
Mendengar apa yang di ucapkan istrinya membuat Anthonino menghela napasnya kemudian mengembuskannya perlahan. “Cintaku, sebenarnya aku sedang mencari dokter dan aku telah menceritakan seluruh masalahku kepada kakakmu Derren. Derren merekomendasikan seorang dokter jantung terbaik kota ini untuk menangani Papa tetapi aku belum beruntung karena dokter itu bulan ini sedang menjadi juru bicara sebuah seminar di Pakistan, aku harus bersabar menunggu bulan depan agar dia bisa bertemu dengannya. Tetapi, aku sungguh tidak menyangka jika dokter Edmon bukan ahli jantung.”
“Aku mencurigai sesuatu,” gumam Keiko.
“Karena keadaannya telah seperti ini bagaimana jika kita mengundang Derren untuk datang memeriksa Papa terlebih dahulu baru kemudian kita ambil langkah selanjutnya?” Anthonino tampak meminta persetujuan Keiko.
“Tidak masalah jika kakakku bersedia,” jawab Keiko. Ia tidak lagi ingin memikirkan bagaimana pandangan Innesa terhadapnya kelak. “Apa kau tidak mencurigai Innesa, maksudku Mama?”
Mendengar apa yang di ucapkan istrinya Anthonino tampak goyah, ia terlihat bimbang untuk beberapa saat.
“Maksudmu?”
Keiko meraih telapak tangan suaminya. “Aku menginginkan kepercayaanmu bukan untuk orang lain tetapi untuk dirimu sendiri.” Keiko bangkit dari posisi duduk dan melangkah mengambi ponselnya di atas meja rias. Di dalam memori penyimpanan ponselnya ia menyimpan video kamera pengawas yang diretas oleh Kenzo di lorong hotel dan menunjukkan rekaman itu kepada Anthonino.
“Jika kau melihat rekaman ini mungkin kau bisa menilainya sendiri, karena aku tidak pandai mengenali seseorang mungkin penglihatanku bisa salah tetapi jika kau melihat rekaman ini kau mungkin bisa lebih waspada,” ucap Keiko lagi.
Anthonino masih tampak kebingungan menyaksikan rekaman yang terpampang di layar ponsel istrinya. Ia mengamati tanggal di mana rekaman itu berlangsung dan rahangnya sontak mengeras.
“Aku tidak perlu menjelaskan kapan kejadian ini terjadi karena kau pasti bis menyimpulkan sendiri dari tanggal yang terlihat.”
Innesa saat itu mengatakan sedang tidak berada di Moscow dan di lihat dari gestur tubuh keduanya yang jelas terlihat sangat intim dan dekat, hubungan Innesa dan dokter Edmon tidak biasa. Memikirkan hal itu membuat Anthonino semakin mengeraskan rahangnya.
“Aku tidak ingin mengadu domba antara kau dan Mama tetapi musuh yang tak terlihat lebih berbahaya dari pada musuh yang jelas terlihat. Aku tidak ingin kau hancur karena kau suamiku kau keluargaku.” Keiko berkata dengan nada sangat dewasa, tidak seperti ia yang selalu terlihat polos, lemah dan rapuh.
__ADS_1
Anthonino menggigit giginya sendiri, ia semakin mengeraskan rahangnya. Selama ini Innesa memang sering mengatakan pergi untuk mengunjungi keluarganya di luar kota meski Anthonino tidak pernah diajak dan tidak pernah bertanya keluarga yang mana yang Innesa kunjungi itu. Ternyata keluarga yang dimaksud adalah dokter Edmon. Tiba-tiba Anthonino mengorek-ngorek ingatannya, Zacky dan Justin wajah mereka tampak mirip. Selama ini ia tidak pernah memikirkan sejauh itu.
“Di mana ponselku?” aku tiba-tiba Antonio menanyakan ponselnya karena ia ingin segera memindahkan Feliks dari mansion yang di tempati Innesa.
Keiko justru melotot galak menatap Anthonino yang melupakan mereka sedang bernegosiasi untuk benar-benar berbaikan. “Aku belum selesai berbicara,” ucap keiko. “Aku masih memiliki satu syarat lagi.”
“Oh maaf,” kata Anthonino, ia terbawa suasana dan merasa khawatir kepada Feliks. Satu-satunya orang tuanya yang masih ada. “Katakan apa lagi syarat yang ingin kau ajukan agar kita benar-benar berbaikan.”
“Syarat yang ketiga adalah siapa Isabel dan siapa Lidya?” kata Keiko sambil sedikit menyipitkan matanya.
Anthonino mengamati wajah Keiko dan menjawab pertanyaan istrinya, “Lidya adalah Putri Isabel. Sedangkan Isabel adalah..., itu bisa dikatakan ia adalah kekasih pertamaku.”
“Cinta pertamamu?”
Keiko mendengus. “Astaga ada berapa mantan kekasihmu? Dan siapa cinta pertamamu?”
“Mantan kekasihku hanya Isabel, dan cinta pertamaku sudah jelas,” jawab Anthonino sambil tatapan mata birunya mengarah ke pada wajah Keiko dengan tatapan lembut.
“Siapa?” Keiko tampak tidak sabar mendapatkan jawaban Anthonino.
“Seorang gadis bermata cokelat berasal dari Jepang bernama Yamada Keiko,” jawab Anthonino dengan lambat mengucapkan kalimatnya.
“Kau pikir aku percaya?”
__ADS_1
“Kau harus percaya,” kata Anthonino dengan nada memaksa.
“Jangan menghiburku!”
Anthonino menyeringai. “Untuk apa aku menghiburmu? Aku benar-benar merasakan cinta hanya kepadamu,” katanya.
“Kenapa bukan Isabel?”
Anthonino hampir saja menyemburkan tawanya mendengar pertanyaan istrinya, terdengar seperti cinta bisa di dapatkan kapan saja semuanya saja. “Saat itu usiaku baru delapan belas tahun, aku sedang berguncang karena saat itu Mama memberitahu siapa Ibu kandungku. Beberapa bulan saat aku baru saja menjalani pendidikan di Academi Aviator of America aku bertemu dengan Isabel. Bisa dikatakan ia seorang ibu muda, usia Isabella saat itu tiga puluh tahun usiaku delapan belas tahun mungkin seperti ibu dan anaknya. Dia menyayangiku, hubungan kami bisa dikatakan tidak normal karena Isabel memiliki suami yang tak lain adalah salah satu pengajar di kampusku,” katanya panjang lebar.
“Lalu mengapa Isabel bunuh diri?”
Raut wajah Anthonino gelap seketika, Isabel bunuh diri adalah kesalahannya. Ya, kesalahannya yang tidak mempercayai Isabel. “Dari mana kau tahu?”
“Sepertinya kau harus marah kepada Zacky karena terlalu banyak membuka rahasiamu kepadaku tetapi kau harus menahan itu karena Zacky yang membujukku agar aku bersedia berbicara denganmu,” ucap Keiko dengan nada mengejek.
“Suami Isabel dibunuh oleh anak kandungnya dari mantan istri pertamanya. Polisi mencurigai Isabel yang membunuhnya karena pisau itu berasal dari dapurnya dan terdapat pula sidik jari Isabel di sana. Tetapi, karena tidak ingin menjadi tersangka Isabel mengakhiri hidupnya. Beberapa hari kemudian polisi menyatakan pembunuh asli suami Isabel bukankah dia melainkan anak kandung suaminya. Sudah terlambat karena Isabel telah tiada.” Anthonino berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi ceritanya, “sebelum Isabel pergi ia membuat wasiat, ia menitipkan anaknya kepadaku.”
“Dan kau bersedia?” Keiko mengira suaminya pasti sangat menyayangi Isabel dan putrinya.
“Aku bersedia atas dasar kemanusiaan, saat itu usia Lidya baru lima belas tahun ia harus hidup sebatang kara. Memang Lidya memiliki Gisella tantenya tetapi dia tidak mungkin bergantung kepada Gisella tantenya itu juga memiliki empat orang anak. Jadi setelah ia lulus dari pendidikannya aku berinisiatif memberinya pekerjaan di di cabang perusahaan yang ada di New York. Aku tahu ia memiliki perasaan khusus kepadaku tetapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya. Puncaknya adalah dengan alasan mengajakku makan malam untuk memberikan selamat atas pernikahan kita dan dengan bodohnya aku terjebak. Aku sama sekali tidak berprasangka buruk kepadanya karena sejauh ini iya tidak pernah berlaku buruk kepadaku. Kami juga jarang bertemu mungkin dalam waktu setahun kami hanya bertemu satu atau dua kali secara tidak sengaja di perusahaan.” Anthonino menjelaskan seluruhnya istrinya secara garis besar.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
__ADS_1
JANGAN LUPA BACA YOUR GRACE 😙😙😙😙