Married With Pilot

Married With Pilot
Permainan berakhir 1


__ADS_3

TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLIS!


"Namaku Justin Vashenca,” jawab Justin. Nadanya terdengar sedikit sombong.


“Oh, Justin Vashenca. Kenapa kau tidak memiliki nama Petrav di belakang namamu?” Jonathan bertanya dengan nada suara mengejek yang nyata.


“Aku putra angkat di keluarga Petrav, ayah kami tidak bersedia memberiku nama. Dia sangat tidak adil,” kata Justin. Tentu saja ia sedang bersandiwara karena ia sendiri tahu siapa ayah biologisnya.


Jonathan hanya menanggapi dengan dingin ucapan Justin, ia menaikkan sebelah bahunya. “Aku adalah kakak ipar Anthonino, kau tentunya tahu. Aku adalah suami dari Zhao Tiffany. Zhao Tiffany adalah putri pertama Zhao Daniel, dan Zhao Daniel adalah saudara kandung Zhao Tania yang merupakan ibu kandung Anthonino Mikhayla Petrav.” Jonathan sengaja berputar-putar menjelaskan silsilah keluarga Anthonino.


Sementara Justin bersikap masa bodoh atas apa yang di ucapkan Jonathan. Baginya siapa saja keluarga Anthonino sama sekali tidak penting, yang paling penting adalah bagaimana menjauhkan Jonathan dan merayu pria tua yang datang bersamanya.


Bibir Justin mengulas sedikit senyum saat Jonathan menyelesaikan kalimatnya. “Jadi apa tujuanmu jauh-jauh datang dari Tokyo ke sini? Aku yakin pasti ada sesuatu yang sangat penting,” tanyanya.


Jonathan menggerakkan kakinya, gayanya begitu santai dan sedikit kurang sopan sebagai seorang tamu. “Ya, begitulah. Kau rupanya sangat pengertian. Aku datang untuk urusan yang sangat penting.” Jonathan menjeda kalimatnya sebentar. “Sebelumnya aku kenalkan beliau adalah Tuan Alderaan, pengacara pribadi keluarga Petrav.” Katanya.


Justin mengangguk sopan meski ia diam-diam melirik Aldeeran dengan lirikan mata yang menyiratkan kekesalan. Tentu saja ia kesal karena telah beberapa kali menghubungi pria tua itu tetapi pria tua itu terus saja menghindarinya dan sekarang tiba-tiba muncul bersama Jonathan.

__ADS_1


Aldeeran membuka tas harganya kemudian pria itu mengeluarkan sebuah berkas di dalam amplop yang berwarna coklat, ia mulai membacakan isinya dengan hati-hati. Isi dari dokumen yang ia baca adalah pada intinya bahwa kekayaan milik Feliks Petrav adalah Anthonino Mikhayla Petrav, kemudian bila di suatu hari Anthonino meninggal dan tidak memiliki keturunan maka seluruh kekayaan akan diberikan kepada Zhao Daniel yang merupakan saudara kandung Zhao Tania.


Mendengar apa yang di baca oleh Aldeeran, Justin nyaris kehilangan keseimbangannya. Pantas saja Aldeeran terus saja menghindar darinya ternyata pengacara itu sedang menunggu waktu. Ia juga tidak menyangka jika surat warisan itu benar-benar kejam tidak memperhitungkan kehadirannya maupun Innesa. Ternyata benar kata Innesa ibunya jika Feliks memang tidak karena menganggap istrinya ada. Benar jika Feliks memang berselingkuh dari Innesa.


Justin diam-diam menghela napasnya yang terasa berat, batinnya bergoak. Tetapi, ia masih berusaha bersikap tenang dan menyembunyikan keterkejutannya. “Kalau begitu di mana Zhao Daniel berada? Mengapa ia tidak datang sendiri ke sini untuk meminta warisan ayahku?”


Mendengar pertanyaan Justin, Jonathan menipiskan bibirnya. “Aku adalah satu-satunya menantu di keluarga Zhao sekarang dan ayah mertuaku sendiri yang meminta aku untuk mewakilinya,” jawab Jonathan.


“Di dalam berkas wasiat itu tidak ada pernyataan jika pengalihan warisan boleh di wakilkan,” jawab Justin. Ia sedikit menyipitkan matanya seolah menantang Jonathan.


“Kau bukan Zhao Daniel kau tidak berhak mengomentariku apa lagi mengambil alih posisiku,” kata Daniel dengan nada sedikit meninggi.


“Aku hanya mengambil kepemimpinan untuk sementara, tidak ada yang berkata aku akan mengambil warisan ini. Kenapa kau begitu takut?” Jonathan mengejek Justin, bahunya bahkan terguncang karena menahan tawa.


Justin semakin memicingkan kedua matanya, rahangnya tampak mengeras. “Kau tidak memiliki bukti apa pun,” ucapnya.


Jonathan menurunkan satu kakinya, kedua sikunya bertumpu di lututnya. Ia memberikan kode kepada Aldeeran, pria itu mengeluarkan secarik kertas.

__ADS_1


“Ayah mertuaku memberikan surat kuasa kepadaku, lengkap dengan tanda pengenal asli. Apa kau masih memerlukan bukti kuat lagi? Aku memiliki hak untuk mengurus perusahaan ini, jadi dengan kata lain perusahaan ini telah jatuh ke tanganku secara mutlak dan kau harus pergi saat ini juga dari sini,” kata Jonathan dengan nada angkuh yang tidak di buat-buat. Ia sangat murka kepada Justin yang berniat untuk membuat adiknya menjadi janda.


Merasa posisinya terdesak Justin berusaha menyelamatkan posisinya. “Omong kosong apa ini? Aku bahkan telah bekerja mati-matian selama adik sialanku itu meninggal, bagaimana mungkin aku bisa di tendang begitu saja dari sini,” ucapnya dengan nada meninggi.


Jonathan mulai kehilangan kesabarannya karena Justin mulai berbelit-belit. “Aku memiliki seluruh bukti sah, aku juga memiliki surat kuasa dan saksi. Jika kau masih memaksa ingin tinggal di sini silakan saja kau akan berurusan dengan hukum. Kau bukan siapa-siapa, di sini tidak memiliki jabatan karena sejak hari ini kau kupecat! Oh iya, persiapkan dirimu karena Nameera kekasihmu itu telah membuka mulutnya tentang semua perbuatannya yang di stir olehmu, kupastikan bung, kau tidak akan pernah bisa lepas! Kau harus menjalani hukuman karena berusaha membunuh adikku juga berusaha membunuh adikmu sendiri,” kata Jonathan dengan nada penuh penekanan.


Ia segera memberikan kode melalui ponselnya dan beberapa detik kemudian gerombolan pria mengenakan seragam polisi segera meringkus Justin dan menghiringnya keluar dari ruangan itu menuju lantai dasar.


Justin mengira rencananya telah berjalan mulus, semuanya ternyata tidak seperti yang ia harapkan. Ia terlena dengan kemenangan yang di anggap telak, ia menganggap dirinya telah sukses meminjam tangan Nameera untuk menyingkirkan semua penghalang. Tetapi wanita itu justru dengan mudah membalas dendam kepadanya, andai ia tahu bahwa Nameera akan dengan mudah membelot, Justin tidak akan mengusut Nameera. Setidaknya untuk melindungi dirinya dari jeratan hukum meski ia tidak mendapatkan perusahaan.


“Sayang sekali, permainanmu cepat sekali berakhir,” ucap Jonathan sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana kain yang di kenakannya dan berjalan melewari Justin dengan tangan yang di borgol di saksikan oleh ratusan mata karyawan yang saling berdesak-desakan menyaksikan adegan penangkapan CEO baru mereka di depan pintu utama gedung.


Bagaimanapun juga tidak ada perbuatan yang tidak harus di pertanggungjawabkan. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai kelak. Cepat atau lambat.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️❤️


🍒🌸

__ADS_1


__ADS_2