Married With Pilot

Married With Pilot
Cucu yang manis


__ADS_3

Anthonino menarik bangku tepat di sebelah istrinya yang sedang duduk di sebuah restoran cepat saji terdekat dari rumah sakit.


“Cintaku, apa aku terlalu lama?”


“Tidak juga,” jawab Keiko dengan nada acuh. Ia sedang menunggu Arima yang sedang mengantre membeli makanan.


Tidak terlalu lama Arima datang membawakan beberapa potong ayam dan kentang goreng.


“Duduk,” kata Keiko memerintah Arima untuk duduk di depannya.


“Tapi nona.” Arima menatap sekilas kepada Anthonino tentu saja ia segan harus duduk Satu meja bersama mereka meski sebenarnya itu hal biasa dilakukan ketika belum dinikahi Anthonino.


Keiko menatap Arima dengan tatapan kesal. “Duduk di situ kataku.” Ia menunjuk bangku tepat di depannya, perintah Keiko adalah mutlak bagi Arima. Ia adalah seorang Yakuza yang setia dan terlatih.


Setelah Arima duduk sesuai perintahnya, Keiko mulai mencubit ayam goreng dan memakannya.


“Dari mana kau tahu aku di sini apa Arima memberitahumu?”


“Bukan Arima yang memberitahuku. Aku tahu di mana kau berada,” jawab Anthonino.


“Pasti Daddy memberimu aplikasi pelacak di mana aku berada bukan?”


Anthonino tersenyum sambil mengelus rambut di kepala Keiko. sedangkan Keiko, ia tampak mendengus pelan.


Keiko melanjutkan makannya dengan acuh hingga seluruh ayam goreng ayam dan kentang goreng yang ada di depannya habis tak bersisa. Kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan restoran cepat saji tersebut untuk kembali ke tempat tinggal mereka.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan sikap Keiko sangat dingin, ia tidak banyak bicara bahkan ia hanya menjawab pertanyaan Anthonino seperlunya saja.


Sesampainya di dalam tempat tinggal mereka Keiko dan Anthonino melepaskan mantel yang melekat di tubuhnya, memberikan kepada pelayan yang menyambutnya di depan pintu kemudian mereka melepas sepatu menggantinya dengan sandal khusus di dalam rumah kemudian mereka melangkah menuju kamar. Keiko segera memasuki ruang ruangan walk in closet di dalam kamar tersebut bermaksud mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Tiba-tiba Anthonino memeluknya dari belakang.


“Maafkan aku sayang,” ucap Anthonino.


Ia tahu istrinya sedang merasa tidak nyaman, semua itu karena sikap Innesa.


“Kenapa aku harus memaafkanmu?”


“Apa kau marah padaku?”


“Kenapa aku harus marah kepadamu?” Keiko masih saja bersikap acuh.


“Maksudku, apa kau marah kepada Mama....” Anthonino bertanya dengan nada mengambang.


“Kenapa aku harus marah kepada Mama?”


“Sikap Mama keterlaluan kepadamu,” jawab Anthonino.


“Sikap seorang ibu mertua yang seperti itu bagiku bukan hal baru. Aku sejak kecil telah melihat Mommy dan Nenekku, hubungan mereka tidak baik sampai sekarang. Aku tidak peduli bagaimana sikap Mammu. Yang jelas jika Mama mau menerimaku dengan baik itu sebuah berkah. Tetapi, jika ia tidak bisa menerima kehadiranku sebagai menantunya bagiku itu bukan masalah besar.”


“Percayalah, dia sangat baik. Mama mungkin hanya butuh waktu untuk menerima kehadiranmu.”


“Iya,” jawab Keiko singkat.

__ADS_1


“Aku yakin aku pasti akan menerimamu nanti.”


Keiko tersenyum masam. Baginya tidak masalah, benar-benar tidak masalah jika Ibu mertuanya tidak menerimanya. Itu bukan urusan penting asalkan suaminya berada di pihaknya seperti ayahnya yang selalu melindungi ibunya. Tetapi, sepertinya situasinya berbeda karena Anthonino bukankah ayahnya yang selalu memanjakan ibunya.


“Cintaku, kita akan melakukan yang terbaik agar mama menerimamu,” kata Anthonino dengan nada penuh keyakinan.


Aku tidak perlu Mamamu menerimaku.


Akan tetapi sebagai pemanis Keiko mengangguk.


“Kita akan memberikan cucu yang manis, Mama pasti akan sangat bahagia.”


Anthonino mulai menelusuri leher Keiko menggunakan bibirnya, ia meraba bagian kenyal di dada Keiko membuat Keiko menggeliat karena tubuhnya terasa melayang. Jemari tangan Anthonino menurunkan resleting yang berada di bagian belakang pakaian yang Keiko kenakan, Ia menarik bagian lengan pakaian dan pakaian itu meluncur bebas jatuh ke lantai.


Jemari tangannya kembali melepaskan pengait bra di punggung istrinya membebaskan dua gundukan di dada Keiko yang terkekang. Memanjakan kulit tangannya menyentuh benda lembut nan kenyal di dada istrinya. Membuat bibir Keiko melepaskan erangan-erangan kecil yang semakin membakar gairah Anthonino.


“Berikan mulutmu padaku. Cintaku,” geram Anthonino.


Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang memabukkan yang semakin melambungkan gairah. Anthonino menurunkan sebelah tangannya ke bawah penyusup di antara pakaian dalam Keiko yang masih melekat, jemarinya menyusup di antara kehangatan yang ada di antara kedua paha Keiko yang telah lembab.


“Cintaku, kau telah menantiku rupanya,” kata Anthonino di antara ciuman mereka.


Antonio membalik tubuh Keiko, membawanya duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut. Setelah puas bermain-main dengan setiap jengkal lekuk dan kulit tubuh istrinya Anthonino mulai menyatukan tubuh mereka perlahan-lahan. Ini adalah kali kedua mereka melakukan permainan di walk in closet.


“Cintaku, kau membuatku gila.” Anthonino menggerakkan pinggulnya perlahan penuh irama.

__ADS_1


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️


RAMAIKAN JUGA NOVELKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️


__ADS_2