Married With Pilot

Married With Pilot
Stalker


__ADS_3

Mereka telah tiba di lantai paling atas sebuah bangunan tinggi yang tampak begitu Mencolok, Keiko terkagum kagum dengan apa yang ia lihat, bukan hanya pemandangan yang indah kota New York yang bisa di lihat dari kaca namun juga interior dan furniture yang ada di dalam ruangan.




Dari sudut mana pun tempat tinggal itu sangat sempurna, luasnya mungkin seluas satu gedung itu.


“Cintaku apa kau menyukainya?” tanya Anthonino.


“Tempat ini sangat indah” kata Keiko seraya mengangguk.


“Kau lebih suka tempat ini atau mansion kita di Moscow?”


“Aku suka keduanya.”


“Kalau begitu keduanya menjadi milikmu,” kata Anthonino sambil memeluk Keiko dari belakang, menciumi pucuk kepala istrinya, menghirup aroma manis parfum yang selalu dikenakan istrinya. Wangi manis Strowberry, sedikit kekanakan memang.


Keiko justru tertawa ringan mendengar perkataan suaminya.


“Hubby kau benar-benar pria bermulut manis.”


Anthonino tidak menanggapi ucapan Keiko, gadis yang kini menjadi istrinya benar-benar menggemaskan dan membuatnya ingin melakukan yang terbaik untuk membahagiakannya.


“Ayo mandi, pelayan sudah menyiapkan air untuk kita,” kata Anthonino setelah beberapa saat mereka terlarut dalam keheningan.



“Aku tidak menyangka, aku menikahi pria yang sangat kaya,” kata Keiko dengan nada bercanda ketika mereka masih berada dalam bath tube seusai melakukan ritual panas mereka.


“Dan aku juga tidak menyangka bisa menikahimu, seorang super model putri dari keluarga Yamada yang sangat hebat, penguasa teknologi di Jepang,” kata Anthonino sambil mengecupi punggung Keiko, “mulai sekarang aku akan membawamu kemanapun aku pergi.”


“Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?”


“Kita akan pikirkan bersama nanti cintaku.”


Mata mereka kembali beradu, cukup lama dan begitu dalam, namun kali ini berakhir dengan Anthonino mengecup lembut bibir Keiko. Tanpa nafsu, hanya kasih sayang.


Setelah mandi dan makan malam mewah yang di siapkan oleh para pelayan di pent house itu, Keiko duduk sambil memainkan tuts piano yang ada di ruangan itu, sepertinya ia kini memiliki banyak piano, bayangkan betapa bahagianya Keiko, ia tetap bisa bermain Piano di mana pun ia berada, ia tak perlu takut tinggal di New York terlalu lama ataupun di Moscow, ia tak harus buru buru kembali ke London atau Tokyo hanya karena khawatir jemarinya kaku terlalu lama tidak menyentuh tuts Pianonya.


Keiko memainkan lagu "Who's want fall in love"


Jari jemarinya begitu lincah dan gemulai menekan tuts pianonya, ia bahkan tampak begitu menghayati setiap nada nanda yang tercipta dari sentuhan tangannya.


Keiko telah bertahun tahun menyentuh tuts piano, sejak kecil ia bergelut dengan piano. namun ia tak pernah mendapatkan kepuasan, seperti halnya saat ia berjalan di atas cat walk.


Ia merasa berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, pandangan mata orang-orang di bawah panggung yang melihat ke arahnya dengan tatapan kagum tidak membuatnya puas.


Dan pianonya ia merasa setiap kali memainkannya ia merasa meskipun musiknya mampu menyentuh hati semua orang yang menyaksikan performanya namun ia masih mencari sesuatu yang belum mampu ia sentuh.


“Granddad aku merasa ada sesuatu yang belum aku sentuh setiap kali memainkan pianoku,” keluhnya pada master Edward hampir setiap ia telah menyelesaikan permainannya.


“Suatu saat kau akan menemukan yang kau cari, ia akan datang sendiri padamu,” kata kakeknya master Edward.


“Apa itu granddad?"


“Kau akan menemukannya nanti, jika kau merasakan jantungmu terasa berdeba,r dan kadang juga terasa sakit seperti di remas.”


Sampai saat ini ia masih mencari, apa itu makna dari kata-kata kakeknya.

__ADS_1


Jantungnya sering berdebar ketika mengingat dan menatap mata biru Anthonino, sejauh ini hanya itu yang ia tahu. Jantungnya tidak normal jika berada di dekat pria itu dan jika menatap matanya jantungnya berdebar 10 kali lipat lebih cepat.


Tiba-tiba ia menghentikan permainan pianonya dan pergi menuju jendela, memandang langit New York di malam hari. Anthonino yang semula berdiri di samping Keiko yang memainkan pianonya mengerutkan kening melihat perubahan emosi Keiko yang tiba tiba.


“Kenapa sayang? Apa ada sesuatu mengganggu pikiranmu?”


Keiko tergagap, ia melakukan semua di luar kesadarannya.


Ia tak berani memandang Anthonino, ia hanya menggelengkan kepalanya.


Pernikahan mereka hanya main-main, pernikahan konyol ciptaan Keiko yang terobsesi menikah muda dan memiliki putri yang lucu.


‘Bodoh sekali,’ rutuknya pada diri sendiri dalam hati.


Apalagi ia sekarang merasa tidak bisa jauh dari pria ini, pria bermulut manis itu sangat kaya ia pasti banyak memiliki wanita, dan pastinya juga banyak wanita menginginkannya, Keiko tidak sanggup jika harus bersaing, pria kaya seperti itu pasti dengan mudah akan membuangnya, menggantinya, mencampakkannya.


Pasti ia akan di buang jika saatnya tiba, sedangkan perasaannya mungkin akan tumbuh dan ia bisa saja jatuh cinta pada suami mainannya ini.


“Aku mengantuk,” kata Keiko. "Antarkan aku ke kamar," pintanya.


‘Ah bodohnya kenapa bersikap seperti ini?’ batin Keiko merutuki sikapnya yang terlihat bodoh di depan Anthonino.


“Sayang?” Anthonino memeluknya dari belakang, “Apa aku salah bicara?” mereka telah berada dindalam kamar.


“Aku hanya rindu pada keponakanku,” Keiko beralasan sebaik mungkin.


“Di mana dia?” Anthonino membelai rambut di kepala Keiko.


“Dia di Tokyo,” jawab Keiko singkat.


“Ayo kita pergi ke Tokyo sekarang.”


Ya tuhan...!


“Kenapa? Kau rindu Crystal bukan? Aku juga ingin melihatnya.”


Keiko memalingkan wajahnya ke samping untuk memandang wajah Anthonino, ia tak mampu menyembunyikan tawanya.


“Kenapa tertawa?” Anthonino tidak mengerti apa yang di tertawakan Keiko.


“Kau lucu sekali,” Keiko terkekeh


“Kenapa aku lucu?” Athonino masih tampak bingung.


“Kau seolah-olah pernah melihatnya.”


“Aku sering melihatnya, kau sering sekali memamerkannya di media sosialmu.”


Keiko mengerutkan keningnya, ia memalingkan tubuhnya menghadap Anthonino.


“Kau stalkerku?” bukankah mereka baru mengenal? dari mana pria ini tahu ia sering memamerkan Crystal di media sosialnya?


Anthonino menatap Keiko, ia menyembunyikan kegugupannya karena ia baru saja dengan tidak sengaja membongkar aib miliknya sendiri, jantungnya berdegup kencang, perasaan seperti ini sangat mengganggunya, setiap kali bola mata mereka beradu Anthonino selalu merasa degup jantung miliknya sungguh menyiksa.


“Benar kan?”


“Menurutmu?” Anthonino mengangkat sebelah alisnya, memasang ekspresi datar menyembunyikan kegugupannya, bagaimanapun ia manusia biasa, ia juga memiliki perasaan gugup.


“Apa akunmu?” tanya Keiko.

__ADS_1


“Cintaku, aku tidak punya media sosial.”


“Berikan ponselmu.” pinta Keiko sambil menatap curiga suaminya.


“Sayang ponsel itu privacy.”


“Aku istrimu hubby, aku berhak memeriksa ponselmu.” kata Keiko dengan nada suara sedikit genit.


Terpaksa megalah, Anthonino memberikan ponselnya pada Keiko.


“Kode akses?” Keiko bertanya.


“Tanggal lahir istriku.”


“Sejak kapan?”


“Sejak kau resmi menjadi Mrs. Petrav,” bisik Anthonino di telinga Keiko, “kau juga harus mengganti kode akses ponselmu dengan tanggal lahirku.”


Keiko tertawa ringan, “aku tidak tahu tanggal lahirmu, kau tidak terkenal,” ejeknya.


“Aku akan daftarkan namaku di Google dan Wikipedia, lalu lihat seberapa tenarnya aku dalam hitungan detik.” kata Anthonino dengan nada sombong.


“Kau sombong sekali,” gerutu Keiko sambil mengulurkan ponselnya memberikan pada Anthonino, “tanggal lahir Crystal,” ia memberi tahu kode akses ponselnya pada Anthonino untuk mengganti kode aksesnya.


Keiko tertawa terbahak-bahak ketika membuka akun media sosial milik Anthonino,


“Kau menamakan akun media sosialmu sweet.strowberry? Ya tuhan kekanakan sekali.”


Tidak ada pengikut, dan juga hanya 1 orang yang di ikutinya, Yamada Keiko.


Anthonino tampak tersenyum malu, sementara Keiko masih menyunggingkan senyum mengejek di wajahnya.


“Sejak kapan kau jadi stalkerku?” tanya Keiko dengan nada menggoda.


“Sejak kau batal menikah,” jawab Anthonino berbohong. Tentu saja sejak lama, sejak ia ditubruk seorang gadis kecil di London!


Mereka telah menyingkirkan kecanggungan yang sempat membelenggu keduanya, berubah menjadi candaan-candaan kecil dan tawa riang. Bahkan mereka saling lempar bantal, lalu menonton drama romantis di televisi dan akhirnya mereka terlelap dengan posisi saling berpelukan.


Pagi hari setelah membersihkan tubuhnya Keiko menjawab panggilan dari Nameera.


“Kei apa kau berada di New York?” tanya Nameera yang mengetahui Keiko berada di New York dari postingan di media sosial Keiko.


“Iya aku ada pekerjaan, apa kau juga berada di sini?”


“Ya, aku di New York, Kei maaf aku tidak hadir waktu kau.... maksudku...”


“Oh lupakan kejadian itu Nameera, tidak masalah,” jawab Keiko.


“Kei di hotel mana kau menginap? Bisakah kita bertemu?” Nameera bertanya.


Photo property by Google


TEMAN TEMAN JANGAM LUPA YAH VOTE AUTHOR YANG TIDAK BERBAKAT INI 😙😙😙😙


JANGAN LUPA TAP JUGA JEMPOL DAN TINGGALKAN KOMEN KALIAN 😚😚😚😚


TERIMA KASIH 😙😙😙


SELAMAT MENIKMATI HARI LIBUR 😉😉😉 AYO CERITAKAN ACARA LIBUR KALIAN DI KOLOM KOMEN 😍

__ADS_1


__ADS_2