
Samantha, Cathy, Gustavo dan Vicky memasuki club malam. Tetapi, baru saja mereka duduk dan memesan minuman dua orang yang tentu saja dikenal oleh mereka berlima tampak begitu intim menari dan bercumbu di bawah hingar bingar lampu yang menyorot di klub malam itu, di antara dentuman musik yang memakan telinga. Kedua orang itu adalah Nameera dan Justin.
Gustavo mengernyit, Ia tidak menyangka bertemu Nameera kembali di klub setelah ia berusaha keras menghindarinya di pesta pernikahan Keiko dan Anthonino. Tiba-tiba terbersit di pikiran Gustavo untuk mendekati Vicky.
“Vicky.” Gustavo berbisik di dekat telinga Vicky. Sebenarnya bukan berbisik, itu adalah berteriak karena suaranya kalah nyaring oleh dentuman musik di dalam club.
“Ada apa?” Vicky berteriak.
“Kau lihat gadis itu?” Gustavo menunjuk Nameera menggunakan dagunya.
Vicky mengikuti ke mana arah dagu Gustavo mengarah, “namanya Nameera,” kata Vicky memberitahu Gustavo.
“Kau mengenalnya?” Gustavo terkejut.
“Tentu saja, kau ingin berkenalan? Aku bisa membantumu.” Vicky menawarkan bantuannya.
“Dia mantan kekasihku,” kata Gustavo.
“Kau mantan kekasih Nameera? Astaga aku tidak menyangka.” Vicky mengerjapkan matanya beberapa kali karena banyaknya kebetulan di dunia ini, Anthonino yang menikah dengan sepupunya, kakaknya yang menikah dengan Jonathan dan sekarang pria di depannya mengaku mantan kekasih Nameera. sungguh mengejutkan, seperti lingkaran-lingkaran cinta membelenggu keluarga mereka.
“Ya begitulah.” Gustavo menaikkan kedua bahunya.
“Lalu apa peduliku dan juga apa pedulimu? Itu hanya masa lalu,” ucap Vicky dengan nada acuh.
“Maukah kau menjadi kekasihku pura-puraku?”
“Omong kosong,” Vicky sedikit terkekeh.
“Ayolah Vicky,” rengek Gustavo.
“Untuk apa? Kalian tidak ada hubungan lagi jadi menurutku tidak ada gunanya kita bermain sandiwara.” Vicky memutar bola matanya dengan enggan.
“Agar dia tahu aku juga mudah mendapatkan penggantinya,” ujar Gustavo di seringai seringai licik, ia memang menginginkan Vicky sejak pertama kali ia melihat gadis itu.
__ADS_1
“Kau konyol, aku dan Nameera saling mengenal. Aku tidak nyaman, dan ngomong-ngomong usia kita sepertinya terlalu jauh.” Vicky mengejek Gustavo.
“Aku seumur Nino dan kau seumur Keiko, aku rasa tidak masalah.” Gustavo menatap lurus mata Vicky.
“Aku lebih tua beberapa tahun di banding Keiko.” Vicky mengoreksi.
“Kalau begitu kau cocok untukmu,” kata Gustavo penuh percaya diri.
“Kau terlalu percaya diri.” Vicky tertawa ringan ia meraih gelas wiski miliknya dan meminum isinya, tentu saja perasaannya sedikit gugup mendapat bulan dari seorang pria tampan.
“Ayolah Vicky, menarilah denganku.” Gustavo masih terus berusaha.
“Kita baru mengenal dan kau seenaknya saja minta tolong kepadaku. lebih baik minta tolong Samantha atau Cathy,” ujar Vicky sambil menunjuk Samantha dan Cathy yang berada tak jauh dari mereka. Kedua gadis itu sedang menari.
“Tidak. Aku tidak menginginkan gadis Eropa, aku ingin gadis Asia sepertimu.” Gustavo meraih telapak tangan Vicky dan membawanya ke dekat bibirnya kemudian mengecup dengan lembut.
Vicky terkejut, refleks Vicky menarik tangannya namun Gustavo terus memeganginya dengan lembut.
“Gadis Asia terlalu cantik. Aku menginginkan gadis Asia menjadi istriku kelak. Dan kurasa sepertinya kau sangat cocok untukku,” ucap Gustavo ambil mengecup kembali jemari tangan Vicky.
“Omong kosong, kau pandai merayu.” Vicky terkekeh, untungnya lampu di club tidak terlalu terang ia bisa menyebutkan rona merah di pipinya yang putih.
“Jadi bagaimana?” Gustavo menaikkan sebelah alisnya, tatapan matanya tampak begitu menggoda.
“Tidak ada permainan kekasih pura-pura. Oke?”
Gustavo menyeringai senang. “Kalau begitu terus di dekatku jadilah kekasihku sejatiku.”
Baru saja Vicky hendak menjawab, bibirnya telah di segel oleh Gustavo. Ciuman Gustavo begitu lembut, halus memanjakan bibir Vicky. Awalnya Vicky mencoba memberontak namun Gustavo menahan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka membuat Vicky tak kuasa menolak, ia akhirnya menerima ciuman Gustavo dan memutuskan untuk menikmatinya. Anggap saja sebagai bonus karena ia telah lama tidak memiliki hubungan cinta dengan pria mana pun.
Mereka berdua tenggelam dalam ciuman manis cukup lama, ciuman manis tanpa nafsu. “Aku ingin menjadikanmu kekasihku. Beri aku kesempatan,” ucap Gustavo setelah tautan bibir mereka terlepas.
“Apa sudah cukup sandiwara kita?”
__ADS_1
“Aku tidak bersandiwara, aku serius.” Gustavo mengusap bibir Vicky yang basah oleh sisa ciuman mereka menggunakan ujung ibu jari kanannya. Jarak mereka sangat dekat, mata coklat Gustavo menatap dalam mata Vicky yang berwarna hitam bening.
“Kita tidak saling mengenal,” ucap Vicky.
“Kalau begitu ayo kita saling mengenal,” kata Gustavo.
“Gustavo, aku— aku bukan penganut **** bebas. Kita pasti tidak akan sepaham,” kata Vicky.
“Bagaimana jika kita berbicara di tempat yang lebih tenang?” Kali ini Gustavo merasa suara hingar bingar club yang beberapa waktu sebelumnya sangat ia dambakan berubah menjadi tempat yang sangat menyebalkan karena suara yang memekakkan telinga mengganggu percakapannya dengan Vicky.
Sepertinya ia harus membawa ke sebuah lounge atau cafe yang tenang, yang jelas bukan ke dalam kamar hotel yang pasti akan menakuti gadis yang baru saja ia cium. Gadis yang dengan terang-terangan menyatakan menentang pergaulan bebas.
“T—tapi... Bagaimana dengan Sam dan Cathy?”
“Mereka bukan balita. Jangan mengkhawatirkan mereka,” ujar Gustavo sambil melirik sekilas ke tempat di mana Samantha dan Cathy sedang asyik menari bersama beberapa orang pria. Ke dua gadis itu tampaknya sangat menikmati malam mereka.
Vicky mengangguk dan mengikuti langkah Gustavo meninggalkan club itu setelah berpamitan kepada Samantha dan Cathy. Gustavo juga telah membayar seluruh tagihan mereka berempat. Tepat di depan Lift mereka berdua bertemu Philip. Setelah bertegur sapa dan memberitahu di mana Samantha dan Cathy berada mereka bertiga melanjutkan tujuan mereka masing-masing.
Di dalam Club Nameera menyeringai dengan kemenangan, ia melihat Gustavo dan Vicky. Namun, kesombongan telah merasuki jiwanya. Bagi Nameera Gustavo bukan apa-apa karena ia kini memiliki Justin. Ia dan Justin baru saja membuat kesepakatan untuk bersama dan Justin juga menginginkan Nameera berhenti dari pekerjaannya, ia akan membayar seluruh kompensasi untuk Nameera. Tentu saja Nameera senang.
Sementara Keiko dan Anthonino telah kembali ke kamar saat menjelang pukul dua malam kemudian mereka menikmati malam pengantin, mencurahkan kasih sayang di antara geraman dan desahan yang terbalut gairah untuk saling memiliki. Keiko yang pasrah di bawah kendali Anthonino yang malam itu perasaannya di liputi rasa ketakutan akan hadirnya Philip. Rasa takut karena istrinya tidak pernah menyatakan perasaan cinta kepadanya, takut istrinya berpaling darinya. Dan yang pasti Anthonino menyesali mengapa tidak membuat Keiko hamil sejak awal agar ikatan mereka terjalin semakin kuat.
Begitu banyak kesalahan di masa lalu yang harus aku perbaiki.
NAMEERA 🤭 TUNGGU KAU...
MENURUT KALIAN VICKY MAU SAMA GUSTAVO?
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
RAMAIKAN JUGA KARYAKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️
__ADS_1