
TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLIS!
“Apa maksudmu ingin memindahkan suamiku ke rumah sakit?” Innesa tampak marah menatap Zacky.
“Uncle memerlukan perawatan yang benar, ayahku hanya seorang dokter umum tidak seharusnya ayahku menangani suamimu,” jawab Zacky dengan nada yang terdengar dingin.
Mereka bersitegang di depan bangunan mansion sementara perawat dan orang-orang suruhan Zacky sedang menaikkan tandu pasien yang berisi tubuh Feliks masuk ke dalam mobil ambulans yang di persiapkan oleh Zacky.
“Aku tidak mengizinkan kau membawa suamiku!” Innesa menaikkan nada suaranya, wajahnya tampak begitu tegang. “Kau bahkan bukan kerabat kami, kau tidak memiliki hak untuk ikut campur urusan keluarga kami!”
“Memangnya kau siapa? Kau bahkan bukan istri Feliks.” Suara itu berasal dari Jonathan yang telah beberapa menit menyaksikan Zacky dan Innesa berdebat. Setelah menyelesaikan urusan Justin, Jonathan segera meluncur menuju kediaman Feliks.
“Siapa kau? Beraninya kalian! Lihat saja putraku adalah CEO sekaligus pemilik Aeroflot, kalian berani-beraninya menculik ayahnya!” Innesa meluncurkan kalimat dari bibirnya penuh percaya diri.
“Siapa yang kau bicarakan?” tanya Jonathan nada yang terdengar sangat sinis pria itu dengan santai menyandarkan tubuhnya di mobil yang tak jauh dari mereka dari Innesa berdiri.
“Jangan ikut campur dalam urusan keluargaku!” Innesa mengangkat dagunya begitu tinggi di depan Jonathan dan Zacky, tatapan matanya seolah menantang Jonathan.
Sudut bibir Jonathan terangkat. “Pertama-tama aku perkenalkan terlebih dahulu, aku adalah Jonathan Tjiptadjaja. Kakak kedua Yamada Keiko, aku juga kakak dari Nameera Tjiptadjaja gadis bodoh yang kalian manfaatkan untuk kepentingan kalian itu. Sayangnya gadis itu dengan mudahnya membongkar kedok kalian. Mungkin sebentar lagi adikku itu akan dicoret namanya dari keluarga Tjiptadjaja. Entahlah terserah bagaimana nanti ayahku menyikapinya. Sekarang ada hal penting yang harus ku sampaikan kepadamu.” Jonathan menjeda kalimatnya sejenak matanya tajam menyorot wajah Innesa. “Kuberi tahu kau bahwa putra kesayangannya itu sekarang berada di kantor polisi, apa kau juga ingin menjenguknya? Maksudku... Menyusulnya,” kata Jonathan dengan nada mengejek.
“Apa maksudmu?” Innesa bertanya dengan nada galak.
Jonathan menjauhkan tubuhnya dari mobil yang di sandarinya kemudian ia menaikkan sebelah bahunya. “Apa ucapanku tadi kurang jelas? Apa harus kuulangi lagi? Aku mengatakan putra kesayanganmu itu ada di kantor polisi.”
Mendengar ucapan Jonathan, mata Innesa terbelalak. Ia memiliki firasat buruk kali ini tetapi ia masih mencoba menepis ketakutannya. “Apa maksud ucapanmu?”
__ADS_1
“Putramu Justin akan segera membayar seluruh perbuatannya kepada adikku dan adik iparku,” jawab Jonathan dengan nada penuh kemenangan yang nyata.
Mendengar apa yang di ucapkan harapan Innesa hancur berkeping-keping, ia mengira semua kejahatannya rapi tak terendus hingga kini. Dugaannya adalah pihaknya telah menang telak telah mendapatkan seluruh harta kekayaan Feliks Petrav. ”Jangan macam-macam kepada putraku!”
“Putra yang mana yang kau bicarakan? Bukankah putramu telah meninggal?” tanya Jonathan dengan nada sinis.
Mendengar pertanyaan Jonathan tampak Innesa semakin menegang.
“Nyonya, aku beritahu kau satu hal lagi, gara-gara ulahmu seorang anak bahkan rela menjebloskan ayahnya sendiri ke dalam penjara. Kau sangat kejam, aku tidak menyangka jika seharusnya hati wanita itu penuh dengan kelembutan nyatanya kau tidak memiliki sedikit saja belas kasihan di lubuk hatimu sebagai seorang wanita.” Jonathan menggelengkan kepalanya.
“Kau tidak berhak menilai diriku! Kau bahkan sedikit pun tidak pantas menilaiku,” ucap Innesa dengan nada marah.
“Zac, kau bereskan mertua adikku bawa ke rumah sakit. Aku akan mengurus seseorang yang masih bersembunyi di dalam sini,” kata Jonathan menginstruksikan kepada Zacky untuk pergi ke rumah sakit.
Sementara Jonathan ia bermaksud menggertak Lidya, Jonathan tahu wanita itu masih berada di dalam tersebut karena Justin memberitahunya.
“Oh ya, Tante atau mungkin aku lebih pantas memanggilmu Nenek. Karena permainanmu telah berakhir sebentar lagi polisi akan menjemputmu kau sebaiknya bersiap-siap atau kau ingin membawa bekal skin care ke dalam penjara agar wajahmu tidak semakin keriput? Aku bisa mengambilkan di mana benda itu kau taruh?” Jonathan semakin menjadi-jadi mengejek Innesa yang tampak wajahnya telah memerah karena marah.
“Hei kau! Dasar sialan berani-beraninya kau masuk-masuk rumahku!” Innesa berteriak bermaksud hendak mencegah Jonathan, ia mengejar Jonathan hendak menghalangi Jonathan agar tidak memasuki tempat tinggalnya tetapi orang-orang suruhan Jonathan langsung menghalanginya dan detik selanjutnya yang terjadi adalah Innesa diringkus oleh polisi yang datang membawa surat penangkapan innesa dengan tuduhan pembunuhan berencana.
“Sampai bertemu di pengadilan, Nenek,” ucap Jonathan sambil melambaikan tangannya.
Jonathan berjalan dengan langkah santai tanpa mengurangi wibawanya. Ia memasuki bangunan besar tersebut dan segera menuju tempat di mana Lidya sedang mengendap-endap di menuju pintu belakang mansion, rupanya ia bermaksud untuk melarikan diri melalui pintu yang ada di belakang bangunan itu.
“Apa kau pikir kau bisa melarikan diri?”
__ADS_1
Suara baritone Jonathan sukses membuat Lidya terlonjak dan menghentikan langkahnya, ia reflek membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sumber suara.
“Kau, siapa kau?” Lidya menatap dengan waspada wajah Jonathan ia mundur beberapa langkah hingga tubuhnya menabrak tembok, wajahnya tampak terlihat pias, bibirnya bahkan bergetar karena ketakutan.
“Aku? Aku adalah kakak ipar Anthonino, pria yang pernah kau fitnah dengan cara menaiki ranjangnya,” jawab Jonathan tanpa basa-basi.
“A-apa maumu? Aku sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan mereka,” ucap Lidya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Mauku? aku rasa cukup jelas, aku datang ke sini untuk mengakhiri permainan kalian."
“Tidak! Jangan seret aku, aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa dalam rencana pembunuhan adikmu itu.”
“Kau menerima misi dari Justin dengan jumlah uang cukup besar, bagaimana mungkin kau menyebut dirimu tak terlibat?”
“A—aku....” Lidya tak mampu menyelesaikan ucapannya.
“Kau bisa buktikan ucapanmu di pengadilan, di luar polisi menunggumu untuk menangkapmu.”
“Aku bersungguh-sungguh, aku tidak tahu apa-apa.” Lidya mulai meneteskan air matanya. Ia berada di mansion ini karena Justin masih menginginkan tubuhnya. Setelah Anthonino di kabarkan meninggal, Justin tidak melepaskan Lidya. Pria itu justru meminta Lidya tinggal bersamanya di mansion itu untuk menjadi simpanannya.
“Tolong jangan libatkan aku,” pinta Lidya dengan nada memohon.
Mendengar itu Jonathan menaikkan kedua alisnya. “Nona Lidya yang cantik, aku tidak bisa memutuskan karena bagaimanapun kau telah melakukan kesalahan. Kau bisa menyerahkan dirimu kepada pihak berwajib, kau bisa menjelaskan sendiri dia sana. Selanjutnya kau harus melakukan klarifikasi bahwa kau telah melakukan fitnah kepada Anthonino, itu penting untuk membersihkan namanya. Maka pihak kami pasti akan membantumu dengan syarat kau tidak akan pernah lagi hadir dalam keluarga kami.”
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️
__ADS_1