawanan otomatis hal itu di anggap aneh bahkan bisa jadi ia akan di cemooh karena di anggap sebagai gadis yang kurang pergaulan.
Tiba-tiba tercetus ide dari Samantha untuk mencobanya bersama Philip, menurut Samantha itu adalah hal yang tepat. Asalnya Philip menolak tetapi Samantha terus mendesak.
“It’s just having s*x, Philip,” ucap Samantha.
“Bagaimana jika aku tidak ingin berhenti?” Philip menaikkan sebelah alisnya. Ia pria normal, ia juga bukan pria lugu. Di masa lalu saat remaja ia pernah melakukannya bersama beberapa mantan kekasihnya saat duduk di bangku kuliah.
“Aku hanya ingin mencobanya, maksudku untuk membuka segelku. A-aku perlu.... Ya, perlu pria yang bisa menjaga rahasiaku,” ujar Samantha dengan tatapan memohon kepada Philip.
__ADS_1
“Sam. Apa kau tahu apa konsekuensinya?”
“Maksudmu?”
Philip menatap Samantha. Ia mengamati wajah Samantha yang begitu lugu, ia tidak menyangka jika Samantha dan Keiko adalah dua gadis lugu di dalam hidupnya. Sayangnya ia tidak menyadari keluguan yang ada pada diri Samantha yang begitu dekat dengannya. “Persahabatan kita,” ucapnya.
“Kita hanya mencoba, maksudku kau hanya mengajariku. Kita bisa berhenti kapan saja, persahabatan kita akan baik-baik saja.” Samantha berucap begitu yakin.
“Baiklah, katakan jika kau ingin aku berhenti atau kau merasa tidak nyaman.” Entah dorongan dari mana, yang jelas Philip juga ingin mencobanya. Bercinta dengan seorang perawan yang menawarkan dirinya sendiri, di sini mungkin hanya Philip yang mengira dirinya adalah pria yang paling beruntung. Tetapi, sesungguhnya Anthonino juga mengalami hal yang sama. Kedua pria itu sungguh beruntung.
“B-baiklah. Ayo, a-ayo kita mulai,” ucap Samantha tergagap. Ia tidak menyadari wajahnya bersemu merah.
“Pergi bersihkan wajahmu, aku akan mengajarimu,” ucap Philip.
“D-dari mana kita menilainya?” Samantha benar-benar merasa dirinya menjadi bodoh.
Tidak ada jalan untuk kembali.
Philip tersenyum, ia memberikan kode kepada sahabatnya untuk menanggalkan pakaian yang melekat ditubuhnya. Kini kedua insan itu telah polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka.
“Tidak perlu menutupinya,” ujar Philip. “Kita telah sering melakukan pemotretan tanpa busana, apa yang membuatmu malu?”
__ADS_1
“Omong kosong. Aku masih mengenakan bikiniku, tidak sampai polos seperti ini,” protes Samantha.
“Hampir, sama saja, aku telah hafal lekuk tubuhmu sejak lama,” goda Philip.
“Jangan katakan kau pernah menggunakan aku sebagai obyek.” Samantha membesarkan matanya.
Philip terkekeh mendengar tuduhan Samantha yang diam-diam benar, dulu ia sering mengkhayalkan Keiko di bawah shower tetapi setelah Keiko menikah ia tidak mungkin mengkhayalkan wanita yang memiliki suami. Jadi, satu-satunya pilihan adalah mengkhayalkan sahabatnya yang selalu ada di dekatnya.
“Apa kau yakin?” Di titik ini ia merasa bersalah kepada Samantha, ia ingin mundur.
“Aku yakin,” ucap Samantha dengan nada tegas. “A-apa kau juga mengajari Keiko?”
Philip tertawa. “Kau pikir aku guru?”
“B-bisa saja, kan? Kalian cukup lama berhubungan."
“Kami tidak pernah melakukannya,” jawab Philip dengan nada datar.
“Aku... Aku merasa sangat gugup. Kau tahu? Astaga... Bagaimana jika... Maksudku bagaimana jika kita meminum beberapa teguk alkohol agar aku tidak gugup?” Samantha mengucapkan kalimatnya lambat-lambat.
Philip yang duduk di tepi ranjang bangkit dan mengulurkan sebelah tangannya. “Baiklah ayo ke dapur,” katanya.
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
🍒🍒🍒🍒