
TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLIS!
“Jadi akan kembali ke Tokyo besok?” tanya Keiko dengan nada panik. Pagi itu setelah sarapan dan melepaskan suaminya pergi bekerja Keiko dan Livia berada di taman bersama Stefano untuk mendapatkan sinar matahari pagi.
Sebagai ibu muda tentu saja Keiko merasa panik karena Livia, ibunya akan kembali ke Tokyo. Selama ini sejak Stefano lahir Livia tinggal di Moscow karena ia tidak tega membiarkan Keiko mengurus bayinya meski ada Anthonino. Livia ingat bagaimana paniknya ia dulu mengurus Derren, anak pertamanya. Beruntung bunda Yunita selalu ada untuknya.
“Iya, Mommy harus kembali. Daddymu, dia jadi sendirian di rumah terlalu lama. Mommy dan Daddy akan mengunjungi kalian lagi secepatnya.” Tampak Livia berusaha menahan rasa harunya. “Rasanya baru kemarin kau, Kenzo dan kakak-kakakmu masih sangat kecil, masih berlarian di rumah tapi sekarang kalian memiliki rumah tangga masing-masing.”
Dulu saat Keiko memutuskan untuk tinggal di London meniti karier dan juga menimba ilmu di sana. Perasaan Livia biasa saja, mungkin karena di London ada orang tua kandung Livia juga ada Jonathan. Apa lagi setelah ada kejadian yang menimpa Keiko, tentu saja ini mana yang bisa begitu saja menghilangkan kenangan mengerikan itu. Menyaksikan putri satu-satunya tergolek di atas tempat tidur berhari-hari, perasaannya luar biasa terasa hancur. Hingga saat ini Livia tidak bisa memaafkan Nameera, bahkan hubungannya dengan Zakia sedingin balok es.
“Mommy, biarkan kami yang mengunjungi Mommy di Tokyo. Aku juga rindu kakak-kakakku dan keponakanku,” kata Keiko yang nyaris meneteskan air mata. Entah kenapa semenjak menjadi orang tua ia mudah sekali menangis.
“Kei, apa kau yakin tidak mengambil seorang baby sitter?” tanya Livia penuh keraguan.
Keiko putrinya adalah gadis manja, rasanya mustahil putrinya mengurus Stefano sendirian terutama di siang hari saat Anthonino sedang bekerja.
“Aku yakin bisa mengurus Stefano sendiri, lagi pula aku istirahat dari pekerjaanku selama tiga bulan,” jawab Keiko.
Ia menyentuh kulit lembut di wajah Stefano menggunakan ujung jemarinya.
“Jangan memaksakan dirimu,” ucap Livia sambil matanya menatap Stefano yang dengan nyaman tidur di bawah sinar matahari pagi.
“Mommy bisa mengurus kami dulu, aku juga pasti bisa. Apalagi Stefano hanya satu,” kata Keiko dengan nada bersungguh-sungguh.
Lagi pula selama ini setiap malam Anthonino yang berjaga dan menggantikan popok. Tiga Keiko hanya memberikan Asi langsung kepada Stefano jika bayi kecil itu merasa lapar. Kebetulan Stefano mendapatkan ASI eksklusif langsung dari dada ibunya.
Livia terkekeh mendengar Keiko yang mendadak menjadi dewasa. Ia bahkan mulai tertawa meski dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Stefano. “Kau salah Kei, Mommy tidak sekuat yang kau kira. Ada nenek Yunita dan nenek Sofia saat kalian masih kecil. Mereka membantu mengurus kalian,” katanya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Daddy?” tanya Keiko tiba-tiba.
Matanya menatap ibunya.
Livia tersenyum, kilatan matanya penuh kebahagiaan. “Daddymu yang terbaik, Kei. Dia yang mengurus kau dan Kenzo, kalian tidak memiliki nanny karena saat itu Derren dan Joe, mereka kadang bisa di andalkan,” ujar Livia.
Memori ingatannya kembali ke masa kecil Kenzo, kala itu ia akan diam di samping Derren hanya dengan di berikan pensil dan kertas meski Derren sama sekali tidak mengajaknya berbicara.
Ia sangat patuh.
“Apa saat aku kecil merepotkan?” tanya Keiko. Terdengar konyol.
Livia tertawa kembali. “Tidak ada anak kecil yang tidak merepotkan,” jawabnya.
“Maafkan aku, Mommy,” ucap Keiko sungguh-sungguh.
“Kenapa minta maaf?”
Livia tersenyum. “Tidak ada orang tua yang tidak direpotkan anaknya tetapi melihat kalian melihat tumbuh kembang kalian dan sekarang telah dewasa memiliki kehidupan yang bahagia itulah balasan yang sesungguhnya,” katanya.
Keiko mengangguk, di dalam hatinya tidak henti-hentinya ia mengucapkan rasa syukur karena lahir di tengah-tengah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Ia bertekad kelak Stefano juga harus merasakan hal serupa seperti apa yang ia rasakan.
“Kau harus patuh pada suamimu karena dia adalah kepala rumah tangga, kau harus mematuhinya, kalian juga harus saling terbuka tidak boleh saling menyimpan apa pun walau itu hanya rahasia kecil. Dan ingat suamimu adalah pria berkedudukan tinggi, kau harus pandai mengambil hatinya,” kata Livia memberikan petuah kepada Keiko.
"Aku akan belajar menjadi istri yang baik," kata Keiko.
"Bukan hanya harus menjadi istri yang baik kau juga harus belajar menjadi ibu yang penyabar."
__ADS_1
***
Vicky keluar melalui pintu belakang restoran miliknya. Ralat, sebenarnya bukan miliknya tetapi restoran adalah milik kakeknya, kemudian ayahnya dan sekarang ia yang mengurus restoran itu, bukan hanya mengurusnya ia bahkan terjun langsung menjadi salah satu chef di sana. Sejak kecil ia memang telah memiliki impian untuk menjadi seorang chef.
“Kau di sini?” tanya Vicky pada Gustavo, pria itu menunggu Vicky tidak jauh dari pintu bagian belakang restoran tempat biasa keluar selepas bekerja.
“Ya, aku menunggu calon istriku,” jawab Gustavo dengan nada santai. Sudah tiga bulan Gustavo gencar mendekati Vicky, selama ia tinggal di Osaka ia selalu menggunakan waktu libur akhir pekan untuk datang ke Tokyo demi bertemu Vicky. Tetapi, sayangnya Vicky masih dengan pendiriannya. Ia mengatakan ingin berteman dengan Gustavo terlebih dahulu membuat hubungan mereka terkesan jalan di tempat
“Kau tidak bosan mengunjungi Tokyo setiap akhir pekan?” tanya sambil melangkahkan kakinya dengan santai di samping Gustavo, mereka berjalan menuju stasiun kereta.
“Tidak, aku tidak bosan aku senang mengunjungi Tokyo,” jawab Gustavo.
Vicky tersenyum lebar. “Terkadang aku pikir kau tidak perlu harus berusaha sekeras ini,” ucap Vicky dengan nada berssalah.
“Ayolah, jangan katakan kau menolakku lagi.”
Vicky menoleh ke arah Gustavo, bibir tipisnya mengulas senyum. “Aku tidak mengatakannya,” ucapnya.
“Jadi kau menerimaku?”
“Aku tidak mengatakannya.”
Gustavo mengangkat kedua bahunya bersamaan.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤
__ADS_1
TERIMA KASIH ❤️
🍒🍒🍒🍒