
Setelah membersihkan diri, Keiko naik ke atas tempat tidur yang kosong, suaminya entah berada di mana, Keiko bahkan kembali ke tempat tinggal mereka hanya di temani Sarah dan Lelya di dalam Limousine. Tidak ingin menyiksa pikirannya, keiko mulai memejamkan mata dan tertidur karena lelah.
Keesokan paginya saat Keiko terbangun tidak ada jejak suaminya tidur di sampingnya.
“Sarah apa kau melihat suamiku?” tanya Keiko pada Sarah, asisten keduanya saat ia memasuki ruang makan.
“Suamimu berangkat bekerja pagi-pagi sekali,” Sarah menjawab sambil mengambilkan Keiko segelas air putih.
“Apa ada masalah penting di perusahaan?” guman Keiko.
“Ada apa Kei?” tanya Sarah dalam bahasa Jepang.
“Tidak,” jawab Keiko sedikit linglung.
Bahkan sepanjang hari pria itu tidak membalas pesan Keiko, semua pesan yang Keiko kirimkan hanya di baca tanpa dibalas.
Keiko mulai merasa cemas dan kesal, pria itu pasti akan meninggalkannya! Mungkin tadi malam di pesta ia menemukan gadis lain yang akan menggantikannya menghangatkan ranjangnya. Pria itu pasti telah bosan dan akan segera menceraikannya bahkan ini baru satu bulan dan ia akan di buang, berbagai prasangka buruk mulai merayapi pikiran Keiko membuat hatinya terasa terpotong, Keiko mulai menangis, ia takut kehilangan pria bermata biru itu, ia takut di tinggalkan, ia takut di campakkan. Jantungnya bahkan terasa amat sakit, seperti membengkak.
Keiko mondar-mandir di kamarnya, ia berulang kali melihat ke ponselnya untuk mengecek balasan pesan yang ia kirimkan. Ia juga berulang kali melihat jam digital di atas meja kamar, sudah jam 11 malam dan suaminya belum juga kembali, dengan ragu-ragu ia menekan nomer ponsel Anthonino, hingga dering ketiga pria itu tetap tak menjawab panggilan Keiko.
Akhirnya keiko menyerah.
Ia menyimpulkan pria itu telah bosan kepadanya, air matanya mulai tergelincir lagi dari kelopak matanya, ia membiarkan air matanya terus mengalir, menikmati sakit di hatinya telah di campakkan 2 pria dalam waktu berdekatan. Setelah merasa puas dengan tangisannya Keiko dengan gontai ia menuruni tangga, bermaksud menuju kamar asistennya untuk meminta mereka mengemasi barang dan pergi dari tempat itu, namun di tengah tangga ia justru berpapasan dengan Anthonino, Keiko segera membuang pandangannya.
“Aku akan kembali ke London malam ini juga,” kata Keiko dengan suara bergetar, sekuat tenaga ia mengumpulkan keberaniannya hanya untuk mengucapkan kalimat pendek itu.
“Kau memang lebih memilih laki-laki yang meninggalkanmu di depan altar itu,” jawab Anthonino dengan nada dingin, rahangnya bahkan terlihat mengeras.
Keiko mengerutkan keningnya mendengar jawaban suaminya, “Philip?” gumannya.
“Jangan pernah sebut nama kekasihmu itu di depanku,” kata Anthonino dengan nada dingin sambil hendak berlalu pergi.
“Jadi kau marah karena aku berbicara pada Philip?” tanya Keiko sambil membalikkan badannya, “berapa umurmu? Oh astaga,” ejek Keiko.
Tiba-tiba Keiko merasakan tubuhnya di tubruk dan di bawa ke dalam dekapan Anthonino, pria itu menciumi bibirnya dengan lapar dan sedikit kasar, “kau tidak mengerti betapa kesalnya aku,” geramnya ketika tautan bibir mereka terlepas dan tubuh Keiko telah berada dalam gendongan Anthonino, mereka menuju kamar lalu mendudukkan Keiko di atas meja riasnya. Sementara Anthonino berdiri di depan Keiko dengan posisi berhadapan, cukup dekat dan intim.
“Kenapa kau marah?” tanya Keiko.
“Tentu saja aku tidak suka istriku berbicara dengan pria lain, aku telah memperingatkanmu tapi kau tidak patuh,” jawab Anthonino dengan nada kesal.
“Kau membuatku takut,” keluh Keiko.
Anthonino memandangi wajah istrinya, mata Keiko masih tampak sembab ada jejak air nata yang telah mengering di wajahnya.
__ADS_1
“Kau menangis?" tanya Anthonino.
"Aku tidak!"
"Kau menangisiku?"
“Kau terlalu besar kepala, aku tidak menangisimu!” Keiko memukul pundak suaminya dengan pelan.
“Katakan sejujurnya,” desak Anthonino dengan tatapan memaksa, mata birunya seolah membuat Keiko tak mampu berlari lagi.
“Aku takut kau bosan padaku, aku takut kau meninggalkanku, aku takut....” kata Keiko, bibirnya bergetar.
Anthonino segera menyegel bibir ranum itu, kembali memagutnya penuh perasaan, decapan-decapan penuh hasrat serta erangan erangan halus terlepas dari bibir Keiko.
Perasaan Anthonino sangat bahagia, gadis kecilnya sepertinya telah mulai jatuh cinta padanya, gadis lugu yang berada di dalam dekapannya ini menangisinya, takut kehilangan dirinya.
“Bantu aku memadamkan api amarahku sayang,” geram Anthonino ketika ciuman di bibir mereka terlepas.
“Ba.. bagaimana caranya?” Keiko ragu-ragu bertanya.
“Ayo bercinta,” bisik Anthonino dengan suara parau.
“Tapi masa periodeku belum habis.”
“Shit...!” geram Anthonino, “ada cara lain sayang,” seringai Anthonino.
“Aku akan mengajarimu, di kamar mandi,” kata Anthonino penuh semangat, memiliki istri yang polos dan lugu benar-benar memberikan sensasi berbeda. Setelah Anthonino membersihkan tubuhnya ia mengajarkan Keiko menyervis dirinya, Keiko berjongkok di depan Anthonino dan melakukan blow job pertamanya.
Ragu ragu Keiko mulau melakukan pekerjaan itu.
“Bayangkan kau sedang memakan lolipop sayang.”
“Jangan kena gigimu sayang....”
“Ya itu, begitu...”
“Ahhh damn it! kau sangat nikmat Keiko--, Istriku--,cintaku.”
Dan racauan-racauan lain hingga Anthonino memuntahkan cairan cintanya di dalam mulut Keiko, dengan sigap tidak dibiarkannya Keiko memuntahkan cairan itu, Anthonino membekap bibir Keiko dengan bibirnya hingga cairan di dalam mulut keiko habis tertelan olehnya.
Wajah keiko memerah, Anthonino tentu saja menyeringai senang.
Setelah semua masalah teratasi, pasangan itu merebahkan tubuh mereka di atas ranjang saling berpelukan mesra, merasakan setiap debaran jantung yang memenuhi rongga dada masing-masing.
__ADS_1
“Hubby--” panggil Keiko.
“Iya cintaku.”
“Jangan lagi mengabaikanku, aku takut,” kata Keiko pelan.
“Maafkan aku, aku mengabaikanmu karena aku takut menyakitimu, aku sangat marah melihatmu berbicara terlalu lama dan begitu dekat dengan Philip.”
“Dia hanya temanku, lagi pula aku tidak pernah...” Keiko menggantungkan kalimatnya.
“Tidak pernah apa?”
“Lupakanlah,” kata Keiko.
“Cintaku, selama kau menjadi istriku, kau harus tahu, aku adalah pria posesif.”
“Apa kau memiliki kekasih?” tanya Keiko tiba-tiba.
“Sayang, aku harap kau tidak takut padaku jika aku mengatakan ini,” kata Anthonino.
Keiko memandang wajah suaminya, “apa kau banyak memiliki kekasih?” Keiko bertanya dengan tatapan waspada.
“Aku memiliki banyak sekali mantan teman kencan, aku bukan pria yang suci, tapi aku hanya memiliki 1 orang mantan kekasih, kau jangan risau padanya, dia telah tiada di dunia ini.”
Keiko menatap dalam-dalam mata suaminya
“Selama kita bersama, aku jamin, kaulah istriku satu satunya.”
Keiko hanya mengangguk, ‘selama menjadi istrinya, ya selama ia belum melahirkan’ batin Keiko pahit, ia hanya akan sementara menjadi milik pria ini, setelah hamil dan melahirkan tentu saja semuanya akan berbeda.
“Aku tahu kau ragu padaku, tidak apa-apa aku mengerti, jangan pikirkan lagi,” keta Anthonino dengan nada lembut.
Hening sejenak, hanya terdengar suara nafas dan detak jantung mereka masing-masing di telinga mereka, Anthonino mempererat dekapannya di tubuh Keiko, mengecup rambut di kepala istrinya.
“Cintaku, kenapa kau takut aku meninggalkanmu?” tanya Anthonino.
“Aku belum hamil, kau harus tepati perjanjian kita,” jawab Keiko dengan nada sedikit ketus, meski bukan itu yang sesungguhnya ia rasakan sekarang, namun hanya itu yang mampu untuk ia ucapkan.
Anthonino hanya terkekeh pelan sambil menghujani kepala Keiko dengan ciuman yang bertubi-tubi, kemudian membiarkan kepala Keiko berada di dadanya hingga mereka berdua sama-sama terlelap.
AUTHOR MAU SUAMI KAYA NINO 😢😢
SELAMAT HARI SENIN BUAT KALIAN YANG MASIH SEKOLAH, KULIAH DAN BEKERJA 😚😚😚
__ADS_1
BUAT IBU IBU KAYA AUTHOR JUGA SELAMAT HARI SENIN 😂😂😂 POKOKNYA SELAMAT HARI SENIN SEMUA 😅😅😅😅
JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA YA 💖💖💖💖