Married With Pilot

Married With Pilot
Kakak


__ADS_3

TAP JEMPOL SEBELUM MEMBACA PLIS!


Nameera tidak tahu harus pergi ke mana setelah ia membunuh Keiko dan Anthonino, kematian kedua orang tersebut nyatanya tidak membuat Nameera memenangkan permainannya. Ia datang mengemis perlindungan kepada Keiko dan Anthonino, bersandiwara bahwa Justin telah berbuat kasar secara fisik dan verbal yang menyakiti dirinya. Mengusirnya hingga Nameera tidak tahu harus tinggal di mana, memanfaatkan kelembutan hati Keiko yang dengan mudah percaya lalu Keiko berusaha membujuk Anthonino untuk mempercayainya juga.


Ketika Nameera mengatakan tahu di mana Lidya berada dan akan menjemputnya bersama Arima, Anthonino tidak mengizinkannya. Ia mengatakan harus ikut serta, ia ingin membawa sendiri Lidya dan tidak di sangka Keiko bersikeras ingin ikut bersama mereka. Nameera merasa mendapatkan sebuah jackpot. Malam sebelum mereka pergi seorang yang ia bayar dan telah menyamar sebagai salah satu penjaga keamanan mengendap-endap ke atap bangunan mansion di mana helikopter berada untuk mengambil parasut dan mengurangi bahan bakar.


Apa yang telah ia raih nyatanya bukan sebuah kemenangan ia justru menderita kekalahan karena Justin ternyata tidak menginginkan dirinya lagi, pria itu justru mencampakkannya. Pria itu hanya memanfaatkan tangan Nameera untuk melakukan perbuatan keji lalu ia tertawa dan menendang Nameera setelah mendapatkan kemenangan yang seharusnya menjadi miliknya.


Nameera terus mengutuki kebodohan kebodohannya sendiri, ia tidak mengira jika Justin akan melakukan hal itu, membuangnya semudah membuang tisu bekas. Bahkan pria itu tidak sedikit pun memandang Nameera a meski ia tahu di dalam rahim Nameera telah tumbuh janin hasil hubungan mereka. Pria itu memang benar-benar tidak memiliki perasaan.

__ADS_1


Nameera beberapa kali berusaha menghubungi Gustavo, sekarang ia memerlukan Gustavo untuk setidaknya meminta pertolongan. Ia perlu tempat tinggal tetapi sepertinya mantan kekasihnya itu telah memblokir seluruh akses Nameera sehingga ia tidak bisa menghubunginya. Sekarang Nameera benar-benar merasa menjadi wanita yang sangat konyol, bodoh dan tidak berguna.


Nameera berencana pergi ke sebuah negara yang untuk memulai hidup baru untuk melarikan diri. Ya, melarikan diri. Hanya dengan cara itu ia bisa terbebas dari kesedihan dan ketakutannya. Saat ini ia bukan hanya ketakutan atas dosanya tetapi ia juga ketakutan bagaimana nanti jika orang tuanya tahu dirinya telah berbuat jahat. Ia adalah seorang pembunuh, terlebih yang ia bunuh adalah Keiko.


Nameera yakin, ayahnya pasti tidak akan pernah memaafkannya meskipun ibunya mungkin akan akan sedikit memberinya maaf tetapi Nameera yakin ayahnya tidak akan pernah memandangnya lagi. Belum lagi bagaimana ia menghadapi Derren dan Jonathan, kedua kakaknya itu mungkin akan membunuhnya atau akan menjebloskannya ke dalam penjara tanpa berpikir dua kali. Kedua kakaknya itu seolah hanya memiliki adik satu perempuan bernama Keiko.


Air mata Nameera mulai meleleh di pipinya, secercah kesadaran mulai merayapi perasaannya. Seharusnya ia tidak perlu memelihara rasa iri dan dengki di dalam hatinya. Seharusnya ia tidak perlu memikirkan apa yang didapatkan Keiko meski ia memang menyukai Anthonino seharusnya ia bisa merelakan Anthonino untuk Keiko. Seharusnya ia berpikir sehat Bukan dikendalikan oleh hawa nafsunya. Sekarang semuanya telah terlanjur terjadi, ia tidak mendapatkan apa pun dari hasil perbuatannya jahatnya.


Setelah membulatkan tekadnya dalam beberapa detik ia segera menutup kopernya kemudian ia mengusap layar ponselnya bermaksud untuk memesan tiket pesawat tetapi tiba-tiba bel pintu kamarnya berbunyi, jantung Nameera seakan berhenti. Menjadi seorang pembunuh ternyata sangat mengerikan karena selama ini ia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang. Ia merasa ketakutan bahkan jika hanya bunyi dari ponselnya sendiri dan sekarang bunyi dari bel pintu yang sangat jelas terdengar dan di telan beberapa kali. Perlahan Nameera mendekati pintu dan menempelkan matanya melalui lubang pintu.

__ADS_1


Darahnya seperti berhenti mengalir karena ia melihat dua orang pria yang tampak berperawakan tinggi besar seperti bodyguard berdiri di depan pintu kamar hotelnya.


“Sial! Apakah aku akan tertangkap? Tamatlah riwayatku! Kejahatanku terungkap!” gumam Nameera.


Nameera ragu-ragu menyentuh gagang pintu kamar, ia berbalik ke arah jendela dan melihat keadaan. Ia tinggal di lantai lima dan sayangnya tidak ada jalan untuk keluar karena jendelanya ternyata tidak bisa di geser. Menemui jalan buntu, Nameera berjalan kembali ke arah pintu. Perlahan ia membuka pintu bagaimanapun tidak ada pilihan selain menghadapi semuanya. Jika memang ia harus menyerahkan diri kepada pihak berwajib maka ia akan menyerahkan dirinya dia akan menyeret Justin nanti karena bagaimanapun ia tidak ingin membusuk di penjara sendirian. Dalang dari semua ini juga harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Saat pintu kamar terbuka, Nameera takjub melihat siapa yang berada di depannya karena bodyguard itu mereka tidak datang berdua melainkan mereka bertiga. Pria ketiga adalah Derren Tjiptadjaja kakak pertamanya.


“Kakak...,” gumam Nameera.

__ADS_1


“Apa kabarmu Nameera?” nada suara Derren terdengar sangat dingin bahkan tatapannya mampu membekukan tubuh Nameera.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️


__ADS_2