
Nameera memasuki sebuah kamar presiden suite room hotel. Gadis itu di sambut oleh Justin yang langsung memeluknya begitu pintu kamar di tutup.
“Kau lama sekali,” gerutu Justin.
“Kau tidak penyabar.” Suara Nameera sedikit mengerang karena bibir Justin menjelajahi lehernya tanpa permisi.
“Kau telah berjanji anak membayar hutangmu. Tetapi, nomor ponsel yang kau berikan tidak bisa di hubungi,” geram Justin sambil berusaha membuka resleting pakaian yang di kenakan Nameera.
“Jangan tergesa-gesa.” Nameera mengalungkan kedua lengannya di leher Justin dengan gerakan menggoda, ia menempelkan bibirnya di bibir Justin membungkam bibir yang sejak tadi menuntut pembayaran hutang sejak mereka bertemu di pesta pernikahan Keiko dan Anthonino.
Kedua insan itu larut dalam ciuman panas penuh nafsu, liar dan binal. Telapak tangan Justin menyingkap dress yang di kenakan Nameera, dengan gerakan sedikit kasar ia menangkup bokong kenyal milik Nameera sementara tangan yang lain menyusup di antar ke dua paha Nameera bermain main di area kehangatan yang telah basah.
Jemari Nameera dengan gerakan terlatih melepas ikat pinggang yang masih melingkar di pinggang Justin, membuka pengait celana, menurunkan resleting dan ia mengakhiri ciuman liar meteka. Ia sedikit berjongkok kemudian menarik celana yang di kenakan oleh Justin.
membiarkan celana itu teronggok melingkar di lantai begitu saja.
“Nameera. Hentikan...,” geram Justin.
“Aku hanya sedang membayar hutangku,” jawab Nameera dengan mulut yang terisi penuh.
“Nameera, kau.... Argh...!” Justin tampak sangat kesal karena sensasi yang di berikan Nameera tidak biasa, ia hampir meledak dan itu bukan pada tempat yang tepat. Ia ingin meledak di dalam tempat yang benar, bukan di dalam mulut seorang yang baru pertama ia kencani. Hal itu bisa menghancurkan harga dirinya kelak.
Justin menjauhkan dirinya dan dengan gerakan yang tangkas ia mengangkat tubuh Nameera seperti ia sedang mengangkat sebuah benda yang ringan, membawa Nameera ke atas ranjang dan melucuti pakaian yang masih menempel di tubuh gadis itu. Ia mencumbui bibir Nameera dan beralih ke kulit leher lalu beralih ke dadanya.
“Justin hentikan,” pinta Nameera setengah mengerang.
“Kau gadis nakal.” Kali ini mulut Hastin yang terisi penuh dengan ujung benda lembut nan kenyal di dada Nameera, sedangkan jemari tangan Justin berada di bagian sensitif Nameera mempermainkannya tanpa ampun hingga Nameera hampir tak mampu menahan lagi. Ia memerlukan benda lain selain jemari.
“Justin. Sekarang,” erang Nameera.
Justin menatap Nameera dengan tatapan nakal penuh kemenangan, “memohonlah gadis nakal.” Seringai Justin.
“Justin, sekarang. Kumohon, aku ingin dirimu,” rintih Nameera.
Justin menyeringai senang dan tanpa permisi menyatukan tubuh mereka dan mulai mengentalkan pinggulnya berirama, sedikit kasar dan brutal namun Nameera sangat menikmatinya. Justin mampu membuatnya meledak berulang kali dalam satu babak permainan. Justin bahkan di luar perkiraan Nameera karena mampu bertahan sangat lama hingga mereka meledak bersama dan Justin ambruk di dada Nameera.
“Kau tidak mungkin membayar hutangmu jika kita tidak bertemu di sini,” geram Justin.
__ADS_1
Nameera menyingkirkan sejumput rambut yang tergerai di kening Justin. “Aku masih tidak menyangka, kau dan Nino bersaudara,” kata Nameera.
“Kau sepertinya sangat mengenalnya”
“Tentu saja, dia seniorku dulu.”
“Jadi kau juga seorang pilot?” Justin merebahkan tubuhnya di samping Nameera.
“Ya, di Aeroflot.”
“Benarkah?”
“Untuk one night stand, kau menyalahi aturan.” Nameera bangkit dan bermaksud mengumpulkan pakaiannya yang entah tercecer di mana. Dalam peraturan one night stand seorang pria seharusnya pergi meninggalkan kamar begitu permainan usai bukan mengobrol seperti yang sedang mereka lakukan seperti sekarang ini.
“Siapa bilang ini one night stand?” Justin menarik pergelangan tangan Nameera.
“Apa maumu?”
“Aku belum puas denganmu,” geram Justin menarik Nameera ke dalam pelukannya.
“Kau sudah mendapatkan puncakmu, kau bahkan tidak menggunakan pengaman, apa kau tahu konsekuensinya?” Nameera menatap Justin dengan tatapan nakal.
“Justin lepaskan,” kata Nameera sembari meronta, berusaha melepaskan tubuhnya tetapi Justin terus melancarkan cumbuan di tubuh Nameera yang seketika membuat tubuh Nameera meleleh seperti jelly. Ia akhirnya pasrah dan mengerang di bawah Justin, sudut bibir Nameera terangkat dengan senyum licik yang luar biasa.
Jika tidak bisa mendapatkan Anthonino maka ia akan mendapatkan Justin karena Justin ternyata kakak Anthonino. Kedudukannya seharusnya lebih tinggi di keluarganya.
Flash back on.
“Justin apa kau mengingatku?”
Justin yang sedang memfokuskan tatapannya ke arah ponsel di telapak tangan di tangannya mendongakkan wajahnya, ia mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang menyapanya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” mata Justin mengamati wajah Nameera dengan cermat, berusaha meraba-raba ingatannya. Mungkinkah gadis ini juga salah satu mantan teman kencannya?
Nameera balik menatap Justin yang tampak sedang mencoba mencari ingatannya, “Oh astaga. Semudah itu kau melupakanku aku? Aku Nameera,” kata Nameera.
Wajah Justin tampak langsung bersemangat. “Penampilanmu sangat berbeda, aku hampir tak mengenalmu,” ucap Justin jujur. Saat pertama kali mereka bertemu Nameera tampak begitu kacau, berbeda dengan hari ini ia tampak nyaman di pandang dan terlihat anggun.
“Saat itu aku kacau.” Nameera tertawa ringan.
__ADS_1
“Ya, kau ternyata lumayan cantik,” ucap Justin sambil tersenyum menggoda.
“Aku tidak menyangka kita ternyata kita bertemu di sini.”
“Mungkin kita berjodoh.” Justin mengangkat kedua bahunya bersamaan.
“Jadi kau? Siapa... Maksudku...,”
“Aku kakak dari pengantin pria, dan kau?”
“Aku bersaudara dengan pengantin wanita,” jawab Nameera. “Karena aku bersaudara dengan Keiko dan kau bersaudara dengan Anthonino jadi secara garis besar kita bersaudara,” Nameera tersenyum bahagia. Bahagia karena keputusannya untuk datang ke acara pernikahan Anthonino ternyata tidak sia-sia.
“Kau bersaudara dengan Keiko? Setahuku keluarga Yamada hanya memiliki dua cucu perempuan, Keiko dan Naomi.” Informasi seperti itu tentu saja mudah di dapatkan karena semua anggota keluarga Yamada terdaftar di Google.
Nameera tertawa pelan sambil mengibaskan telapak tangannya beberapa kali ia berucap, “ceritanya panjang, kita mungkin bisa duduk sambil meminum kopi sambil bercerita nanti.”
“Seingatku kau memiliki hutang kepadaku,” kata Justin menagih janji Nameera. “Kau memberikanku nomor palsu,” protes Justin.
“Oh, damn! Ponselku rusak,” jawab Nameera berbohong.
Nomor itu tidak palsu tetapi Gustavo menghancurkan ponsel Nameera saat memergoki ia tidur bersama teman sesama pilot.
“Baiklah. Tunggu apalagi aku akan membayar hutangku tapi sepertinya ada yang lebih penting dari itu.” Nameera mengamati Keiko, Anthonino, Philip dan dua orang gadis yang tampak sedang berbincang.
“Aku belum memberi selamat kepada pengantin, tunggu aku. Beri tahu aku nomor kamarmu.” Nameera mengedipkan sebelah matanya.
Setelah Justin memberitahukan nomor kamar tempatnya menginap Nameera melangkah meninggalkan pria itu untuk memberikan selamat kepada Keiko dan Anthonino.
Flash back off.
Nameera... Hatersmu berkumpul di sini hati-hati 😆😆😆
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
RAMAIKAN JUGA NOVELKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️