
VOTE DENGAN POIN NOVEL INI, DENGAN KOIN JUGA BOLEH.
JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI SAYANG POIN BUAT VOTE!
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
“Ayo kita ke Studio,” ajak Crystal.
Keiko mendengus menyaksikan keakraban suaminya bersama Crystal, ia merasa benar-benar diacuhkan.
“Uncle Nino tidak tahu di mana letak studio. Crystal kau bersama Aunty saja, lagi pula Uncle tidak bisa bermain piano,” kata Keiko terdengar tidak senang.
Anthonino hanya tersenyum mendengar ejekan Keiko.
“Aku bisa menunjukkan ruangannya.” Crystal menarik jemari Anthonino dengan penuh semangat. Pria bertubuh tinggi itu meluruskan kakinya untuk mengikuti langkahnya kecil kaki Crystal yang berlarian sambil terus menggenggam jemari Anthonino.
Anthonino dengan lembut meraih telapak tangan Keiko dan membawanya istrinya berjalan beriringan menuju ruangan yang disulap menjadi studio mini di dalam rumah tempat tinggal orang tua Keiko. Tempat itu adalah tempat yang dibuat khusus oleh Naoki untuk menunjang bakat Keiko sejak kecil.
“Uncle, mainkan satu lagu untukku,” kata Crystal.
“Crystal, Uncle Nino tidak bisa bermain piano.” Keiko terus meyakinkan Crystal bahwa hanya dirinya yang bisa memainkan piano.
Anthonino hanya tersenyum. Pria tampan itu membuka tutup piano dan duduk dengan manis di kursi. Crystal tanpa malu-malu telah naik dan duduk di atas pangkuan Anthonino. Jemari panjang Anthonino mulai menekan tuts piano, ia mulai memainkan sebuah lagu. Sebuah piano solo Mozart mengalun indah.
Gerakan Anthonino begitu santai dan luwes seolah piano bukan sesuatu yang asing baginya. Tentu saja Keiko terperangah, ternyata suaminya cukup piawai memainkan piano meskipun lagu itu adalah lagu yang dimainkannya hanya lagu standar musik-musik yang tidak terlalu rumit dan yang biasa dimainkan oleh para pemula.
Keiko mendengarkan dengan saksama lagu yang dimainkan oleh suaminya, ketika lagu berakhir Keiko bertekuk tangan memberikan apresiasi.
“Kau ternyata bisa memainkan piano, kau tidak pernah memberitahuku.” Keiko melayangkan protesnya.
“Kau tidak pernah bertanya cintaku,” Anthonino meraih pinggang Keiko mengurangi jarak di antara mereka.
__ADS_1
“Tetapi di bagian tengah melakukan beberapa kesalahan, seharusnya D minor bukan D mayor.”
Mata biru Anthonino menatap mata coklat milik Keiko. “Sepertinya aku harus mengasah kemampuan kembali. Setelah sepuluh tahun atau lebih aku tidak pernah menyentuh piano, aku baru saja menyentuh piano kembali saat menunggumu datang untuk melamarmu.”
Keiko menyeringai, “kau mencari alasan. Kau memang tidak berbakat memainkan piano.” Keiko enggan mengakui bahwa sebenarnya permainan suaminya cukup baik.
“Benarkah? Bagaimana jika aku mengisi waktu luangku di sini dengan belajar piano dan kau sebagai gurunya?”
“Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan memberikan ilmuku kepadamu secara cuma-cuma,” kata Keiko di selingi tawa renyah.
“Kalau begitu aku akan membayarmu sebagai guru lesku bagaimana?” Anthonino menaikkan kedua alisnya.
“Aku tidak bersedia menjadi gurumu,” kata Keiko sambil tertawa renyah kembali.
“Uncle, ayo mainkan satu lagu lagi.” Crystal sedari tadi menekan tuts piano secara acak mulai membuka kembali suaranya, gadis kecil itu begitu manja kepada Anthonino.
“Bagaimana jika Aunty yang memainkannya?” Keiko mencoba memberikan penawaran, sepertinya ia salah mengenalkan Anthonino kepada Crystal. Ia harus secepatnya menjauhkan saingan cintanya yang satu ini.
“Tidak. Aku tidak ingin! Aku ingin Uncle Nino yang memainkan piano.” Crystal keras dengan pendiriannya.
Sepertinya saingan cinta Keiko adalah wanita dari keluarganya, di mulai dari Nameera, ibunya dan sekarang Crystal.
Anthonino mengernyit, tiga wanita yang mengelilinginya hari ini benar-benar luar biasa.
“Baiklah ,” kata Anthonino, “uncle akan memainkan piano dan aunty akan memainkan biola. Bagaimana? Apakah Crystal akan bermain juga?” Anthonino mencium pipi bulat kristal membuat Keiko semakin cemburu.
“Crystal akan bernyanyi,” seru Crystal.
“Tidak,” jawab Keiko cepat. “Kau akan mengganggu konser kami, Crystal kau bisa duduk dengan manis di kursi dan bagaimana jika kau merekam konser menggunakan kamera?” Keiko mencoba menjauhkan gadis kecil itu dari pangkuan suaminya.
Semua wanita yang mencoba merayu suaminya itu tidak bisa dimaafkan, jika di biarkan mungkin saja gadis kecil itu akan terlalu banyak meminta perhatian suaminya.
__ADS_1
Crystal tampak berpikir sebentar. “Baiklah,” jawabnya, ia tampak antusias.
Gadis yang malang. Ia tidak tahu bahwa ia sebenarnya sedang ditipu oleh tantenya sendiri yang menganggapnya sebagai saingan cintanya.
Malamnya mereka makan malam kediaman orang tua Keiko, kakek dan nenek Yamada juga hadir di sana. Mereka makan sembari berbincang-bincang kecil seputar kehangatan keluarga mereka.
Derren dan Olivia juga kebetulan berada di sana, hanya Jonathan dan Tiffany yang tidak hadir, termasuk Kenzo yang masih berada di London menuntut ilmu.
Setelah makan malam usai para pria duduk sambil bermain catur. Anthonino meminta maaf kepada Naoki karena mungkin orang tuanya tidak akan hadir saat pernikahan nanti. Ia dengan tutur kata yang santun menjelaskan kepada ayah mertuanya, siapa dirinya. Siapa wanita yang melahirkannya, dan siapa Innesa tanpa memburukkan ayah kandungnya.
Anthonino juga menceritakan bahwa ayahnya sakit dan terbaring koma selama hampir dua tahun.
Mendengar hal itu tentu saja dengan mengerutkan keningnya apalagi mendengar yang dirawat di dalam rumah bukan di rumah sakit.
“Di rumah?”
“Entahlah ibu tiriku, maksudku ibuku merawatnya sendiri.”
“Apa dokter yang menangani sudah sesuai prosedur?” Derren sebagai dokter tentu saja merasa hal seperti itu tidak di benarkan, merawat pasien koma di rumah adalah hal yang riskan meskipun menurut yang di tuturkan Anthonino ruangannya telah di sulap menjadi selayaknya rumah sakit.
VOTE DENGAN POIN NOVEL INI, DENGAN KOIN JUGA BOLEH.
JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI SAYANG POIN BUAT VOTE!
TAP JEMPOL KALIAN ❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
__ADS_1
FYI : RAMAIKAN JUGA KARYAKU LAURA.
GRUP CHAT NT UDAH AKU BUKA KEMBALI BUAT RUMPI DAN MULUNG POIN, SILAKAN DI RAMAIKAN 🙏🙏