
Setelah puas menyantap sup wonton mereka beranjak dari stand makanan tersebut setelah berkeliling lumayan jauh, Anthonino membawa Keiko memasuki sebuah stan makanan lain, kali ini Keiko memilih sayur sayuran, sebenarnya di Tokyo maupun London, restoran yang menyajikan hot pot tidak terhitung jumlahnya namun rasanya berbeda saat memakan makanan khas dari suatu daerah atau negara di tempat asalnya.
Keiko memilih begitu banyak sayur, jamur dan daging, ia juga tak lupa memilih bola-bola ikan dan udang.
“Besok akan kuajak kau makan udang, udang di sini sangat tinggi kualitasnya.”
“Kau sangat baik suamiku,” puji Keiko dengan nada mengolok.
“Kau sebakinya memberi hadiah pada suamimu atas kebaikannya,” kata Anthonino dengan nada genit.
Keiko memelototkan matanya pada Anthonino, ia mengerti apa yang di minta Anthonino, mengalihkan kegugupannya kembali ia memilih menyibukkan diri mengaduk panci rebus, memasukkan daging, dan berpura pura tidak peduli dengan ucapan suaminya.
Keiko menaburkan sedikit bubuk cabai pada kuah hot pot di mangkuknya, bibirnya tampak kemerahan dan sedikit bengkak, ia juga sedikit berkeringat di dahinya, Anthonino dengan pelan menyapu keringat di kening Keiko dengan tisu, lalu ia juga mengambil mangkuk hotpot di depan Keiko. Menukar dengan mangkuk miliknya yang tidak di taburi bubuk cabai.
“Jangan menyiksa diri, cabai tidak baik untuk lambungmu,” Anthonino mrmperingatkan istrinya.
“Aku suka pedas, itu tidak masalah,” jawab Keiko dengan nada acuh.
“Tidak cintaku, kau seperti sedang tersiksa memakannya.”
Keiko merengut, ia meraih bubuk cabai di depannya bermaksud untuk menaburkannya kembali ke mangkuk barunya, ralat, itu bukan baru, itu mangkuk milik Anthonino.
“Jangan keras kepala, atau aku tidak mengajakmu lagi makan rahasia seperti ini, Lelya akan mengawasi dyetmu,” Ancam Anthonino dengan nada dingin.
Ketimbang tidak bisa menikmati makanan dengan bebas Keiko memilih menahan hasratnya untuk memakan kuah pedas, ia mengurungkan niatnya dan mengembalikan botol bubuk cabai ke tempat semula.
“Istriku sungguh patuh,” kata Anthonino dengan nada puas.
__ADS_1
Keiko semakin merengut, namun ia tetap kembali menyantap makanan di depannya hingga habis dan ia mengeluh krena merasa kekenyangan. Kemudin mereka melanjutkan berjalan kaki menelusuri streed food hingga melewati beberapa tempat permainan anak anak, Keiko menghentikan langkahnya, ia mendekati tempat permainan anak-anak dan mencoba peruntungan dengan menembak papan permainan untuk mendapatkan boneka kucing, setelah menukarkan uang mereka terlebih dahulu menjadi koin, namun hingga 30 koin di habiskan tak satu pun tembakan mengenai sasaran.
Keiko mulai menggerutu apalagi koinnya telah habis, alisnya tampak berkerut dalam menandakan moodnya memburuk seketika.
“Tunggu di sini, aku akan menukarkan koin,” kata Anthonino.
Kerutan di alisnya mendadak lenyap, dengan penuh semangat ia menganggukan kepalanya.
Sementara Anthonino tidak menyangka antrean berubah sepanjang itu, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mencapai gilirannya, Anthonino sangat kesal, antrean ini membuat ia benar-benar muak karena dua orang gadis di depannya terus berusaha memotret dirinya melalui ponselnya dengan cara berpura pura bercermin.
Ketika Anthonino kembali dari menukarkan koin ia tak mendapati Keiko di tempat semula, mengatur perasaan panik yang menjalari pikirannya, Anthonino mengambil ponsel di sakunya. Ternyata Keiko telah memanggilnya 3 kali dan ia tak mendengarnya.
Anthonino segera memanggil Keiko melalui ponsel pintarnya.
“Hubby, di mana kau?” terdengar suara Keiko bercampur kebisingan.
“Bisakah kau kesini? Aku tersesat,” kata Keiko setengah berteriak.
“Beritahu apa nama toko terdekatmu,” kata Anthonino.
Keiko memberitahu apa nama toko terdekatnya.
“Baik jangan bergerak, tetap di tempatmu, aku akan segera menjemputmu, jangan matikan panggilannya.”
Anthonino berjalan di antara kerumunan orang-orang dan benar saja ia menemukan Keiko berdiri tepat di bawah papan nama sebuah toko, jaraknya bahkan hanya sekitar 30 langkah dan ia mengatakan bahwa dirinya telah tersesat?
Ada rasa geli di benak Anthonino.
__ADS_1
“Kenapa kau meninggalkan tempat itu sayang?” Anthonino bertanya seraya mengalungkan lengannya di pinggang Keiko.
“Kau sangat lama, aku menelefonmu, kau tidak menjawab, jadi aku ingin mencarimu,” Keiko menjawab dengan raut wajah yang tampak kesal.
“Maaf, bising sekali di sini, aku tidak mendengar dering panggilanmu,” jelas sekali Anthonino pergi menukarkan koin yang berada di arah utara namun Keiko justru pergi menuju arah selatan, “kali ini kau pasti mendapatkan semua boneka yang di pajang di toko itu,” kata Anthonino dengan nada pasti, dan mereka melangkah kembali ke arena permainan anak-anak.
Benar saja Anthonino menembak papan permainan dengan tepat, tidak satu pun melenceng hingga boneka hadiah yang berada di tempat permainan itu stu persatu boneka boneka itu berpindah ke tangan Keiko. Beberapa orang mulai berkerumun untuk melihat Anthonino menembak papan permainan.
“Seharusnya kita tidak perlu menghabiskan begitu banyak koin” dengus Keiko “Kenapa tidak dari tadi kau yang menembak?” keluhnya lagi.
Anthonino tertawa ringan, tentu saja ia hanya ingin melihat seberepa gigihnya Keiko menginginkan boneka, benar saja istrinya itu sangat gigih berusaha mendapatkan boneka, Anthonino mulai memamerkan kepiawaiannya menembak dengan memejamkan matanya.
“Hubby, sepertinya kau mengintip,” tuduh Keiko, ia tak percaya dengan kemampuan suaminya.
“Cintaku kau bisa menggunakan tanganmu untuk menutup mataku jika kau meragukan keahlianku menembak,” jawqb Anthonino menantang Keiko.
“Ajari aku menembak,” rengek Keiko.
“Baiklah.” Kata Anthonino, ia mulai mengajari Keiko teknik dasar memegang tembakan mainan itu. Namun berkali kali Keiko masih tidak bisa tepat mengenai sasaran.
“Kau harus mengajari aku cara menembak,” pinta Keiko dengan nada kesal.
“Kita akan belajar nanti saat kita kembali ke Moscow,” jawab Anthonino.
“Benarkah?” tanya Keiko dengan wajah berbinar.
“Iya.” Anthonino memjawab dengan nada sangat lembut.
Keiko mengembalikan tembakan mainan itu pada Anthonino, dan pria itu memulai kembali menembaki papan permainan hingga boneka hadiah di tempat permainan itu benar benar menjadi milik Keiko dan tersisa dua buah.
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤❤